RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 059


__ADS_3

Rakha sedang berada di luar kantor dan memeriksa kelengkapan dokumen yang akan dipakainya meeting pukul tujuh nanti. Mereka menunggu di sebuah kamar hotel yang sudah di siapkan Dika untuk beristirahat sejenak sebelum acara pertemuan.


"Dik, dokumen yang kau buat kemarin ada dimana?" tanya Rakha.


"Eh? Bukankah sudah kuserahkan padamu?" balas Dika.


"Tidak ada. Apa masih tertinggal? Sudah kucari berulang kali tapi tidak ada." ucap Rakha sambil sibuk mencari dokumen yang dimaksud.


"Ya sudah. Aku akan ke kantor sekarang juga. Semoga saja waktunya masih cukup." Dika segera bergegas kembali ke kantor.


Dika mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Sesekali sambil melirik kearah jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Jalanan kota jam-jam pulang kantor memang lumayan padat.


Tiga puluh menit kemudian Dika tiba di gedung kantor. Ia memarkirkan asal mobilnya di halaman depan kantor.


"Sudah pukul enam, masih ada waktu satu jam sebelum meeting dimulai. Aku harus cepat!" gumam Dika.


Saat melewati lobi, terdengar ribut-ribut di samping kanan lobi yang memang agak sepi dan tertutup. Dika memperhatikan ada empat karyawati disana. Dan salah satunya adalah...


"Khania?!" Mata Dika membelalak sempurna.


Sayup-sayup Dika mendengar suara kemarahan dari bibir Khay yang ditujukan kepada tiga karyawati disana.


"Apa itu tadi? Kenapa Khania bisa bersikap sekasar itu pada karyawati disini? Rasanya tidak seperti Khania yang kukenal..." gumam Dika tercengang.


Dika melihat Khay keluar dari lobi kantor dan menuju halaman depan. Seorang pengendara ojek online sudah menunggunya. Namun sebuah mobil juga menghampirinya.


TIIINNN


TIIIIINN


"Ikutlah saja denganku!!!" ucap seorang pria dari dalam mobil.


Khay memutar bola matanya malas. Ia pun meminta maaf pada pak ojek lalu memberikan uang kompensasi karena membatalkan transaksinya.


"Maaf ya, Pak. Ini sebagai ganti rugi." Khay menyerahkan uang satu lembar pecahan lima puluh ribu.


"Wah, terima kasih, nona." balas tukang ojek itu.

__ADS_1


Khay segera masuk kedalam mobil, dan mobil pun melaju meninggalkan halaman kantor. Dika masih tercengang melihat kejadian tadi. Ia juga bingung mobil siapa yang membawa Khay tadi. Dan Dika melupakan tujuan utamanya datang lagi ke kantor.


"Astaga! Kenapa aku malah berhenti disini? Bukankah aku harus mengambil dokumen yang tertinggal? Ini semua karena Khania. Setelah dia kembali memang banyak yang aneh tentangnya. Kenapa Rakha tidak menyadarinya? Pasti karena tertutup cinta yang begitu besar, makanya Rakha tidak bisa melihat itu. Dasar budak cinta!" Dika terus menggerutu sambil berjalan cepat menuju ruangan Rakha.


Sementara, ketiga karyawati itu juga ikut tercengang saat melihat Khay masuk kedalam mobil yang tidak mereka kenal.


"Itu bukan mobil Pak Bos 'kan?" tanya karyawati satu.


"Bukan. Tadi sempat kulihat seorang pria yang membawanya." balas karyawati dua.


"Cih, dasar murahan! Memang benar dia murahan tapi berlagak seperti perempuan suci." karyawati yang sedang memegangi tangannya yang sakit karena dipelintir oleh Khay, kini tersenyum senang mengumpati Khay.


.


.


Ken melirik ke arah Khay yang terlihat kesal. Sejak masuk kedalam mobilnya tadi, Khay hanya melipat tangannya dan mulutnya terus mengumpat tidak jelas.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu di kantor?" tanya Ken.


"Iya. Aku baru saja memberi pelajaran pada gadis yang mulutnya tidak disekolahkan. Mengaku sebagai gadis berpendidikan tapi mulutnya seakan tidak pernah sekolah."


Khay menatap tajam kearah Ken. "Apa katamu?!" Khay menaikkan nada suaranya.


"Aku hanya tidak mau mereka menghina kakakku. Karena sekarang aku sedang memakai namanya. Meskipun pada kenyataannya... Kakakku memang murahan!" ucap Khay sambil memalingkan wajah.


Ken tahu ada semburat kekecewaan yang amat dalam yang dirasakan oleh Khay. "Jangan membencinya..."


"Kau sudah mengatakannya berulang kali. Tidak perlu mengatakannya lagi! Lagipula, apa yang kau lihat dari kakakku? Dia sudah menjadi wanita kotor, dia..." Khay tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Ada seulas kesedihan dan kekecewaan yang bercampur menjadi satu dalam sorot mata Khay.


"Mungkin itulah kenapa dia mati dengan cara mengenaskan seperti itu..." lirih Khay yang masih bisa di dengar oleh Ken.


.


.


Pukul delapan malam, meeting bersama klien telah selesai. Dika merasa tidak tenang selama meeting berlangsung. Bukan karena memikirkan Khay yang bersikap kasar, namun karena janji yang sudah ia buat dengan Liana.

__ADS_1


Ketika meeting akhirnya usai, Dika berpamitan pada Rakha.


"Bos, kau bisa menyetir mobilmu sendiri 'kan?" tanya Dika.


"Yeah, tentu saja. Apa kau ada urusan? Kau terlihat terburu-buru."


"Iya, bos. Aku sudah ada janji."


"Hmm, baiklah. Kau boleh pergi."


Secepat kilat Dika pergi dan berjalan cepat keluar dari hotel lalu menyetop taksi dan langsung menaikinya. Ia mengirimkan pesan pada Liana untuk bertemu di sebuah unit apartemen.


Dika tiba lebih dulu disana. Lalu sejurus kemudian, Liana datang bersama Rein.


"Silahkan masuk, Bibi Liana, Tuan..." ucap Dika.


Mereka duduk di sofa kamar apartemen dimana Dika menemukan Disha.


"Maaf aku sudah lancang mengundang bibi kemari."


"Tidak apa, nak. Perkenalkan, ini Rein, dia seorang kepala polisi."


"Halo, nak. Paman sudah mendengar cerita tentangmu dari Liana. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Rein tanpa berbasa basi lagi karena melihat raut wajah Dika yang panik.


"I-itu... Soal Disha..."


"Disha? Ada apa dengannya?" Liana ikut cemas mendengar Dika menyebut nama Disha. Setelah pertunangannya dengan Rakha batal, Liana memang tidak mendengar kabar Tentang Disha lagi.


Dan mereka juga melupakan jika saat penculikan Khay, Disha juga menghilang. Namun seakan tidak ada yang peduli padanya. Karena pihak Rein menganggap jika Disha lah yang menyerahkan Khay pada organisasi hitam.


"Disha menghilang, Bi." ucap Dika dengan bibir bergetar.


"Apa?!" Liana memekik tidak percaya.


.


.

__ADS_1


#bersambung dulu ya shay...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan mamak ๐Ÿ˜˜๐Ÿ‘๐Ÿ’Ÿ


__ADS_2