
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki seorang pria yang terburu-buru terdengar di rumah yang sepi itu. Pria itu berjalan cepat untuk menemui seseorang.
"Bos!" tanpa mengetuk pintu ruang kerja bosnya, pria itu langsung menerobos masuk.
"Ada apa, Doc? Kenapa kau terlihat panik?"
"Ini gawat, Bos! Irish..."
"Ada apa dengan wanita itu?" tanya Prince santai.
"Dia sudah bertindak sendiri tapi meminta bantuan organisasi."
"Apa maksudmu?" Prince mengerutkan keningnya.
"Dia menculik adik kandung Rakha. Anak angkat Alan Thariq."
Prince menautkan alisnya.
"Sialan! Wanita itu memang selalu melakukan apa yang menurutnya benar. Kau awasi saja dia! Kita tidak akan membantunya, tapi juga tidak mencegahnya."
"Begitukah, Bos? Apa itu tidak berbahaya?"
"Biarkan saja. Aku sudah muak dengan permainannya."
Doc tidak membantah lagi kemudian pergi dari ruang kerja Prince.
.
.
.
Khay bersiap untuk memulai rencananya bersama dengan anggota ISS dibantu dengan Rein dan Ray. Urusan organisasi hitam memang tidak bisa melibatkan polisi.
Sesuai arahan Khay, Liana menemui Irish di tempat yang sudah di tentukan oleh pihak Irish. Sebuah area pergudangan dekat pelabuhan.
Liana tiba disana dan tak melihat satu orangpun dari organisasi berada disana.
Apa Irish melakukan ini sendirian? Tapi rasanya tidak mungkin. Mengingat dia adalah orang kepercayaan Jonas.
Liana berjalan masuk kesebuah boks kontainer yang sudah diberi tanda oleh Irish. Liana membuka perlahan pintu kontainer itu dan melihat sosok Disha yang diikat disebuah kursi.
"Disha!!" Seru Liana langsung mendekati Disha.
Liana menepuk pelan pipi Disha. Ia harus menyadarkan Disha agar bisa berjalam keluar bersamanya.
Namun Disha tetap masih tak sadarkan diri. Liana melepas ikatan yang menjerat tangan dan kaki Disha.
Liana memapah tubuh Disha dengan hati-hati. "Sadarlah, Nak. Kau harus bangun." lirih Liana sambil terus membawa Disha keluar dari area itu.
Namun tidak semudah itu Liana keluar dengan membawa Disha. Tentu saja Irish sudah menghadang mereka ketika Liana keluar dari dalam boks kontainer.
"Wah, wah. Kau memang ibu yang baik, Liana." suara Irish menggema di area yang sepi itu.
"Irish! Jangan sakiti Disha. Aku akan menggantikan dia asal kau melepaskannya." balas Liana.
"Ck ck ck, mengharukan sekali! Tapi aku tidak membutuhkanmu ataupun gadis itu. Aku hanya ingin bersenang-senang bersama kalian."
"Baiklah, kalau begitu lakukan dengan tangan kosong." ucap Liana.
Irish yang sedari tadi menodongkan pistolnya kearah Liana, pun menerima tantangan dari Liana.
Liana meletakkan tubuh Disha dan maju mendekati Irish. Kemudian terjadilah adu kecepatan tangan dan kekuatan.
Irish tidak bisa dianggap remeh. Meski Liana bisa berkelahi, namun fisiknya tak lagi muda. Tetap saja ia tak bisa melawan kegesitan Irish.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya tubuh Liana terjerembab ke tanah bersama dengan Tubuh Disha. Liana memohon agar Irish tidak melenyapkan Disha.
Sekarang Irish sudah kembali menodongkan senjata kearah Liana. Dengan sisa-sisa keberaniannya, Liana melindungi tubuh Disha meski tubuhnya juga terluka.
Saat Irish semakin mendekatkan senjatanya kearah Liana, sebuah suara langkah kaki datang dari arah belakang Liana. Sebuah senyum terbit di wajah Liana.
Namun Irish dengan cepat menghilangkan senyum itu.
"Kowkow, apa kau berhasil melumpuhkan gadis itu?" ucap Irish dengan penuh percaya diri.
Seketika Liana tersadar dan berasumsi jika memang benar Irish tidak datang sendiri. Pasti ada anggota komplotan yang ikut bersamanya.
Saat ini Liana hanya berharap jika Khay bisa menyelamatkan mereka.
"Ya ampun! Jadi pria b*d*h tadi bernama Kowkow. Nama yang jelek!"
