
Ray mendapat telepon dari Isabel yang mengabarkan jika Khania menghilang. Sungguh Ray sangat marah saat ini. Tapi marah pun tidak akan membuat Khania di temukan. Ray memilih membantu mencari Khania.
Bahkan panggilan telepon darinya tidak digubris sama sekali oleh Khania. Ray mengumpat kesal. Ia mengerahkan beberapa orang untuk mencari Khania.
Kota Rio bukan kota kecil yang bisa dijelajahi dengan mudah. Apalagi jika sudah berurusan dengan anggota geng dan kartel. Pasti akan lebih sulit untuk menemukan Khania.
Sebisa mungkin Ray menepis pikiran buruknya mengenai Khania. Ia yakin jika Khania adalah gadis yang cukup pintar. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Apalagi Khania bisa bela diri dan karate.
Ray bertemu dengan Isabel di sebuah taman. Isabel menceritakan kronologi bagaimana Khania bisa pergi dan menghilang.
"Maafkan aku, Sir. Ini adalah salahku. Seharusnya aku..."
"Sudahlah Isabel. Jangan bicara begitu. Aku tahu Khania memang gadis yang keras kepala. Jadi, bukan salahmu jika dia bersikap begini. Sebaiknya kita mulai mencarinya saja. Aku akan meminta bantuan dari beberapa kenalanku disini." Ray berusaha bersikap tenang meski sebenarnya hatinya sangat cemas.
Di tempat berbeda, seorang pemuda sedang berlarian menghindari kejaran beberapa petugas kepolisian. Pemuda bertopi itu harus menyembunyikan luka tembak yang mengenai bagian kiri perutnya. Beruntung peluru itu tidak mengenai jantungnya.
Dengan sigap pemuda itu mencuri sebuah jaket yang tergantung milik warga untuk menutupi noda darah di kaus putihnya.
"Sial! Sepertinya polisi disini sudah mulai mengendus keberadaanku," gumam pria itu.
Usai memakai jaket, ia berjalan dengan santai dan biasa saja. Ia menahan luka yang sebenarnya cukup menyakitkan itu.
Pria itu mulai berjalan sempoyongan. Matanya mulai berkunang-kunang. Hingga akhirnya...
BRUGH!
Pria itu menabrak seseorang. "Maaf..." ucap si pria.
"Ah, tidak. Akulah yang seharusnya meminta maaf."
Orang yang di tabrak si pria ternyata adalah Khania.
__ADS_1
"Tuan, apa kau sakit? Wajahmu sangat pucat." Khania memperhatikan gerak gerik si pria.
"Tidak! Aku baik-baik saja." Pria itu menghindari bertemu dengan orang asing karena takut identitasnya terbongkar. Ia segera berjalan lagi namun tubuhnya benar-benar tak kuat lagi untuk melangkah.
"Tuan!" pekik Khania yang tentunya masih punya rasa peduli terhadap sesama.
Khania memegangi lengan si pria yang hendak terjatuh. "Tuan, kau berdarah. Aku akan membantumu. Dimana tempat tinggalmu?" tanya Khania.
"Tidak jauh dari sini."
Sejenak pria itu menatap Khania dengan raut terkejut.
"Gadis ini...?" batinnya seakan mengenali Khania.
Mereka berjalan beriringan dengan Khania yang memapah si pria. Tangan si pria melingkar di bahu Khania.
"Kenapa kau mau menolongku?" tanya pria itu dengan lirih.
Pria itu menarik sudut bibirnya. Ia menunjukkan arah dimana tempat tinggalnya.
Khania membantu pria itu hingga benar-benar masuk ke dalam rumahnya yang terlihat sangat sederhana.
"Kau duduklah dulu. Aku akan ambilkan minum. Dimana dapurnya?" Tanpa malu Khania menjelajahi rumah sederhana itu.
Pria itu kembali mengulas senyum ditengah kesakitannya.
"Terima kasih, Nona. Kau sangat baik."
"Yeah. Mendiang ibuku selalu mengajarkan kita untuk saling tolong menolong jika ada orang yang butuh bantuan. Kurasa kau pantas mendapatkannya."
Khania tersenyum. Meski ia tak begitu melihat jelas wajah pria ini, tapi Khania cukup yakin jika pria ini memiliki paras yang tampan.
__ADS_1
Ponsel Khania sudah bergetar sejak satu jam yang lalu. Namun ia selalu mengabaikan panggilan dari Rayshard itu.
"Angkatlah! Aku yakin keluargamu pasti mencemaskanmu," ujar si pria.
Meski masih enggan mengangkat panggilan dari Rayshard, akhirnya dengan terpaksa Khania menjawab panggilan itu. Dan sudah bisa di tebak jika Ray marah besar akibat ulah Khania hari ini.
"Apa itu keluargamu?"
Khania mengangguk. "Sepertinya aku harus pergi. Maaf jika aku tidak bisa mengobatimu. Apa itu...luka tembak?" Meski ragu akhirnya Khania berani bertanya.
"Iya. Disini sudah terbiasa dengan suara tembakan atau bahkan mengalami luka tembak. Kau pasti tahu itu bukan?"
Khania menelan ludahnya. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pamannya. Kota ini bukanlah kota biasa.
"Aku ... hanya berlibur sebentar disini. Kalau begitu ... aku harus pergi. Kau harus segera mengobati lukamu."
"Tenang saja. Aku bisa mengatasi ini."
Khania mengangguk kemudian berbalik badan. Meski ia melihat pria ini seperti tidak berbahaya, tapi tetap saja Khania merasa khawatir dengan keadaannya sendiri.
"Tunggu!"
Khania terhenti. Ia berbalik dan menatap pria itu.
"Apa boleh aku mengetahui namamu?"
Khania menatap pria itu. Sorot matanya menyiratkan sebuah hal yang berbeda.
"Namaku Khania."
Usai menyebutkan namanya, kali ini Khania benar-benar pergi dari rumah pria asing tadi. Khania merasakan sebuah debaran yang aneh ketika mendapat sebuah tatapan dari pria yang ditolongnya tadi.
__ADS_1
#bersambung