
Perhatian: Akan ada adegan dewasa di part ini. Harap pembaca bijak menyikapi ya! Yang tidak suka skip saja dan klik jempolnya saja, hehehe. Terima kasih
.
.
Prince mendengus sebal keluar dari ruang kerja Alan Thariq. Pria muda ini harus membalas jasa Alan karena ia membantu bisnis hitamnya kembali bangkit setelah ayahnya ditangkap oleh pihak kepolisian. Prince kembali menemui dua orang kepercayaannya yang telah menunggunya di mobil.
"Bagaimana Prince? Apa keputusan Alan saat ini?" tanya Doc sambil melajukan mobil keluar dari Thariq Building.
Prince tidak menjawab dan melonggarkan dasinya kemudian melepas lalu membuangnya ke belakang. Tampak jelas raut kekesalan di wajah tampan Prince yang dingin. Ia melepas kacamatanya dan merebahkan tubuhnya bersandar ke punggung kursi.
"Bagaimana dengan bisnis kita?" tanya Prince pada Doc.
"Semuanya masih aman, Bos. Barangnya sudah di kirim ke Brasil." jawab Doc.
"Baguslah. Jangan sampai polisi mengendus kembali bisnis kita."
"Kau tampak kesal, Prince. Apa Alan tidak menyetujui usul dari kita?" tanya Irish dengan suara menggodanya. Ia sangat paham jika Prince kesal, gairahnya pasti memuncak.
Prince mengacak rambutnya.
"Dia punya kekuasaan yang cukup tinggi, Prince. Sebaiknya kita ikuti dulu permainan darinya." sahut Doc.
"Tentu saja Bos kita ini tidak akan bisa menyentuh pria tua itu. Benar 'kan, Prince?" ucap Irish dengan senyum seringai di bibirnya.
"Tepikan mobilnya!!!" perintah Prince.
Doc segera turun dari dalam mobil. Prince pun ikut turun dari mobil lalu pindah ke bangku belakang. Irish tersenyum makin menyeringai. Ia tahu apa yang Prince nya itu inginkan.
__ADS_1
Prince membuka pintu belakang mobil lalu masuk dan menerkam Irish. Ia langsung mencium bibir Irish dengan kasar dan ganas. Irish membalas tak kalah ganas. Wanita seksi ini sudah hapal bagaimana mengimbangi tenaga Prince.
Prince membuka jasnya. Dengan cepat Irish membuka kancing kemeja Prince hingga menampakkan tubuh sempurna pria itu. Irish segera menerkam tubuh Prince dan mengecup dada Prince diikuti gigitan kecil yanh membekas disana.
Prince melenguh pelan. Ia sangat suka gaya Irish yang lihai diatas ranjang. Namun kini mereka bukan diatas ranjang, melainkan didalam mobil. Well, Irish tetap melakukan tugasnya dengan baik.
Selesai memainkan Prince, kini giliran pria itu yang mengungkung tubuh Irish. Tangan Irish dengan sigap melepas kancing kemejanya sendiri dan membiarkan Prince bermain di atas dadanya. Irish mendesah lembut. Membuat Prince makin buas memangsanya hingga membuat mobil nampak bergoyang.
Sementara Doc yang berada di luar mobil, hanya bisa memalingkan wajah tak ingin menganggu aktifitas panas bos dan wanitanya. Ia memilih menyalakan rokok dan menyesapnya.
Irish mengangkat roknya keatas agar memudahkan Prince memasukinya. Dengan satu hentakan benda tumpul nan panjang itu memasuki tubuh Irish.
"Aakhh!!!" pekik Irish yang merasa benda itu kian hari terasa makin besar dan panjang saja.
"Prince!! Aakkhh!!! Punyamu... Ber..tambah... be...sar... Aaakhh!!!" racau Irish yang tubuhnya sudah berguncang naik turun.
Prince pun mengerang nikmat kala miliknya memasuki lebih dalam milik Irish. "Kau terasa sempit, Irish. Kau memang selalu membuatku puas." racau Prince.
"Lanjutkan saja di markas, Prince! Aku harus pergi bekerja. Anak buahku sudah menunggu." teriak Doc tanpa menatap kearah mobil.
Prince dan Irish pun menyelesaikan permainan mereka dengan suara erangan kenikmatan dari mereka berdua. Irish kembali merapikan baju dan rambutnya. Prince keluar dengan kembali memakai kemejanya dan kembali duduk di bangku depan mobil. Doc juga masuk kedalam mobil dan kembali menyetir.
"Oh, shit!!!" Doc mengumpat. "Sepertinya aku harus segera mencuci mobil ini. Bau percintaan kalian menguar hingga ke indera penciumanku..." ucap Doc sedikit kesal namun tak di gubris oleh Irish dan Prince yang masih mengatur nafasnya.
.
.
Malam menjelang, lagi-lagi Ken masih sibuk didepan layar datar itu. Ia menghembuskan nafas kasar kala pekerjaannya telah selesai. Paling tidak untuk saat ini. Ia segera bergegas keluar dari ruang kerja James yang ia sewa beberapa hari ini.
__ADS_1
"Mau kemana, nak? Ini sudah malam." tanya James saat melihat Ken akan pergi keluar.
"Aku harus menemui Khayla, Paman." jawab Ken.
"Ini sudah hampir tengah malam. Apakah tidak apa menemuinya selarut ini? Mungkin saja dia sudah tertidur." sahut James lagi.
Ken nampak berpikir. Apa yang dikatakan James bisa saja benar. Tapi tak ada salahnya ia tetap mencoba.
"Bila perlu aku akan menginap disana. Maksudku di kamar milik Ray. Aku pergi dulu, Paman." jelas Ken agar James tak salah sangka.
James mengangguk. "Baiklah. Hati-hati, Nak!"
Ken tiba di apartemen Khay. Ia lalu mengirim pesan ke ponsel Khay.
"Semoga saja dia masih terjaga." gumam Ken.
Sementara itu, Khay memang masih belum bisa memejamkan matanya. Ia masih berguling ke kanan dan kiri di atas tempat tidurnya. Terdengar bunyi getar ponselnya di atas nakas. Ia segera mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari Ken.
"Datanglah ke rooftop apartemenmu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Sekarang!"
Dahi Khay berkerut. Ia menimbang-nimbang apakah akan menemui Ken atau tidak.
.
.
#bersambung dulu ya genks
jangan lupa jempolnya digoyang πππ
__ADS_1
Akhirnya yg khilap si Prince sama Irish πππ