"Hah?!" Irish membulatkan mata karena melihat sosok Khay yang menghampirinya.
"Sudah cukup kau melenyapkan banyak orang tidak bersalah. Kini kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu di hadapan ISS." tegas Khay.
__ADS_1
Irish tertawa keras. "Jangan mimpi, gadis j*l*ng. Kau tidak akan bisa mengalahkanku."
"Wah, wah, mulutmu rasanya perlu di sekolahkan lebih dulu ya. Letakkan senjatamu dan kita bertarung secara adil." tantang Khay.
Tanpa menolak, Irish menerima tantangan Khayla.
BUGH
BUGH
Suara pukulan dan tendangan beradu tanpa kenal henti. Akhirnya Khay mendapatkan lawan yang seimbang untuknya.
Irish memang memiliki kemampuan luar biasa dalam hal beladiri. Namun Khay juga tak kalah hebat.
Ketika pertarungan semakin sengit dan masih belum ada yang memenangkan perkelahian, tiba-tiba...
DORRR!!!
Sebuah letupan senjata api berbunyi dan membuat kaget orang yang sedang berkelahi.
Khay mengatur nafasnya usai perkelahiannya dengan Irish. Tubuh Irish perlahan tumbang dan sempoyongan.
Ya, suara tembakan tadi adalah dari pistol milik Liana. Liana sengaja menembak Irish agar perempuan itu melemah. Liana menembak kaki Irish.
Tak lama beberapa orang dari ISS datang dan menolong Disha serta Liana. Mereka membawa tubuh Disha kedalam ambulans. Liana ikut masuk kedalam ambulans.
Sementara Khay mengatur nafasnya dan melirik kearah Irish yang meronta minta dilepaskan. Khay melihat bahwa nasib Irish sangatlah miris.
Sungguh ia telah mengambil jalan yang salah. Khay menatap nanar Irish yang dibawa oleh ISS.
Satu anggota penting komplotan hitam sudah berhasil ditangkap. Kini tinggal dua orang lagi yang belum tertangkap. Tunggu giliran kalian!
.
.
.
Disha dibawa ke rumah sakit dan Liana juga diobati luka-lukanya. Rakha yang sudah diberi kabar oleh Liana langsung menuju ke rumah sakit.
Rakha terlihat sedikit berlarian mencari keberadaan ibu dan adiknya. Ia begitu senang ketika melihat ibunya sudah selesai diobati dan duduk menunggu Disha di ruang perawatan.
"Ibu!" panggil Rakha.
Liana segera berdiri dan memeluk putranya itu.
"Ibu, ibu baik-baik saja?" Rakha memeriksa kondisi Liana.
"Bagaiman Disha?"
"Kondisinya sudah stabil. Tapi dia masih dalam pengaruh obat bius. Dia pasti akan baik-baik saja."
"Syukurlah. Aku hanya memiliki kalian saat ini. Kalian amat berarti untukku."
Rakha kembali memeluk Liana.
"Iya, Nak. Ibu juga hanya memiliki kalian."
Tak lama Rein dan Ray datang ke rumah sakit di susul Ken.
"Bibi tenang saja. Wanita itu sudah ditangani." ucap Ken.
Liana mengangguk.
"Dimana Khayla?" tanya Ken yang tak melihat sosok Khay.
Rakha kini tengah berada didalam kamar rawat Disha. Sedang Liana dna ketiga pria itu berada di luar kamar.
"Aku tidak melihatnya sejak Disha di bawa ke rumah sakit. Aku yakin Khay juga terluka. Meski hanya luka ringan." balas Liana.
"Aku akan mencarinya." ucap Ray cepat.
Ray mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang namun cukup kencang. Ia yakin jika Khay ada di apartemen. Ray cukup hapal dengan perangai Khay.
"Khay!" seru Ray yang melihat Khay sedang berada di rooftop.
"Ray? Kau disini?"
"Harusnya aku yang bertanya begitu. Ayo, kau haru mengobati luka-lukamu." Ray menarik tangan Khay.
"Aku tidak apa-apa, Ray."
"Tidak ada penolakan! Menurutlah, Khay!"
Ray membawa Khay kedalam kamarnya lalu mengambil kotak P3K. Ray mengolesi luka memar di tangan dan kaki juga wajah Khay.
"Kau harus lebih berhati-hati, Khay." nasihat Ray.
"Irish lumayan hebat juga." jawab Khay asal.
"Khay..."
