
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Malam ini, Khay bersiap dengan memakai gaun panjang milik
kakaknya. Ray yang memilihkan gaun itu untuknya. Maklum, keahlian Khay memilih
gaun masih belum mahir.
Pukul tujuh malam, Rakha menjemput Khay di apartemennya.
Khay terlihat sempurna di mata Rakha. Rakha memeluk Khay dengan erat. Kini
dekapan Rakha seakan candu untuk Khay. Selama ini ia merindukan pelukan seorang
pria yang mencintainya. Yah, walau Khay tahu, hati Rakha hanya untuk Khania,
kembarannya.
Perjalanan sekitar tiga puluh menit untuk sampai di kediaman
mewah Rakha terasa sangat cepat untuk Khay. Ia mulai gugup ketika mobil Rakha
mulai memasuki halaman depan rumah Rakha. Khay melihat sekeliling mansion mewah
itu. Ia kagum dengan arsitektur bangunan mewah itu. Pasti selera penghuninya
sangatlah tinggi. Tapi yang tidak bisa Khay bayangkan adalah, kenapa Rakha
jatuh cinta dengan gadis biasa seperti kakaknya?
Sementara itu, didalam mansion mewah itu anggota keluarga
sudah berkumpul di ruang tamu.
“Benarkah kakak akan membawa Khania kemari, Bu?” Tanya Rich
yang terlihat antusias.
Liana hanya menjawab dengan anggukan.
“Hmm, kenapa kakak masih berhubungan dengan gadis itu? Dia
‘kan sudah meninggalkan kakak?” Niya sepertinya tidak menyukai kehadiran Khania
di tengah keluarga mereka lagi.
“Kita lihat saja dulu apa yang diinginkan gadis itu.” Ujar
Liana.
“Palingan dia hanya ingin uang Kak Rakha saja, iya ‘kan Bu?”
timpal Niya.
“Hei, jangan bicara sembarangan! Aku tahu Khania bukan gadis
__ADS_1
yang seperti itu.” Bela Rich.
Dan tak lama, orang yang mereka bicarakan pun datang. Rakha
menggenggam tangan Khay erat.
“Selamat malam semuanya…” sapa Rakha.
“Selamat malam, sayang…” Liana berdiri dan memeluk putranya.
Membuat tangan Rakha terlepas dari genggaman Khay.
Khay bisa melihat ada tatapan tidak suka dari Liana. Namun
Khay sebisa mungkin tersenyum manis. Ia tidak mau terlihat sebagai Khania palsu
yang menunjukkan amarah.
“Hai, Khania. Bagaimana kabarmu? Kau menghilang lama sekali,
huh!” sapa Rich dengan santai.
“Hai juga, Rich. Aku baik. Ada beberapa urusan yang harus
kuselesaikan, jadi….”
“Sudahlah, sebaiknya kita langsung ke meja makan saja.”
Potong Liana pada kalimat Khay.
Khay hanya tersenyum dan ikut menuju meja makan.
.
.
.
memang seumuran dengannya. Khania menulis dibuku hariannya jika Rich adalah
orang yang menyenangkan. Dan itu memang benar. Khay mengakuinya.
Sementara Rakha, ia sedang bicara dengan ibunya. “Rakha, apa
kau yakin dia masih orang yang sama?”
“Tentu saja, Bu. Memang apa yang berbeda?”
“Entahlah, ibu merasa jika dia bukanlah Khania yang dulu…”
“Mungkin karena ibu sudah lama tidak bertemu dengannya, jadi
ibu merasa dia berbeda. Dia masih Khania yang sama, Bu…”
“Hmm, ya sudah. Ibu menyerahkan semuanya padamu. Tapi… ibu
sangat tidak setuju jika kau menyakiti Disha.”
“Bu… Aku tidak mungkin memiliki dua wanita sekaligus…”
__ADS_1
“Tentu saja bisa. Kau pria yang sangat mampu untuk itu…”
“Apa maksud ibu? Ibu memintaku menikahi dua wanita
sekaligus? Yang benar saja! Tidak bisa, bu. Aku akan bicara lagi dengan Disha.
Bila perlu aku akan bicara dengan Om Alan juga.”
Liana tidak habis pikir dengan pikiran putra sulungnya itu.
Dia selalu keras kepala jika menyangkut soal Khania.
Khay menghampiri Liana yang nampak sendiri berdiri di balkon
lantai atas. “Ibu…” panggil Khay dengan suara lembutnya.
“Kau datang…” ucap Liana dengan memejamkan matanya.
“Eh?” Khay tidak mengerti dengan dua kata yang Liana
ucapkan.
“Untuk apa kau datang kembali di kehidupan putraku?” Tanya Liana
berhadapan dengan Khay.
Khay menelan salivanya. Kakaknya bilang jika mereka sangat
dekat, Rakha juga bilang begitu. Tapi ini….
“Apa maksud ibu?”
“Aku tahu kita pernah sangat dekat. Tapi, itu semua hanyalah
sandiwara…”
Khay membulatkan matanya sempurna. “Apa ini? Pernyataan apa ini?” batin Khay bertanya-tanya.
“Putraku sangat mencintaimu. Begitu juga denganmu. Tentu saja
aku harus berusaha dekat denganmu, bukan? Tapi…..” Liana sengaja menggantung
ucapannya. Ia ingin melihat reaksi Khay lebih dulu.
“Apa kau masih mencintai putraku?” Tanya Liana dengan
menyelidik tajam ke mata Khay.
“Aku…. Aku….” Entah kenapa Khay merasa ditelanjangi dengan
tatapan Liana.
Kenapa dia menatapku
begitu? Apakah dia tahu jika aku bukanlah Kak Khania?
Ketika Khay sedang mencari jawaban yang bagus untuk Liana,
Rakha datang menginterupsi percakapan mereka.
__ADS_1
“Ibu, Khania, kalian ada disini rupanya…”
#bersambung…