RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 087


__ADS_3

Setelah menceritakan semua kebenaran tentang dirinya pada Dika, Khay merasa satu bebannya sedikit terangkat, meski beban tentang Rakha masih menggelayuti hatinya.


"Terima kasih karena kau sudah bicara jujur. Maaf aku juga sempat curiga jika kau bukanlah Khania yang asli." ucap Dika.


Khay hanya tersenyum.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Dika.


"Entahlah. Aku masih belum bisa mengatakan semua ini pada Rakha."


"Apa kau takut Rakha membencimu?"


"Mungkin."


"Apa kau mencintainya?"


"Eh?"


Khay menerawang jauh. Hatinya memang sudah tertambat pada Rakha. Bahkan seluruh raganya sudah menjadi milik Rakha.


"Khayla..." panggil Dika.


Khay menoleh kearah Dika.


"Sebaiknya jangan memaksakan dirimu. Kau sudah seharian ini berada di kantor polisi. Lebih baik kau istirahat. Soal Rakha kau pikirkan saja nanti. Saat ini dia sedang sakit. Jangan membuatnya mengkhawatirkanmu."


"Terima kasih, Dika."


"Ayo! Aku akan mengantarmu pulang."


Khay mengangguk. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran mobil.


Selama di perjalanan, Khay dan Dika hanya terdiam. Masih belum ada percakapan diantara mereka.


Sesekali Dika melirik kearah Khay. Ia tahu jika Khay menyimpan beban yang cukup berat.


"Umm, Khayla..."


"Eh? Ada apa?"


"Sebenarnya apa pekerjaanmu? Aku sudah tahu dari Ken jika kau menembak Niya. Tapi... Kami tidak memberitahu Rakha karena tidak ingin dia mencurigaimu." ucap Dika ragu.


Khay tersenyum.


"Aku menyamar sebagai kakakku karena aku ingin menyelidiki misteri kematiannya. Aku pikir keluarga Rakha ada hubungannya dengan ini. Dan ternyata memang benar. Niya lah yang sudah mengatur semuanya."


Dika merasa iba pada Khay.

__ADS_1


"Lalu, setelah mengetahui semuanya, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku masih belum tahu. Kau tahu Dika, dibalik semua kerumitan ini, masih banyak misteri yang tersimpan."


"Semoga kau bisa menyelesaikan ini dengan baik. Aku mendukungmu, Khayla."


Khay kembali tersenyum. Senang rasanya mendengar ada satu orang yang mendukungnya.


"Tolong antarkan aku ke apartemen lamaku."


"Eh? Kau tidak ingin kembali ke rumah Rakha?"


"Malam ini aku ingin menginap disana saja. Tolong ya!"


"Baiklah. Semoga kau bisa menemukan jawaban dari semua masalah ini."


"Terima kasih, Dika."


Khay turun dari mobil Dika dan melangkah masuk ke dalam apartemen lamanya. Setelah tiba di depan kamarnya, ia merasa ragu untuk masuk dan malah berjalan ke arah rooftop.


Khay masih ingin menghirup udara malam yang terasa sejuk meski diantara gedung-gedung yang tinggi. Khay memejamkan mata seolah tak ingin hari esok cepat datang.


Disisi lain, Liana mendapat pesan dari Ken yang memintanya untuk datang ke sebuah rumah sakit. Tanpa curiga apapun, Liana datang kesana dan bertemu dengan James. Liana terkejut karena mendapati mantan anggota ISS itu ada disana.


"James, ada apa ini sebenarnya? Kenapa Ken memintaku datang kemari?" tanya Liana yang mengerutkan dahinya.


"Rein? Kalian...? Tolong jelaskan padaku sekarang juga, Ken!" Liana nampak mulai menahan emosinya.


"Maaf, Bi. Aku akan menjelaskan semuanya pada Bibi. Kumohon tenanglah!" jawab Ken.


Ken membawa Liana masuk kedalam kamar perawatan Khania. Liana amat terkejut melihat Khania terbaring koma di ranjang.


"Kau!!! Kenapa kau melakukan ini?!" Liana amat kecewa dengan Ken.


Liana keluar dari kamar itu dan berkacak pinggang.


"Tenanglah dulu, Liana. Kau harus dengarkan apa kata Ken lebih dulu."


"Rein! Kau bahkan membelanya! Apa kau tahu bagaimana perasaan Khay jika mengetahui ini semua? Kau bahkan menganggapnya sebagai putrimu. Tapi kau malah menyakitinya."


"Ini semua sudah terjadi, Liana. Kita tidak bisa berbuat apapun. Tapi satu yang aku yakini, jika saat Khania sadar nanti, dia bisa menuntun kita kepada organisasi hitam." tutur Rein.


"Hah?! Apa katamu?"


"Dia adalah anggota organisasi. Pasti dia tahu banyak tentang itu. Kita bisa memanfaatkan Khania untuk itu."


Ken hanya mendengarkan perdebatan dua orang dewasa didepannya.

__ADS_1


"Saat ini kondisi Khania belum stabil, Bibi. Jadi aku meminta dokter agar membuatnya koma hingga waktu yang tidak ditentukan." ucap Ken.


"Apa maksudmu? Ini sama saja dengan membunuhnya."


"Tidak, Bi. Khania memang berniat mengakhiri hidupnya setelah siuman. Tapi aku yakin, ada hal dalam dirinya yang masih membuatnya bisa bertahan hidup. Kita akan lihat seperti apa keinginannya untuk hidup lalu dia bisa kembali ke alam sadarnya." terang Ken.


"Aku tidak mengerti, Ken."


"Kurasa yang harus kita lakukan sekarang adalah... Melindungi Khania agar tidak terendus oleh organisasi hitam. Setelah Niya tertangkap, Aku yakin mereka akan mencari celah untuk menyerang. Aku sangat hapal gerak gerik Jonas."


"Jika begitu seharusnya kau sembunyikan saja dia terus. Kenapa malah memberitahu kami?" sungut Liana.


"Karena aku tidak bisa bekerja sendirian. Kumohon, Bibi..."


Liana menghela nafasnya. "Sulit sekali bekerja bersama anak muda sepertimu, Ken. Kau selalu melakukan hal yang kau anggap benar." timpal Liana.


"Sebaiknya kita jangan terlalu mencolok. Akan mengundang tanya jika kita berkumpul seperti ini." sahut James.


"Iya, Paman. Kita akan bergantian jaga saja." usul Ken.


Rein mengangguk.


"Paman Rein, maaf aku sudah memberitahu Ray soal ini. Dia mengikutiku, jadi aku tidak punya pilihan lain."


"Tidak apa, Nak. Aku yakin Ray akan mengerti tentang keputusanmu ini."


"Malam ini biar aku saja yang disini. Kalian pulanglah!" ucap Ken.


Rein, James dan Liana pun meninggalkan area rumah sakit dan pulang ke rumah masing-masing.


...***...


...***...


#bersambung...


Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak 😊😊


Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ


...TERIMA KASIH...


Yuks mampir juga ke dunia halu mamak yg lain...



Raanjhana masuk ke season 2 ya shay, dengan judul "Om Dirga, I Love You". Mature content alias konten dewasa, yg belum cukup umur harap jangan mendekat, hehehe...

__ADS_1


__ADS_2