RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 014


__ADS_3

...Halo readers kesayangan mamak๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹ Rakhania is back! Dont forget to leave Like ๐Ÿ‘ and comments ๐Ÿ˜˜...


...*happy reading*...


Khay memantung usai menyudahi panggilannya dengan Rakha. Ray dan Rein yang sudah mendengarkan percakapan mereka hanya bisa memandangi Khay.


"Kalian harus bersiap!" ucap Rein memecahkan keheningan.


Khay menatap ke arah Rein. "Maksud paman?"


"Kau dan Ray akan pergi ke Kota M."


"Aku dan Ray?" Khay masih tidak mengerti situasinya.


"Hei, nona. Kenapa kau tidak fokus? Apa karena pria itu meneleponmu?"


"Hish, kau ini!"


"Apa kau khawatir tidak bisa menjadi seorang sekretaris?" Ray terkikik melihat ekspresi Khay yang memang terlihat gundah gulana.


Khay segera mengepalkan tinjunya ke arah wajah Ray.


"Kalian ini! Kalian harus akur saat disana ya. Bersiaplah Khayla. Paman rasa kau akan menemukan hal tak terduga disana."


"Iya, Paman." Ucap Khay mengangguk paham.


.


.


.


.


"Dika, apa sebaiknya aku carikan lagi saja apartemen yang bagus untuk Khania?"


"Kurasa jangan, bos. Jangan tanpa persetujuan darinya. Bos bicarakan dulu dengannya baru kita cari apartemen baru untuknya."


"Apartemennya yang lama terkesan sangat biasa. Aku tidak suka."


"Tapi itu adalah keinginannya. Jangan memaksanya, bos. Atau nanti dia akan pergi lagi dari bos."


"Hmmm, kau benar juga." Rakha mengangguk paham.


Keesokan harinya, Rakha menjemput Khay di bandara. Dia sangat gembira melihat kekasihnya kini berada di kota yang sama dengannya. Ia segera memberi pelukan hangat untuk Khay.


Khay hanya diam tak membalas pelukan Rakha.


"Oh ya, sayang, sebenarnya aku ingin kau pindah ke apartemen yang lebih bagus. Tapi aku takut kau tidak setuju, jadi kau akan tinggal di apartemen lamamu. Tidak apa kan?"


"Tentu saja, tidak apa. Aku lebih suka apartemenku yang lama." jawab Khay dengan tersenyum.


Aku tidak bisa pindah begitu saja dari sana, karena aku yakin disana ada petunjuk yang bisa membawaku ke pembunuh Kak Khania.


Rakha mengantar Khay ke apartemen lama milik Khania. Rakha menurunkan barang-barang yang Khay bawa. Khay sengaja tidak terlalu membawa banyak barang karena barang milik Khania ada beberapa yang masih berada di apartemen.

__ADS_1


Sebenarnya Khay penasaran siapa orang yang sudah membayar sewa apartemen Khania selama ini. Tapi, jika ia bertanya pada Rakha rasanya sangat aneh. Bisa saja jika itu bukan Rakha. Ia akan bertanya pada pengelola apartemen nanti.


"Oh ya, aku sudah membayar sewa apartemenmu untuk setahun kedepan."


"Eh? Kau tidak perlu melakukan itu, aku juga punya uang kok."


"Sayang, jangan menolakku. Selama ini apartemenmu ternyata masih atas namamu. Kenapa kau membuang uang sementara apartemen ini kau biarkan kosong?"


"Eh?"


Jadi, bukan Rakha yang membayar sewanya setiap bulan selama setahun ini? Atau dia hanya pura-pura tidak tahu? Aku sengaja membiarkan barang-barang kakak tetap ada disini karena mengira akan ada seseorang yang muncul disini.


"Sayang, aku pergi dulu ya. Aku harus ke kantor. Nanti sepulang bekerja, aku akan mampir kemari."


Khay mengangguk. Secara tiba-tiba, Rakha mencium kening Khay lama. Khay yang mendapat sebuah kejutan, segera membulatkan matanya.


"Dah, sayang..." ucap Rakha sebelum akhirnya ia pergi dari apartemen Khay.


Khay memegangi dadanya yang merasa berdebar. Ray yang ternyata sudah tiba di sana, segera keluar dari kamar apartemen yang berada di depan kamar Khay.


