
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Pagi harinya, Khay sudah bersiap dengan setelan kantornya
dan berjalan keluar apartemen. Di luar, Khay sudah melihat Rakha yang berdiri
di samping mobilnya menyambut kedatangan Khay.
Entah kenapa Khay langsung berlari begitu melihat sosok
Rakha dan memeluknya erat. Rakha tersenyum karena melihat tingkah manja
kekasihnya.
“Sayang, kau kenapa? Apa kau merindukanku?” Tanya Rakha.
Tanpa menjawab, Khay menganggukkan kepala dipelukan Rakha. Khay
merasa tenang melihat Rakha baik-baik saja.
“Ya sudah, kalau begitu ayo berangkat. Nanti kita terlambat.”
Ajak Rakha.
Khay mengangguk lalu masuk kedalam mobil milik Rakha.
Tanpa Khay sadari, Ray dan Andre memperhatikan kemesraan
mereka berdua.
“Sepertinya Khay sudah larut dalam masalah ini. Menurutmu bagaimana?”
Tanya Andre.
“Mungkin saja.” Jawab Ray datar.
“Jadi, apa yang sebenarnya Khania rasakan pada pria itu? Dilihat
dari caranya memandang Khay, Rakha sangat mencintai Khania. Satu-satunya cara
untuk mengetahui perasaan Khania yang sebenarnya, adalah dengan membaca buku
hariannya. Ray, kau carilah cara agar Khay mau membaca buku harian Khania. Aku yakin
ada sesuatu yang bisa kutemukan disana.” Ucap Andre.
“Kita akan mencobanya, Ndre.” Jawab Ray lagi-lagi datar.
“Dari informasi yang kudengar, organisasi tidak akan
melepaskan targetnya tidak lebih dari satu tahun. Tapi dalam kasus Rakha,
Khania bahkan tidak melenyapkannya setelah dua tahun. Apa menurutmu ini tidak
aneh, Ray?”
“Entahlah, Ndre. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi. Oh ya,
apa kau sudah tahu siapa agen ISS yang ada disekeliling Khay?”
“Belum. Kita tidak bisa mendapatkan informasi seperti itu,
Ray. ISS adalah organisasi rahasia.”
“Bahkan ayahku?”
“Iya. Polisi tidak akan bisa tahu soal informasi itu.”
“Jadi, bisa saja agen itu ada di sekitar Khay atau juga
Rakha?” duga Ray.
“Iya, bisa saja. Kira-kira adakah yang kau curigai?”
“Entahlah, Ndre. Aku belum bisa memikirkan itu. Ayo,
__ADS_1
sebaiknya kita pergi.” Ajak Ray.
Andre pun mengangguk. Kemudian mereka berdua pergi dari
apartemen dengan mengendarai mobil Ray.
.
.
.
.
.
Sesampainya di kantor, Rakha dan Khay masih berada didalam
mobil. Mereka masih terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Khay melirik
kearah Rakha yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
“Ada apa, Rakha? Apa ada yang ingin kau katakan?” Tanya Khay.
“Khania… Aku… Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Khay menghadap kearah Rakha dan memperhatikan dengan serius.
“Aku sudah membatalkan pertunanganku dengan Disha.”
“Heh? Apa katamu?”
“Sayang, aku tidak bisa menyakiti Disha lebih dari ini.
sekarang, kita bisa tenang. karena hubungan kita tidak lagi sembunyi-sembunyi.”
Khay mengangguk. Rakha menarik tangan Khay dan membawanya
kedalam pelukan. Khay memejamkan mata dan hatinya mulai bertanya-tanya.
“Kakak… apa benar
membunuhnya? Tapi, apa yang terjadi denganmu, kak? Apa benar organisasilah yang
sudah melenyapkanmu? Aku bahkan tidak bisa membaca buku harianmu. Aku terlalu
takut mengetahui kebenarannya. Maafkan aku, kak. Sepertinya aku tidak bisa
membiarkan Rakha celaka. Aku akan melindunginya apapun yang terjadi…”
Rakha melepaskan pelukannya. Ia merangkum wajah Khay dengan
tangannya. Rakha mengecup bibir Khay dengan lembut. Khay yang awalnya terdiam
menerima kecupan dari Rakha, kini mulai membalas ciuman dari Rakha. Terjadi saling
pagut dalam ritme yang cukup pelan dan teratur.
“Maafkan aku, Kak…
sepertinya aku… benar-benar sudah menyerahkan hatiku untuk Rakha. Aku tidak
bisa menolaknya. Aku mencintainya, kakak…”
Rakha melepas ciumannya karena melihat Khay yang mulai kehabisan
nafas. “Maaf ya sayang, pagi-pagi sudah membuatmu susah bernafas…”
Khay tertunduk malu dan wajahnya merona. Baru kali ini
seorang Khay begitu luluh dihadapan seorang pria.
“Seusai bekerja, aku akan mengajakmu ke rumah. Kita akan
meresmikan hubungan kita didepan keluargaku…” ucap Rakha.
Khay pun mengangguk. Lalu mereka turun dari mobil dan
berjalan bersama.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Jam kantorpun usai, Rakha segera menemui Khay. Ia menyerahkan
sebuah paper bag kearah Khay.
Khay mengernyitkan dahi. “Apa ini?”
“Bukalah, dan pakai. Kita ‘kan akan menemui keluargaku. Aku ingin
kau tampil sempurna didepan mereka.”
Khay pun tersenyum. Lalu mengambil paper bag tersebut
kemudian menuju kamar ganti wanita.
Khay mematut dirinya didepan cermin. Ia Nampak cantik dengan
dress panjang berwarna maroon. Tak lupa ia memoles sedikit make-up di wajahnya.
Rambutnya ia sisir rapi dan dibiarkan tergerai.
Khay kembali menemui Rakha. Rakha terpesona melihat
penampilan kekasihnya itu. ia pun mendekati Khay dan seperti biasa, ia mengecup
bibir Khay sekilas. Namun tak puas dengan hanya menyentuhnya sekilas, ia pun
kembali meraih bibir itu.
Aah, Khay merasa amat terbuai dibuatnya. Mereka tidak peduli
jika sekarang masih berada di kantor. Mereka terus melanjutkan pagutan mereka
dan saling menyesap satu sama lain. Hingga akhirnya, sebuah dering ponsel
berhasil menghentikan aktifitas mereka. Ponsel Rakha berbunyi. Khay mendorong
tubuh Rakha perlahan.
“Angkatlah dulu! Siapa tahu panggilan penting.” Ucap Khay.
Rakha melihat layar ponselnya dan melihat nama Dika disana. Rakha
mengernyitkan dahinya namun tetap mengangkat panggilan dari Dika.
“Halo, ada apa?” Tanya Rakha sedikit kesal karena
kemesraannya terganggu.
“Apa kau sudah tidak punya tugas lagi untukku? Aku ingin
masuk ke ruanganmu tapi tadi kulihat Khania juga ada disana, jadi…”
“Tidak ada. Kau boleh pulang. Dasar kau! Mengganggu saja!”
Rakha mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Khay mendekati Rakha. “Ada apa? Apa ada yang penting?”
“Tidak ada.” Rakha tersenyum pada Khay dan hendak
melanjutkan aktifitasnya yang tertunda, namun Khay menahannya.
“Bukankah kita harus segera ke rumahmu? Hari sudah mulai
gelap.” Ucap Khay
“Hmm, iya. Baiklah, ayo sayang…” Balas Rakha dengan memeluk
pinggang Khay posesif.
__ADS_1
#bersambung…