
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Rein mendatangi Arthur di tempat kerjanya yaitu Scarlet
Tattoo. Ray dan Andre juga datang secara terpisah setelah kedatangan Rein.
Mereka bertiga datang menemui Arthur. Arthur menyambut mereka dengan ramah
seperti biasa.
“Wah, mimpi apa aku semalam, didatangi tiga pria tampan
seperti ini.” ucap Arthur.
“Maaf jika aku mengganggu waktumu. Kebetulan aku sedang ada
dikota ini bersama putraku.” Balas Rein.
“Hmm, aku tahu. Putramu sudah pernah datang kesini dengan
rekannya. Lalu, ada apa kau datang menemuiku?”
“Arthur, aku tahu kau sudah lama melupakan semua masa
lalumu. Tapi, bisakah kali ini kau membantuku?”
“Membantu apa?”
“Kau mungkin sudah lama keluar dari keanggotaan ISS, tapi
aku yakin kau pasti masih punya informasi mengenai mereka.”
Arthur tampak membetulkan posisi duduknya. Ia mendengarkan
dengan seksama apa yang akan dikatakan oleh Rein.
“Apa kau tahu siapa agen ISS yang sekarang ditugaskan untuk
mengawasi pergerakan organisasi hitam?” Tanya Rein.
Arthur hanya membalas dengan seulas senyum. “Aku tidak
tahu.” Jawabnya datar.
“Arthur…”
“Kau sendiri tahu jika aku sudah lama tidak berhubungan
dengan mereka. Aku bahkan menyembunyikan identitasku agar tidak diketahui oleh
organisasi. Aku tidak mau berurusan lagi dengan mereka.”
“Kali ini kami harus melindungi target organisasi.” Ucap Ray
pada akhirnya.
“Kau benar anak muda. Karena gadis yang bersamamu,
organisasi tidak akan tinggal diam. Mereka akan siap bergerak lagi.”
“Jadi, agen itu bisa saja ada disekitar Khay?” Tanya Ray
makin penasaran.
“Aku tidak tahu. Itu adalah tugas kalian sebagai polisi dan
detektif untuk mencari tahu. Jika tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan.
__ADS_1
Silahkan keluar!” ucap Arthur yang terlihat mulai emosi.
“Baiklah. Terima kasih atas waktumu, James Arthur.” Balas
Rein lalu keluar dari ruangan Arthur. Sementara Ray masih bergeming dan
berharap Arthur mau mengatakan sesuatu padanya.
“Pergilah, anak muda. Kau tidak akan mendapatkan apapun
disini.” Ujar Arthur.
Andre menarik tangan Ray agar segera pergi dari sana. Ray
pasrah dan akhirnya ikut keluar bersama ayahnya.
Diluar toko, Rein tampak berkacak pinggang. Ray menghampiri
ayahnya. “Bagaimana ini, ayah?” Tanya Ray.
“Kita tidak bisa memaksa Arthur, Nak. Kita harus menunggu
hingga Khay mau membaca buku harian milik Khania.” Rein menepuk bahu Ray lalu
berjalan menuju mobilnya.
“Apa kita tidak bisa mencurinya saja dari Khay?” usul Andre.
“Jangan, nak. Kita tidak bisa mengkhianati Khay dengan cara
seperti itu. oh ya, dimana Khay sekarang?”
“Dia bilang dia ada makan malam bersama Rakha.” Jawab Ray.
“Hmm, ya sudah. Kalian sebaiknya kembali ke apartemen. Ayah
akan kembali ke Kota D. Andre, kau bisa kembali jika mendapat panggilan dari
Lusi.”
“Baik, paman.” Andre menepuk bahu Ray dan memintanya untuk
segera pergi dari sana.
-Perjalanan menuju rumah Rakha-
Khay hanya terdiam selama di perjalanan. Ia masih merutuki
dirinya sendiri yang menganggap dirinya bersalah pada Khania. Ia juga bingung
dengan perasaannya terhadap Rakha. Benarkah rasa cinta, atau hanya sekedar
terbawa suasana karena Rakha memperlakukannya dengan sangat lembut.
“Sayang… kau belum bercerita, kemarin apa saja yang kau
lakukan hingga harus cuti bekerja?”
“Umm, aku… Aku membantu temanku.” Jawab Khay sedikit ragu.
“Teman? Siapa?”
“Umm, dia temanku dari Kota D, dia baru saja pindah kesini.
Jadi, aku sedikit membantunya. Namanya… Ray. Dia teman kuliahku.” Khay sedikit
menyunggingkan senyumnya agar Rakha tidak curiga.
“Jadi dia seorang pria?”
“Iya. Kenapa? Apa kau cemburu?”
__ADS_1
“Tidak. Aku percaya padamu.” Balas Rakha sambil menatap
kearah Khay.
“Terima kasih.” Khay membalas dengan senyuman yang merekah.
Sesampainya di kediaman Rakha,
Liana menyambut kedatangan putranya dan Khay. Ia sudah tahu
apa tujuan putra sulungnya membawa Khay ke rumah mereka. Khay disambut hangat
oleh Rich, yang memang selalu memihak padanya.
“Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian semua.” Ucap Rakha
disela makan malam.
Semua orang tampak memperhatikan kearah Rakha.
“Maaf jika harus mengatakan ini pada kalian. Aku sudah
membatalkan pertunanganku dengan Disha. Maaf jika harus membuat kalian kecewa.
Tapi aku tidak bisa melanjutkan hubunganku dengannya. Aku mencintai wanita
lain. Wanita yang selalu ada dihatiku sejak tiga tahun lalu. Khania, dia adalah
wanita itu.” Rakha menggenggam tangan Khay.
“Kuharap kalian bisa mengerti dan menerima keputusanku.”
Tutup Rakha.
Tidak ada yang berkomentar. Mereka hanya menerima begitu
saja keputusan Rakha. Hanya Rich saja yang terlihat bahagia dengan pengumuman
yang diucapkan oleh kakaknya.
Usai makan malam, Rakha mengajak Khay ke ruang pribadinya.
Khay melihat banyak buku-buku dan koleksi mainan superhero milik Rakha. Rakha
menyukai tokoh Superman. Ketika mereka sedang berbincang, ponsel Rakha berbunyi
dan ia harus meninggalkan Khay di ruang itu sendirian. Setelah sepuluh menit
Rakha masih belum kembali, Khay memutuskan untuk mencari petunjuk di rumah
besar itu.
Khay keluar dari ruang Rakha dan mengamati kamar-kamar yang
ada disana. Ia yakin bisa menemukan petunjuk disini. Firasat Khay mengatakan
jika salah seorang penghuni di rumah Rakha bisa saja adalah orang dari
organisasi yang menyamar atau pun agen ISS yang menyamar.
Ya, feeling Khay kuat mengenai hal itu. ia memasuki sebuah kamar
yang adalah kamar Niya, adik bungsu Rakha. Merasa tidak menemukan apapun disana
ia pun keluar. Lalu Khay menuju ke kamar yang cukup besar. Ia yakin itu adalah
kamar milik Liana.
Sejak awal Khay memang mencurigai Liana. Entah dia ada
hubungannya dengan organisasi atau ISS. Khay menjelajahi setiap jengkal sudut
__ADS_1
kamar Liana. Ia berharap menemukan suatu petunjuk tentang kematian kakaknya.
#bersambung…