RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 089


__ADS_3

Ray tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke kamar Khania. Ray melihat Ken masih setia duduk disamping brankar Khania.


Ray menggeleng pelan karena merasa kisah cintanya dan Ken hampirlah mirip. Ray menepuk bahu Ken pelan.


"Kira-kira sampai kapan dia akan seperti ini? Kau akan terus membuatnya koma?" ujar Ray.


"Tidak. Aku sudah menghentikan obat bius untuknya. Kini tinggal menunggu dia terbangun."


"Apa yang akan terjadi jika dia bangun nanti?"


"Entahlah. Omong-omong, kau datang pagi sekali."


"Yeah, begitulah. Kubawakan sarapan untukmu." Ray tersenyum getir.


"Cih, sejak kapan kau sangat perhatian, huh?"


Ray memutar bola matanya malas.


"Sudahlah jika kau tidak mau, akan kubawa kembali."


"Eh, tunggu! Iya iya, mari kita makan bersama. Kita makan diluar saja."


Mereka pun keluar dari kamar Khania dan hendak duduk di kursi tunggu. Namun tiba-tiba Liana datang dengan berlari kecil.


"Bibi! Ada apa? Kenapa kau berlari?" tanya Ken.


Liana mengatur nafasnya.


"Kenapa kau tidak mengangkat panggilan dariku?"


"Maaf, Bibi. Ponselku sedang kuisi daya. Ada apa, Bi?"


"Khay! Khay tidak pulang ke rumah semalam. Di rumah sakit juga tidak ada. Aku juga tidak tahu dia ada dimana." ucap Liana dengan nafas tersengal.


"Bibi tenang saja. Khay ada di apartemen lamanya. Semalam dia tidur disana." balas Ray.


"Hah?! Benarkah?" tanya Liana.


"Apa dia tidak menghubungi Bibi?" Ray balik bertanya.


"Tidak. Entah apa yang terjadi dengannya." Liana mengedikkan bahunya.


"Tadi pagi aku mengantarnya ke rumah sakit." jelas Ray.


"Oh, begitu. Syukurlah. Ada apa Ken?" tanya Liana karena melihat gelagat aneh Ken.


"Tidak ada, Bibi. Aku hanya... berpikir. Apa tidak sebaiknya kita memberitahukan tentang Khania pada Khayla?" usul Ken.


"Kenapa tiba-tiba kau ingin Khay tahu soal Khania?" tanya Ray menatap Ken tajam.


"Kita tidak punya waktu lagi. Kita harus menyiapkan semuanya." jelas Ken.

__ADS_1


"Eh?!" Liana dan Ray tertegun.


#


#


#


#


"Khayla..." gumam Rakha lirih bahkan tak ada yang bisa mendengarnya.


Khay menghampiri brankar Rakha sambil terus mengulas senyumnya.


"Bagaimana kabarmu? Maaf kemarin aku tidak datang kesini." ucap Khay.


"Aku sudah sangat baik. Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang."


"Syukurlah. Kalau begitu aku akan mengurus administrasinya dulu."


"Tidak perlu. Dika sudah mengurus semuanya."


"Oh begitu. Baiklah. Jadi, sekarang kita hanya tinggal bersiap saja."


Khay merapikan tas milik Rakha. "Apa kau sudah makan?" tanya Khay tanpa memandang Rakha.


Tanpa diduga, Rakha memeluk Khay dari belakang.


"Aku merindukanmu, Khania..." bisik Rakha di telinga Khay.


Entah kenapa memelukmu rasanya begitu nyaman. Meski kau bukanlah Khania yang asli. Kenapa Khania tidak pernah memberitahuku jika dia memiliki saudara kembar? Lalu apa tujuan kembaranmu menyamar menjadi dirimu? Dia bahkan rela menikah denganku dan menyerahkan semuanya padaku. Ya Tuhan, kenapa aku merasa bersalah? Apa kau yang ada di balik ini semua, Khania?


"Sebaiknya kita pulang. Kurasa kau masih harus beristirahat." balas Khay melepas tangan Rakha yang melingkar di pinggangnya.


"Hmm, baiklah. Tapi kau harus menemaniku selama istirahatku."


"Iya, sayangku..." ucap Khay dengan merangkum wajah Rakha lalu mendaratkan sebuah kecupan di pipi Rakha.


"Ayo kita pulang!" ajak Rakha seakan sudah tidak sabar untuk bermesraan dengan istrinya.


.


.


.


Beberapa hari kemudian,


Di sebuah rumah tahanan, seorang tahanan wanita sedang duduk berhadapan dengan tamu yang mengunjunginya. Sang tamu menatap sendu ke arah tahanan wanita yang tak lain adalah Niya.


Niya menyilangkan tangannya kedepan dada.

__ADS_1


"Untuk apa Anda datang kemari?" tanya Niya sinis.


"Putriku..."


"Cukup! Jangan memanggilku begitu. Kita tidak punya hubungan apapun."


"Kenapa kau membela Prince, Nak? Tidak seharusnya kau mengorbankan masa mudamu untuk mendekam di penjara." ucap seorang pria yang tak lain adalah Alan.


"Bukan urusanmu." Niya memalingkan wajahnya.


Alan amat sedih melihat kondisi putri kandungnya.


"Maafkan aku, Nak. Maafkan ayah. Seharusnya ayah tak pernah menukarmu dengan Disha. Ayah terlalu serakah. Maafkan ayah, Nak..." Alan terisak mengakui semua kesalahannya didepan Niya.


"Sudah terlambat. Jadi tidak perlu bersedih lagi. Jalani hidup ayah dengan baik. Dan jangan sampai tertangkap. Ayah sudah melakukan banyak dosa. Jadi pergilah jauh dari sini dan bertaubat." ucap Niya.


"Bagaimana denganmu, Nak? Ayah hanya akan pergi jika bersama denganmu."


"Aku akan menebus semua kesalahanku. Tidak ada lagi yang bisa kuharapkan di dunia ini."


"Apa katamu? Ayah akan carikan pengacara terbaik untukmu, Nak."


"Tidak perlu. Aku akan tetap mendapat hukuman mati meski aku memiliki pengacara yang hebat."


"Hah?! Jangan bicara begitu, Nak..."


"Maaf, waktu kunjungan sudah habis. Silahkan bapak keluar." ucap seorang petugas rumah tahanan pada Alan.


"Ayah pergi, Nak." pamit Alan namun masih berdiri di tempatnya.


"Iya. Dan sebaiknya ayah tidak perlu lagi datang mengunjungiku." tutup Disha sebelum meninggalkan ayahnya dan kembali ke sel tahanannya.


Disisi lain, Rein sedang menunggu panggilan di ponselnya. Sejak tadi ia tidak tenang karena masih belum mendapat kabar.


Hingga akhirnya, ponsel Rein berdering. Ia segera mengangkatnya.


"Halo, bagaimana hasil pengintaianmu?"


"Seperti yang sudah komandan prediksi. Alan Thariq baru saja mengunjungi Ghaniya."


"Hmm, kerja bagus."


Rein menutup panggilannya kemudian menatap keempat orang yang sedang bersamanya.


"Kita harus segera bergerak! Siapkan diri kalian!" ucap Rein pada Ken, Ray, James, dan Liana.


...***...


#bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan...👣👣

__ADS_1


...Thank You ...


__ADS_2