RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 036


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave


Like and Comments. Thank You.


*Happy Reading*


Pagi harinya, Khay sudah bersiap dengan setelan kantornya


dan berjalan keluar apartemen. Di luar, Khay sudah melihat Rakha yang berdiri


di samping mobilnya menyambut kedatangan Khay.


Entah kenapa Khay langsung berlari begitu melihat sosok


Rakha dan memeluknya erat. Rakha tersenyum karena melihat tingkah manja


kekasihnya.


“Sayang, kau kenapa? Apa kau merindukanku?” Tanya Rakha.


Tanpa menjawab, Khay menganggukkan kepala dipelukan Rakha. Khay


merasa tenang melihat Rakha baik-baik saja.


“Ya sudah, kalau begitu ayo berangkat. Nanti kita terlambat.”


Ajak Rakha.


Khay mengangguk lalu masuk kedalam mobil milik Rakha.


Tanpa Khay sadari, Ray dan Andre memperhatikan kemesraan


mereka berdua.


“Sepertinya Khay sudah larut dalam masalah ini. Menurutmu bagaimana?”


Tanya Andre.


“Mungkin saja.” Jawab Ray datar.


“Jadi, apa yang sebenarnya Khania rasakan pada pria itu? Dilihat


dari caranya memandang Khay, Rakha sangat mencintai Khania. Satu-satunya cara


untuk mengetahui perasaan Khania yang sebenarnya, adalah dengan membaca buku


hariannya. Ray, kau carilah cara agar Khay mau membaca buku harian Khania. Aku yakin


ada sesuatu yang bisa kutemukan disana.” Ucap Andre.


“Kita akan mencobanya, Ndre.” Jawab Ray lagi-lagi datar.


“Dari informasi yang kudengar, organisasi tidak akan


melepaskan targetnya tidak lebih dari satu tahun. Tapi dalam kasus Rakha,


Khania bahkan tidak melenyapkannya setelah dua tahun. Apa menurutmu ini tidak


aneh, Ray?”


“Entahlah, Ndre. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi. Oh ya,


apa kau sudah tahu siapa agen ISS yang ada disekeliling Khay?”


“Belum. Kita tidak bisa mendapatkan informasi seperti itu,


Ray. ISS adalah organisasi rahasia.”


“Bahkan ayahku?”


“Iya. Polisi tidak akan bisa tahu soal informasi itu.”


“Jadi, bisa saja agen itu ada di sekitar Khay atau juga


Rakha?” duga Ray.


“Iya, bisa saja. Kira-kira adakah yang kau curigai?”


“Entahlah, Ndre. Aku belum bisa memikirkan itu. Ayo,

__ADS_1


sebaiknya kita pergi.” Ajak Ray.


Andre pun mengangguk. Kemudian mereka berdua pergi dari


apartemen dengan mengendarai mobil Ray.


.


.


.


.


.


Sesampainya di kantor, Rakha dan Khay masih berada didalam


mobil. Mereka masih terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Khay melirik


kearah Rakha yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


“Ada apa, Rakha? Apa ada yang ingin kau katakan?” Tanya Khay.


“Khania… Aku… Aku ingin mengatakan sesuatu.”


Khay menghadap kearah Rakha dan memperhatikan dengan serius.


“Aku sudah membatalkan pertunanganku dengan Disha.”


“Heh? Apa katamu?”


“Sayang, aku tidak bisa menyakiti Disha lebih dari ini.


sekarang, kita bisa tenang. karena hubungan kita tidak lagi sembunyi-sembunyi.”


Khay mengangguk. Rakha menarik tangan Khay dan membawanya


kedalam pelukan. Khay memejamkan mata dan hatinya mulai bertanya-tanya.


