
Usai menghadiri persidangan Alan Thariq, Disha dan Rakha kini ada parkiran gedung pengadilan.
"Kau yakin ingin pergi sendiri?" ucap Rakha.
"Iya, kak. Lagipula kakak juga harus bekerja." sahut Disha.
"Iya. Hari ini kakak harus ke Kota D. Cabang disana mengalami masalah."
"Kakak, jika kakak butuh bantuanku, katakan saja. Aku masih menyimpan uang untuk membantu perusahaan kakak."
"Tidak perlu. Kau simpan saja uangmu. Kau pasti lebih membutuhkannya."
Raut wajah Disha kembali murung.
"Sudahlah. Jangan memikirkan apa yang dikatakan Om Alan tadi. Kita akan memulai semuanya dari awal lagi."
"Iya, kak."
"Setelah semua masalah ini selesai, kakak ingin kalian segera menikah."
"Kakak, apa harus secepat ini?"
"Hal baik untuk apa di tunda-tunda."
Disha menghambur memeluk Rakha.
"Kakak, terima kasih."
"Sejak dulu aku menganggapmu sebagai adikku. Dan ternyata memang benar, kau adalah adikku."
Usai berpelukan Disha masuk kedalam mobilnya dan melaju pelan meninggalkan area pengadilan. Kemudian, Rakha dan Dika pun juga ikut pergi dari tempat itu.
Di tempat berbeda, seorang wanita cantik dengan pakaian seksinya berjalan memasuki rumah tahanan khusus wanita. Suara sepatu heels si wanita itu terdengar jelas menggema di ruangan yang sepi itu.
Wanita cantik dan seksi yang tak lain adalah Irish segera menemui penjaga rutan itu.
"Permisi, Nona. Anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya si penjaga.
"Saya ingin bertemu dengan tahanan bernama Ghaniya Thariq. Bilang padanya jika pria bernama Jonas ingin bertemu dengannya."
"Baik, silahkan masuk. Sebelumnya anda harus di periksa lebih dulu di bagian pemeriksaan."
Irish mengangguk paham kemudian berjalan masuk.
__ADS_1
Irish mengedarkan pandangannya dan memilih kursi yang kosong untuk duduk.
Tak lama seorang sipir wanita membawa Niya bertemu dengan tamunya. Niya melihat sekeliling dan mencari sosok Jonas. Namun ternyata dia tidak menemukannya.
"Ibu, mana tamu untukku?" tanya Niya pada sipir tahanan.
"Aku!!!" seru Irish.
"Hah?! Irish?" Niya terkejut.
"Ibu, bukankah kau bilang jika tamuku adalah seorang pria? Kenapa dia...?" tanya Niya.
"Duduklah, Niya! Aku memang sengaja memakai nama Jonas agar kau bersedia menemuiku." ujar Irish santai.
"Hah?! Apa maksudmu?"
Dengan terpaksa Niya pun duduk berhadapan dengan Irish.
Irish menatap Niya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ckckck, miris sekali nasibmu anak manja." ucap Irish.
Niya tak menjawab dan memalingkan wajahnya.
"Apa kau pikir Jonas bersedia menjengukmu? Kau bahkan hampir menghancurkan bisnisnya. Jika saja kau tidak membunuh Rich dengan gegabah, maka semua ini tidak akan terjadi. Kau lihat sendiri dari perbuatanmu, bukan? Ayahmu kini juga mendekam di penjara, sama sepertimu."
Niya masih bergeming dan tak mau menanggapi kata-kata Irish. Hatinya memang sakit karena kini ia hanya sendiri menunggu hukuman mati untuknya. Tak ada lagi orang-orang yang menyayanginya seperti dulu.
Dalam hatinya yang terdalam, Niya mulai menyesali semuanya. Jika saja ia tetap menjadi adik Rakha, mungkin semua ini benar tidak akan terjadi.
"Hari ini adalah sidang putusan ayahmu. Kau sudah dengar?" Irish kembali bicara.
"Hah?!"
"Dia akan dijatuhi hukuman mati juga sepertimu."
Ada secercah kesedihan di wajah Niya. Sungguh ia ingin bertemu dengan ayahnya untuk terakhir kalinya.
"Setelah ini, kau harus merelakan Jonas untuk bersamaku." tegas Irish.
"Katakan padanya, bisakah aku menemuinya sekali saja?" ucap Niya dengan suara bergetar.
"Tidak bisa. Dia tidak akan mau menemuimu. Kau harus sadar diri."
__ADS_1
Niya menitikkan air mata.
"Kau tahu..." Irish memajukan badannya mendekat kearah Niya.
"Aku memiliki seorang putra dari Jonas."
"Hah?!" Niya membulatkan mata.
"Hubungan kami bahkan sudah sejauh itu. Terlepas dari hobi Jonas yang suka bermain wanita. Kami memiliki sesuatu untuk tetap bersama."
"Baiklah. Aku kalah, Irish. Kali ini kau menang. Tapi lihat saja. Aku yakin saudara kembar Khania akan membalas semuanya pada Jonas dan juga organisasi."
Irish mengepalkan tangannya. Ia ingin membalas ucapan Niya, namun gadis itu sudah lebih dulu beranjak dari duduknya dan kembali masuk kedalam sel tahanan.
"Sial!!! Berani sekali dia bicara begitu padaku! Kita lihat saja siapa yang akan menang. Aku punya rencana indah untuk bisa menghancurkan mereka satu persatu." gumam Irish dengan senyum menyeringai.
Irish segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, apa kau sudah mengawasi gadis itu?"
"Sudah, bos. Sepertinya gadis itu kini tengah bekerja sendiri tanpa di temani siapapun."
"Hmm, bagus. Laporkan selalu padaku. Sebentar lagi aku akan menemuinya."
"Baik, bos."
Irish menyimpan kembali ponselnya dan keluar dari rumah tahanan itu dengan senyum manis yang mengerikan.
...***...
Setiap perbuatan, entah itu baik ataupun buruk,
semua akan ada karma yang mengikutinya...
...***...
#Bersambung...
Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak ππ
Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything πππ
...TERIMA KASIH...
__ADS_1