
Rakha masih kelimpungan mencari keberadaan Khay. Berkali-kali ia menghubungi ibunya namun tak juga di angkat. Sebelum pergi ibunya berpesan agar Rakha tidak perlu panik. Ibunya meyakinkan jika gadis pujaan hati Rakha akan baik-baik saja.
Namun tetap saja Rakha masih tidak tenang sebelum ia mendapat kepastian dari ibunya. Rakha memang tidak tahu jika ibunya adalah seorang agen rahasia. Tentu saja seorang agen harus menutup rapat-rapat identitasnya.
Rakha mondar mandir didalam kamarnya. Ia tidak bisa memejamkan matanya meski hari sudah mulai larut. Kemudian tiba-tiba...
Tok
Tok
"Nak... Apa kau belum tidur?" suara Liana membuat Rakha langsung berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Ibu..." Mata Rakha berbinar melihat Liana datang ke kamarnya.
"Kau benar-benar belum tertidur?" tanya Liana sambil menepuk bahu Rakha.
"Mana bisa aku tidur jika Khania belum ditemukan. Bagaimana? Apa teman ibu berhasil menemukan Khania?"
Liana duduk di sofa kamar Rakha.
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin mendengar kabar tentangnya ya? Tenanglah, nak. Khaniamu sudah ditemukan. Dia sekarang ada di rumah sakit pusat kota. Kondisinya juga sudah mulai stabil."
Rakha bernafas dengan lega. Ia memeluk Liana dengan erat.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih. Apa besok aku sudah bisa menjenguknya?"
"Hmm, tentu saja. Sekarang sebaiknya kau tidur saja. Kau juga harus beristirahat."
"Baik, bu. Sekali lagi terima kasih."
Liana mengangguk kemudian keluar dari kamar Rakha.
.
.
Disha sedang tertidur lelap saat pintu kamarnya di gedor oleh seseorang. Karena tidak terkunci orang itu langsung masuk kedalam kamar.
"Disha!" teriak seseorang yang adalah Dika.
Disha mulai membuka matanya.
"Dika? Kau datang?" Disha langsung berlari ke arah Dika kemudian memeluknya.
"Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Disha mengangguk dalam pelukan Dika.
"Lalu dimana Khania? Apa kau tidak bersama Khania?" tanya Dika yang tidak melihat sosok Khania di kamar itu.
"Aku tidak tahu kemana mereka membawa Khania." Disha bicara seolah-olah ia juga seorang korban. Ia tak mau Dika berpikir jika dirinyalah yang membawa Khania.
"Dika, bawa aku pergi dari sini." pinta Disha.
"Baiklah. Aku datang memang untuk membawamu pergi dari sini. Ayo!"
Dika membawa Disha ke apartemennya. Disha tidak ingin pulang ke rumah saat ini. Ia merasa jika apa yang menimpanya adalah ulah ayahnya. Dan ia tidak ingin bertemu dengan ayahnya sementara waktu.
Disha kembali terlelap di tempat tidur milik Dika. Dika memandangi Disha dengan menyimpan banyak pertanyaan dalam hatinya. Ia juga khawatir pada Khay yang belum juga ditemukan.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini? Siapa yang sudah menculik Disha dan Khania?" tanya Dika dalam hati.
.
.
Keeosokan harinya di rumah sakit pusat kota, Khay mulai membuka matanya perlahan. Khay mengerjapkan matanya sebelum ia benar-benar membuka matanya lebar.
Khay melihat ruangan bercat putih itu dengan seksama. Ia melihat disampingnya yang ternyata adalah Ray yang sedang tertidur. Dan di sofa kamar Khay melihat Ken juga sedang terlelap.
"Ray..." Khay memanggil Ray lirih.
Ray langsung terbangun. "Khay!" teriak Ray yang membuat Ken ikut terbangun.
"Ada apa kau berteriak? Membuatku kaget saja!" gerutu Ken.
"Khay, kau sudah bangun?" tanya Ray dengan mata berbinar.
Ken juga segera menghampiri Khay.
"Nona, kau sudah sadar? Aku akan panggilkan dokter." ucap Ken lalu segera keluar.
Ray memandangi wajah pucat Khay. "Syukurlah kau baik-baik saja, Khay. Aku sudah sangat khawatir denganmu."
"Terima kasih karena sudah menolongku..."
Beberapa menit kemudian, Ken datang bersama dengan seorang dokter jaga. Dokter itu memeriksa kondisi Khay.
"Kondisi Nona Khayla sudah stabil. untu pengaruh obat biusnya memang masih belum sepenuhnya hilang. Tapi kami akan memberikan obat untuk menetralkan obat bius itu. Jika keadaan nona sudah lebih baik, maka besok nona sudah diperbolehkan pulang." jelas sang dokter.
"Baik, dok. Terima kasih." ucap Ray.
__ADS_1
Dokter pun keluar dari ruang rawat Khay. Ray membantu Khay untuk duduk.
"Bagaimana perasaanmu, nona? Aku amat terkejut kau tiba-tiba menghilang. Padahal pagi harinya kita baru saja bertemu." ucap Ken.
"Apa katamu?!" Ray nampak tak suka dengan sikap Ken.
"Khay, bukankah kau pergi dengan mobil Disha, bagaimana kau bisa berakhir di sebuah rumah di tengah hutan?" lanjut Ray.
Khay mulai mengingat-ingat memorinya dua hari lalu.
"Kau benar. Hari itu aku berencana untuk makan siang bersama Disha. Tapi saat masuk kedalam mobil, seseorang membekapku dan membuatku tidak sadarkan diri. Lalu aku bisa ada di tempat dimana kau menemukanku. Samar-samar aku melihat seorang pria berpakaian serba hitam dan memakai kacamata hitam."
"Eh?" Ray dan Ken kaget bersama.
"Tidak salah lagi, orang itu adalah Jonas." ucap Ken. "Lalu siapa wanita bernama Disha?" lanjut Ken.
"Umm, Disha Thariq adalah mantan tunangan Rakha. Mungkin saja dia melakukan itu untuk menakut-nakutiku saja." lanjut Khay.
"Disha? Siapa dia? Jangan-jangan dia... adalah orang terdekat Rakha yang menyamar? Aku harus cari tahu soal wanita bernama Disha." Batin Ken.
"Umm, Khay, Ray, aku permisi keluar dulu. Aku ingin menelepon seseorang." pamit Ken.
Begitu keluar kamar Khay, Ken agak menjauh dari sana agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya di telepon. Ken mencari nomor ponsel seseorang lalu menghubunginya.
"Halo..."
"........"
"Bisa tolong kau carikan semua data-data tentang seorang wanita yang bernama Disha Thariq?"
"......."
"Semuanya! Jika firasatku benar maka... Bisa saja dia terhubung dengan organisasi hitam. Cepat ya! Aku butuh data-datanya secepat mungkin. Baiklah. Terima kasih."
Ken mengakhiri panggilan kemudian menerawang jauh. Ia tak akan membiarkan organisasi hitam lolos lagi mulai dari sekarang.
.
.
#bersambung doeloe
"masih abu2 ya shay. Harap bersabar, semua akan terbuka pada waktunya π
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ππππ
__ADS_1
Terima kasih