"Ehem! Sepertinya pria itu sangat mencintai Khania..." ucap Ray dengan tangan bersedekap.


"Kau melihat semuanya?"


"Melihat apa? Bagian yang dia mencium keningmu atau..."


"Ahh, sudahlah. Aku malu sekali! Kenapa dia tiba-tiba menciumku dan bahkan di depan kamar apartemen! Bagaimana jika ada yang melihatnya?"


Khay lalu masuk kedalam kamar, lalu Ray mengikutinya.


"Benar. Aku akan bertanya pada pihak apartemen saja. Ayo!"


"Heh? Sekarang?"


"Iya lah, masa tahun depan!"


"Khay, aku sangat lelah, tak bisakah aku tidur dulu?"


"Tidak bisa! Kau sudah tidur lama tadi di pesawat, bagaimana bisa kau akan tidur lagi. Ayo cepat!" Khay menarik tangan Ray yang sedang merebahkan diri di sofa ruang tamu.


Sesampainya di kantor manajer apartemen, Khay masuk ke dalam ruang manajer sementara Ray menunggu di depan dan mengawasi sekitar.


Khay menyapa ramah si manajer, seorang pria baruh baya bernama Pak Heri.


"Selamat siang, Pak. Maaf jika saya mengganggu." sapa Khay dengan suara lembutnya.


"Eh, Nona Khania. Sudah lama sekali tidak datang. Bagaimana kabar nona?"


"Saya baik, Pak."


"Saya sempat merasa kehilangan nona karena nona tiba-tiba tidak pulang ke apartemen sejak malam itu."


DEG


Malam itu? Apa maksudnya malam dimana Kak Khania akhirnya menghilang? Malam acara perayaan ulang tahun yayasan tempat kakak bekerja.

__ADS_1


"Ah, iya Pak. Saya mohon maaf, karena saya ada urusan mendadak dan harus kembali ke kota asal saya."


"Tapi, untuk apa nona tetap membayar sewa apartemen jika nona tidak menempatinya?"


"Eh?"


"Nona selalu mengirim uang untuk membayar sewa apartemen nona."


"Heh? Ah, itu..." Khay bingung harus bicara apa.


"Mungkin karena nona tahu karena nona akan kembali kemari, begitu kan?"


"Ah, hahah, iya. Begitulah, Pak." Khay tampak tersenyum canggung.


.


.


.


"Jadi, pak manajer itu mengira jika kau yang membayar sewa tiap bulan?"


"Iya."


"Dulu kita salah langkah, Khay. Kita tidak menyelidiki lebih lanjut soal pelaku pembayar sewa tempat ini. Kita malah fokus pada keluarga Rakha. Dan sekarang kita malah kebingungan mencari siapa yang sudah membayar sewa tempat ini selama ini. Ditambah lagi, orang itu memakai jasa kurir, akan sangat sulit untuk menemukannya."


"Kita pasti bisa menemukannya, Ray. Lihat itu!" Khay yang sedang berada di dekat jendela apartemen yang berada di lantai lima, menunjuk ke arah seseorang yang nampak sedang berbicara di telepon di bawah sana.


"Hah?! Orang itu...?"


"Benar, sejak aku datang tadi, aku merasa sudah di awasi. Aku yakin dia pasti orang suruhan pelaku yang sebenarnya."


"Jadi, bagaimana? Kita langsung tangkap saja orang itu?"


"Tidak, Ray. Kita akan mengawasinya dulu. Aku yakin dia akan membawa kita pada pelaku yang sebenarnya..." ucap Khay dengan mengepalkan tangan.


Sementara itu, seorang pria sedang berbicara di telepon dengan mengendap-endap.


"Halo, bos..."


"Ada apa?"


"Dia kembali, bos. Wanita itu kembali!"


"Jadi benar jika dia masih hidup? Bukankah kalian sudah menghabisinya setahun lalu?"


"Saya minta maaf, bos. Sepertinya wanita itu berhasil selamat meski sudah masuk ke dalam jurang."


"Kurang ajar! Kalian awasi terus wanita itu!"


"Baik, bos!"


Panggilan berakhir.


#bersambung...

__ADS_1


__ADS_2