
-Rumah Sakit Pusat Kota M-
Khania mulai membuka matanya. Ia mengerjapkannya pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Ia melihat sekeliling tempatnya terbaring. Ia tahu ini bukan dirumahnya.
Tiba-tiba buliran bening mengalir dari mata gadis kecil itu. Bayangan kehilangan kedua orang tuanya membuatnya kembali bersedih.
Khania mulai bangun dan duduk. Kini ia sadar jika dirinya berada di rumah sakit. Ia melihat sang nenek yang sedang tertidur di sofa dalam kamarnya.
Khania turun dari brankarnya dan berjalan keluar kamar. Sunyi dan gelap. Khania berjalan keluar mencari udara segar.
Napasnya terasa sesak mengingat semua kenangan pahit yang terjadi dalam hidupnya. Gadis kecil itu terus melangkah hingga akhirnya ia tiba di atap gedung rumah sakit.
Angin malam memainkan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Ia menangis tertahan dalam diam.
Tanpa di duga Khania mendengar seseorang yang juga sedang terisak seperti dirinya. Khania mengedarkan pandangan dan melihat seorang bocah lelaki yang sepertinya seumuran dengannya.
Khania menatap bocah lelaki itu penuh tanya. Bocah itu seakan sedang merutuki nasibnya. Lalu setelahnya terdengar suara seorang anak kecil yang menghampiri bocah lelaki itu.
"Kakak! Apa yang kakak lakukan? Kakak jangan tinggalkan aku!" Anak kecil berusia 5 tahun itu menangis sambil memegangi tangan kakaknya.
"Lepaskan! Untuk apa kita terus hidup? Semua orang sudah tidak ada yang peduli pada kita? Tidak ada yang tersisa dalam hidup kita! Lebih baik kita pergi saja menyusul ayah dan ibu!" balas bocah lelaki itu dengan tangis sesenggukan.
Khania tertegun melihat pemandangan memilukan itu. Ternyata nasib kedua bocah itu sama dengannya.
"Jangan, Kak! Kakak tidak boleh mati! Kalau kakak mati bagaimana denganku?" Bocah kecil itu terus menangis dan memeluk tubuh kakaknya.
Bocah lelaki itu terdiam. Ia memejamkan mata dan berpikir sejenak.
"Kita mati bersama saja, Adik! Itu akan lebih baik dari pada menghadapi dunia yang kejam ini! Tidak ada keadilan disini! Tidak ada yang bisa kita percaya lagi di dunia ini!"
Khania membulatkan mata mendengar penuturan bocah lelaki itu.
"Ayo, Adik!" Pria kecil itu meraih tangan adiknya dan membawanya ke tepi atap gedung. Ya, mereka berencana akan melompat ke bawah.
Secepat kilat Khania menarik tangan si adik kecil hingga tubuh mereka terhempas.
"Apa kau sudah gila? Jika kau ingin mati, maka matilah sendiri! Jangan membawa adikmu yang tidak bersalah ini!" teriak Khania yang juga tangisnya telah pecah.
Bocah lelaki itu tertegun karena aksinya dipergoki oleh seorang gadis yang sepantaran dengannya.
"Apa dunia ini terlalu kejam bagimu? Jika begitu, apa mati adalah jalan keluar dari semua masalahmu? Apa dengan mati kau akan bisa membuat semua berakhir? Apa masalahmu bisa selesai hanya dengan kematian?" lanjut Khania.
Pria kecil itu menatap kearah Khania tak percaya. Baru kali ini ia melihat seorang gadis kecil begitu lantang berteriak padanya.
__ADS_1
Tak lama setelahnya, perawat datang ke atap gedung karena mereka mencari keberadaan Khania dan kedua pasien lelaki itu. Amara juga rupanya telah terbangun karena ia tak mendapati Khania ada di kamar rawatnya.
Amara memeluk Khania erat. Wanita paruh baya itu menangis sesenggukan. Ia takut jika cucunya melakukan hal nekat.
......***......
Keesokan harinya, Khania sudah dinyatakan pulih dan dia diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Amara senang cucunya sudah kembali membaik meski raut kesedihan masih tergambar jelas disana.
Tak ada pertanyaan mengenai kedua orang tuanya yang terlontar dari bibir Khania. Gadis kecil itu tampak murung dan hanya merespon seperlunya saja.
Ray datang menjenguk Khania sekaligus melihat kondisi gadis kecil itu.
"Terima kasih sudah datang, Nak Ray," ucap Amara.
"Jangan sungkan, Bibi," balas Ray lalu menatap Khania.
Ray menghampiri Khania. "Syukurlah kau sudah baik-baik saja. Paman harap, kau akan bisa bangkit dari semua kesedihan ini. Paman yakin kau bisa, Khania!"
Khania menatap datar kearah Ray lalu ia menganggukkan kepalanya. Disha dan Dika datang setelah mengurus administrasi kepulangan Khania.
"Sayang, kau sudah siap?" tanya Disha dengan membelai lembut puncak kepala Khania.
Khania hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Mereka berpamitan pada Ray yang ternyata masih ada urusan di rumah sakit itu.
