
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Rakha menghubungi ponsel Khay berulang kali, namun tidak ada
satupun penggilan yang dijawab. Rakha mulai cemas. Ia takut terjadi sesuatu
dengan kekasihnya itu. Ia mengepalkan tangannya dan rasanya ingin langsung
menemui Khanianya.
Sementara itu, Khay masih mematung usai membaca lembar
pertama buku harian milik Khania. Andre membuka kartu memori yang ada di dalam
brankas dan mencari tahu apa isinya.
Ray memberikan ponsel Khay yang sedari tadi bordering. “Angkatlah,
Khay. Aku yakin dia mengkhawatirkanmu. Jika tidak, dia malah akan datang kemari
menemuimu.” Ucap Ray.
Dengan berat hati, Khay mengangkat panggilan dari Rakha. Ia juga
takut jika Rakha tiba-tiba datang ke apartemennya sementara ia sedang mencari
jawaban dari teka teki kakaknya.
“Halo…” sapa Khay.
“…………”
“Maaf tadi aku sedang di kamar mandi.”
“………….”
“Iya, aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Besok aku
berangkat ke kantor.”
“………….”
“Aku juga merindukanmu…”
Panggilan berakhir.
Ray dan Rein menatap Khay. “Sepertinya kau sangat totalitas
dalam menjalani peran ini ya.” Ucap Rein.
“Hmm, begitulah Paman.” Jawab Khay dengan tersenyum kikuk. “Paman,
aku rasa aku tidak bisa membaca buku harian ini lagi. Sebaiknya… tolong
jelaskan semuanya padaku.” Pinta Khay.
“Kau yakin ingin mendengarnya, Nak?” Tanya Rein dengan
melirik kearah Ray.
Ray salah tingkah dengan tatapan sekilas dari ayahnya. Ia memutuskan
untuk mencairkan suasana. “Oh ya, kita sudah melewatkan makan siang. Sebaiknya kita
makan malam dulu. Aku akan keluar untuk membelikan makanan.” Ray pun undur diri
__ADS_1
dan segera keluar dari kamar Khay.
“Sebenarnya ada apa, Paman?” Tanya Khay karena merasakan ada
yang aneh dengan sikap Ray.
“Nak, kakakmu sudah terlibat dengan organisasi hitam yang
bernama Black Jack. Pendirinya adalah Jacob Wilder.” Jelas Rein.
“Organisasi hitam? Black Jack? Lalu siapa pria bernama
Jonas?”
“Dia adalah putra Jacob. Apa kau sudah menemukan makna dari symbol
Imoogi?”
“Hu’um, itu adalah hewan mitologi yang disamakan dengan ular.
Ia mengisap darah untuk bertahan hidup.” Jawab Khay.
“Benar. Itulah kenapa organisasi hitam menggunakan symbol itu.
Karena mereka harus melenyapkan nyawa dari korbannya.” Lanjut Rein.
“Apa?” Khay menutup mulutnya tidak percaya.
“Mereka merekrut anggota dengan cara seperti mencuci otak
calon anggotanya. Dan kakakmu terseret masuk kedalamnya. Dan juga… cinta
pertama Ray.”
“Cinta pertama Ray?” Khay masih tidak paham dengan semua
penjelasan Rein.
gadis bernama Zevanya. Gadis itu adalah salah satu anggota dari Black Jack. Ray
adalah target dari gadis itu.”
“Target?”
“Sepuluh tahun lalu sebelum Ray menjadi target, ada seorang
pria yang lebih dulu menjadi targetnya. Dia seorang pengusaha suksesdi Kota M. Ketika
pergerakan organisasi mulai terendus oleh polisi dan ISS, seorang agen ISS
menyamar masuk kedalam organisasi agar bisa mengawasi pergerakan mereka dan
sekaligus melindungi pria yang menjadi target itu. Namun ternyata agen ISS itu
gagal melindungi target dan agen itupun juga terluka parah hingga dirinya
lumpuh. Organisasi menganggap jika agen yang menyamar itu sudah meninggal. Namun
ia masih hidup. Setelah target dilenyapkan, polisi berhasil menangkap Jacob dan
memenjarakannya di penjara kelas berat di Pulau Natu.”
“Apa itu ISS, Paman?” Tanya Khay.
“ISS adalah agen rahasia yang dibentuk oleh pemerintah untuk
mengurus kasus yang tidak tercium oleh publik. Kepanjangannya adalah Indonesia
Secret Service.” Sahut Andre.
__ADS_1
“Karena dendam ayahnya di penjarakan oleh polisi, maka putra
Jacob yaitu Jonas, menargetkan Ray untuk menjadi sasaran mereka selanjutnya. Organisasi
merekrut Zevanya untuk mendekati Ray agar lebih mudah masuk perangkap mereka.” Lanjut
Andre.
“Jadi… Orang yang sudah berhasil menangkap Jacob adalah
Paman Rein?” tebak Khay.
“Benar, Nak. Karena Paman akhirnya Ray terlibat dalam bahaya
ini. tapi…gadis itu tidak bisa melenyapkan Ray karena ia mencintai Ray, begitu
juga dengan Ray. Di hari yang seharusnya menjadi hari eksekusi untuk Ray, gadis
itu memutuskan untuk melenyapkan dirinya sendiri dan membiarkan Ray hidup.” Jelas
Rein.
Khay tercengang mendengar cerita pilu Ray.
“Putraku mengalami trauma yang cukup parah. Aku bahkan harus
membawanya ke psikiater untuk mengobati rasa traumanya akibat melihat gadis yang
dicintainya bunuh diri didepan matanya.” Lanjut Rein.
Ingatan Khay mulai mengembalikan memori saat pertama kali ia
bertemu dengan Ray. Anak- anak dikampus tidak ada yang berani mendekati Ray
karena menganggap Ray anak yang aneh.
-Flashback-
“Hei, lihat anak itu! Dia ‘kan si aneh itu.”
“Iya benar, jangan dekat-dekat dengannya.”
“Kudengar dia sempat menjalani rehabilitasi di rumah sakit
jiwa.”
“Apa? Apa dia gila?”
“Kenapa kampus kita menerima mahasiswa gila seperti dia?”
Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang menyakitkan hati
di lontarkan untuk Ray. Entah kenapa Khay malah tidak terpengaruh dengan
omongan teman-temannya, dan malah berusaha untuk berteman dengan Ray.
“Hai, kau sedang apa?” sapa Khay. Dan awalnya Ray sama sekali tidak
merespon.
“Wah, kau suka membaca komik detektif juga? Aku juga suka!”
Khay tersenyum tulus saat berusaha berteman dengan Ray.
Dan lama kelamaan Ray mau membuka diri. Ia juga mulai mau
berteman dengan Khay. Sedikit demi sedikit trauma yang dialami Ray perlahan
menghilang, dan itu berkat Khay.
__ADS_1
#bersambung…