“Kakak… apa benar


membunuhnya? Tapi, apa yang terjadi denganmu, kak? Apa benar organisasilah yang


sudah melenyapkanmu? Aku bahkan tidak bisa membaca buku harianmu. Aku terlalu


takut mengetahui kebenarannya. Maafkan aku, kak. Sepertinya aku tidak bisa


membiarkan Rakha celaka. Aku akan melindunginya apapun yang terjadi…”


Rakha melepaskan pelukannya. Ia merangkum wajah Khay dengan


tangannya. Rakha mengecup bibir Khay dengan lembut. Khay yang awalnya terdiam


menerima kecupan dari Rakha, kini mulai membalas ciuman dari Rakha. Terjadi saling


pagut dalam ritme yang cukup pelan dan teratur.


“Maafkan aku, Kak…


sepertinya aku… benar-benar sudah menyerahkan hatiku untuk Rakha. Aku tidak


bisa menolaknya. Aku mencintainya, kakak…”


Rakha melepas ciumannya karena melihat Khay yang mulai kehabisan


nafas. “Maaf ya sayang, pagi-pagi sudah membuatmu susah bernafas…”


Khay tertunduk malu dan wajahnya merona. Baru kali ini


seorang Khay begitu luluh dihadapan seorang pria.


“Seusai bekerja, aku akan mengajakmu ke rumah. Kita akan


meresmikan hubungan kita didepan keluargaku…” ucap Rakha.


Khay pun mengangguk. Lalu mereka turun dari mobil dan


berjalan bersama.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Jam kantorpun usai, Rakha segera menemui Khay. Ia menyerahkan


sebuah paper bag kearah Khay.


Khay mengernyitkan dahi. “Apa ini?”


“Bukalah, dan pakai. Kita ‘kan akan menemui keluargaku. Aku ingin


kau tampil sempurna didepan mereka.”


Khay pun tersenyum. Lalu mengambil paper bag tersebut


kemudian menuju kamar ganti wanita.


Khay mematut dirinya didepan cermin. Ia Nampak cantik dengan


dress panjang berwarna maroon. Tak lupa ia memoles sedikit make-up di wajahnya.


Rambutnya ia sisir rapi dan dibiarkan tergerai.


Khay kembali menemui Rakha. Rakha terpesona melihat


penampilan kekasihnya itu. ia pun mendekati Khay dan seperti biasa, ia mengecup


bibir Khay sekilas. Namun tak puas dengan hanya menyentuhnya sekilas, ia pun


kembali meraih bibir itu.


Aah, Khay merasa amat terbuai dibuatnya. Mereka tidak peduli


jika sekarang masih berada di kantor. Mereka terus melanjutkan pagutan mereka


dan saling menyesap satu sama lain. Hingga akhirnya, sebuah dering ponsel


berhasil menghentikan aktifitas mereka. Ponsel Rakha berbunyi. Khay mendorong


tubuh Rakha perlahan.


“Angkatlah dulu! Siapa tahu panggilan penting.” Ucap Khay.


Rakha melihat layar ponselnya dan melihat nama Dika disana. Rakha


mengernyitkan dahinya namun tetap mengangkat panggilan dari Dika.


“Halo, ada apa?” Tanya Rakha sedikit kesal karena


kemesraannya terganggu.


“Apa kau sudah tidak punya tugas lagi untukku? Aku ingin


masuk ke ruanganmu tapi tadi kulihat Khania juga ada disana, jadi…”


“Tidak ada. Kau boleh pulang. Dasar kau! Mengganggu saja!”


Rakha mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Khay mendekati Rakha. “Ada apa? Apa ada yang penting?”


“Tidak ada.” Rakha tersenyum pada Khay dan hendak


melanjutkan aktifitasnya yang tertunda, namun Khay menahannya.


“Bukankah kita harus segera ke rumahmu? Hari sudah mulai


gelap.” Ucap Khay


“Hmm, iya. Baiklah, ayo sayang…” Balas Rakha dengan memeluk


pinggang Khay posesif.

__ADS_1


#bersambung…


__ADS_2