Ray menatap sendu kearah Khania yang pergi bersama keluarganya. "Maafkan aku, Khay. Aku janji aku akan menjaga putrimu dengan baik," gumam Ray.
Ray berdiri di depan ruang rawat pasien itu. Terlihat seorang dokter sedang memeriksa kondisi kedua pasien yang ada disana.
"Jangan ulangi lagi hal seperti itu ya! Percayalah, kalian pasti bisa melewati ini semua," ucap dokter itu.
"Apa kau tidak kasihan dengan adikmu? Dia membutuhkanmu!" lanjut dokter itu.
Ray mengetuk pintu untuk menginterupsi percakapan yang terjadi di dalam. Dokter dan perawat menoleh dan mempersilakan Ray masuk.
Ray melihat ada dua brankar disana. Kakak beradik itu ternyata ada dalam kamar perawatan yang sama. Terlihat sang adik sedang terlelap dalam mimpi.
Ray menghampiri brankar si kakak.
"Apa kabar, Randy?" ucap Ray mencoba menyapa.
"Saya Ray." Ray mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
Bocah lelaki itu hanya memandangi tangan Ray.
__ADS_1
"Randy, ini adalah Tuan Ray. Ayo beri salam padanya!" sahut sang dokter ikut bicara.
"Aku sudah tahu! Dia adalah seorang Agen ISS, bukan? Apa yang sudah didapatkan ISS dari kasus ayahku?" Ucap Randy dengan ketus dan dingin kepada Ray.
Randy Haryanto, seorang bocah lelaki berumur 10 tahun yang kini hidup hanya bersama adiknya setelah kedua orang tuanya meninggal. Ayahnya terjerat kasus korrupsi dan ditangkap oleh pihak berwenang. Namun sebelum disidangkan, ayah Randy meninggal di dalam penjara. Ibunya yang syok mendengar berita kematian ayah Randy, ia menjadi depresi. Hingga akhirnya, ia membakar seluruh rumah dan isinya beserta dirinya dan juga anak-anaknya. Beruntung Randy dan adiknya, Reksa, selamat dari kebakaran itu. Namun ibunya tidak bisa diselamatkan.
Randy dan Reksa di bawa ke rumah sakit untuk mengobati beberapa luka bakar yang dideritanya. Meski tidak parah, tapi rasa trauma mereka yang lebih penting untuk disembuhkan. Sudah 10 hari Randy dan Reksa di rawat di rumah sakit.
Ray tersenyum melihat sebuah kilatan amarah di mata Randy. Ia tahu jika bocah lelaki itu marah pada dunia. Marah pada semuanya yang telah merenggut seluruh kebahagiaannya hingga tak bersisa.
"Dokter, setelah ini mereka akan tinggal dengan siapa? Jika tidak ada kerabat lain, saya bersedia merawat mereka," ucap Ray.
"Rencananya kerabat jauh dari mendiang ayahnya bersedia untuk merawat mereka berdua, Tuan Ray," jawab dokter.
"Jangan sok peduli! Kami tidak butuh belas kasihanmu!" bentak Randy.
Dokter ingin melerai Randy namun dicegah oleh Ray. Ia malah meminta dokter dan perawat itu untuk keluar dari ruang rawat Randy.
Sepeninggal dokter dan perawat, Ray kembali mendekati Randy.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi pada keluargamu. Aku turut berduka." Ray memegangi kedua bahu Randy.
"Tegarlah, Nak! Kau harus kuat! Kau harus buktikan pada dunia jika kau bukanlah anak yang lemah. Aku yakin suatu saat nanti kau akan menjadi pria yang hebat. Buatlah kedua orang tuamu bangga dan melihatmu sukses dari atas sana."
Ray merogoh sakunya dan memberikan sebuah liontin berbentuk bulat pada Randy.
"Simpanlah ini! Ingatlah jika aku selalu mendukungmu dan mendoakanmu. Lakukanlah yang terbaik untukmu dan adikmu!" Ray melirik Reksa yang masih terpejam.
"Aku permisi dulu! Semoga saat kita bertemu lagi nanti, aku melihatmu berubah menjadi sosok yang hebat!" Ray mengacak pelan rambut Randy kemudian berlalu.
Randy menatap kepergian Ray nanar. Ia melihat tangannya yang memegang sebuah liontin yang ternyata adalah sebuah medali.
"Medali penghargaan?" Randy mengernyitkan dahi membaca tulisan yang ada di medali itu.
Mata Randy menghangat. Ia keluar kamar dan mencari keberadaan Ray.
"Paman! Paman Ray!" teriak bocah itu dengan tangis yang sudah tak bisa lagi dibendung.
Ray yang baru melangkah pelan, membalikkan badannya.
"Aku janji aku akan menjadi orang yang hebat seperti Paman!" ucap Randy dengan tekad kuat bersama dengan derai air mata.
Ray tersenyum mendengar penuturan Randy. Ia mengangguk sebagai tanda jika dirinya begitu bangga dengan Randy.
__ADS_1
#bersambung
*Sedikit emosional ketika membuat part ini. Semoga kalian masih setia menanti kisah ini Up ya kesayangan. Jangan lupa tinggalkan jejak 😘