__ADS_1
"Hmm?"
"Khania sudah sadar."
"Eh? Apa?"
"Kakakmu sudah sadar."
Khay terdiam sejenak. Semua kenangan tentang dirinya dan Khania kembali terulang.
"Aku harus menemuinya." tanpa berterimakasih pada Ray, Khay segera pergi.
Namun langkahnya terhenti ketika tiba diambang pintu.
"Terima kasih atas obatnya." ucap Khay sebelum akhirnya benar-benar berlalu dari hadapan Ray.
Khay memanggil ojek yang mangkal di sekitar apartemen dan memintanya berjalan cepat ke rumah sakit. Ada rasa senang dan khawatir menjadi satu dalam hati Khay.
Khay kembali berlari kecil saat tiba di rumah sakit. Satu tahun ini ia tidak melihat Khania. Satu tahun ini ia berjuang agar memecahkan misteri menghilangnya Khania.
Hari ini adalah hari yang di tunggunya. Bertemu kembali dengan saudara kembarnya yang selama ini terpisah.
BRAAKKK!!!
Khay menghempaskan pintu dengan keras hingga membuat Khania terkejut dengan bunyi suara pintu terbuka.
Sejenak dua wanita ini saling menatap. Saling mengenali satu sama lain dan mencoba mencerna arti tatapan masing-masing.
"Khayla..." sapa Khania.
Khay mematung tak percaya jika yang dilihatnya saat ini adalah benar kakaknya.
"Ka..kak..." Khay berucap lirih.
Khania mengangguk kemudian merentangkan kedua tangannya agar Khay memeluknya. Tanpa disuruh kaki Khay mulai melangkah maju mendekati brankar Khania.
Air mata Khay tak terasa telah luruh ke pipinya. Ketika langkahnya sudah sampai, Khay langsung memeluk Khania.
Isak tangis kakak beradik itu pecah sambil saling memeluk. Kerinduan yang amat dalam kini sudah terobati.
Usai isak tangis mereka reda, mereka kini duduk di atas brankar dan saling meminta maaf.
"Maafkan aku, Kak... Aku..."
"Tidak, Khay. Justru kau yang sudah menyelamatkan keluarga Rakha."
"Bukankah kakak yang lebih dulu berkorban untuk keluarga Rakha? Kakak merelakan nyawa kakak untuk menyelamatkannya. Apa yang sebenarnya kakak rasakan terhadap Rakha? Aku memang membohonginya. Tapi kurasa kakak melakukan yang lebih buruk dari apa yang aku lakukan."
Khania merangkum wajah Khayla.
"Kau benar. Aku memang buruk dan juga kotor. Aku banyak melakukan kesalahan di masa lalu. Aku bahkan tidak pantas dicintai."
"Kakak..." Khay mengenggam tangan Khania.
"Khay, bisakah aku meminta tolong padamu?"
"Minta tolong apa, Kak?"
"Aku ... ingin bertemu dengan Rakha. Bisakah kau membawanya kemari?"
"Eh?!"
Rasa sesak itu kembali menyeruak dalam hati Khayla. Semua hal yang ia lakukan akan berakhir sekarang. Kakaknya sudah kembali dan sudah saatnya dirinya pergi.
Disisi lain, Ken yang akan masuk ke kamar Khania, menjadi urung ketika ia mendengar Khania menyebutkan nama Rakha dan ingin bertemu dengan Rakha. Saat itu juga Ken merasa jika perjuangannya selama ini telah sia-sia.
Ken berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit. Hatinya teramat sakit ketika mendengar Khania ingin bertemu dengan Rakha.
Ken menyandarkan tubuhnya ke dinding. Tangisnya tertahan karena tak mau terlihat lemah. Tapi seorang priapun berhak untuk menangis.
"Apakah kau memang tidak akan pernah membuka hatimu untukku, Khania?" Lirih Ken dalam hatinya. Luka yang baru saja terobati kini kembali terbentuk dan bahkan lebih besar dari luka sebelumnya.
...***...
#Bersambung...
*Akankah Khay melakukan apa yang diminta oleh Khania? Lalu bersediakah Rakha menemui Khania kembali?
*Mumpung hari senin, jangan lupa VOTE nya yak.ππ
Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak ππ
Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything πππ
...TERIMA KASIH...
Hai genks, mampir juga ke karya lain author keren di NT, rekomendasi kali ini adalah... Karya milik Bucin fii sabilillah. Silahkan mampir jika berkenan, thank you.
__ADS_1