
-Rayshard PoV-
Aku berkelana keliling dunia. Banyak hal yang kulakukan setelah masuk kedalam organisasi ISS. Aku punya tanggung jawab yang besar untuk ini. Kini aku menetap di sebuah negara yang menurutku sangat unik. Entah kenapa aku akhirnya memilih untuk tinggal disini sambil melakukan pekerjaanku.
"Sir, terjadi lagi pembunuhan. Kini korbannya seorang pejabat tinggi yang korup," lapor Isabella, anak didikku. Aku lebih suka menyebut mereka begitu. Meski pada kenyataannya mereka adalah bawahanku.
Aku sudah mengelilingi beberapa benua untuk menangkap psikopat gila yang melakukan pembunuhan berantai di beberapa negara berbeda. Tapi aku masih belum menemukan titik terangnya. Dia sangat lihai. Mengingatkanku akan seseorang yang telah lama tiada. Penjahat yang sudah membuatku kehilangan orang-orang yang kusayangi.
"Kau terus selidiki semuanya, Bella. Aku yakin kita akan menemukan sesuatu di kota ini," balasku.
"Baik, Sir. Aku permisi."
Aku memijat pelipisku pelan. Rasanya kepalaku akan pecah untuk bisa menemukan titik terang kasus ini. Aku tidak akan melepaskan siapapun di balik semua kejadian ini.
#
#
#
"Sir, tiga hari lalu harusnya kau kembali ke Indonesia. Keponakanmu tersayang berulang tahun ke 18," ucap Lexi yang ternyata sudah sejak tadi berdiri di depanku.
Aku terlalu fokus dengan layar datar di depanku hingga melupakan soal yang lainnya. Begitulah saat aku sudah fokus bekerja.
Oh God! Bagaimana aku bisa lupa dengan ulang tahun Khania? Aku tak pernah melewatkan hari lahirnya itu selama bertahun-tahun. Aku hanya menemuinya di hari itu.
"Baiklah, Lex. Tolong kau pesankan tiket pesawat untukku. Aku akan kembali ke Indonesia selama ... satu minggu mungkin."
"Baik, Sir."
Sepeninggal Lexi, aku kembali memikirkan soal ulang tahun Khania. Kado apa yang cocok untuknya di usia yang ke 18?
Aku akan tanyakan pada Disha saja. Sebelum aku menghubunginya, ternyata Disha sudah lebih dulu menghubungiku.
"Halo, Disha."
"Halo, Kak Ray. Apa kabar?"
"Aku baik. Ada apa?"
"Kak, apa kau lupa dengan ulang tahun Khania? Dia..."
"Aku tahu. Aku minta maaf. Tapi aku akan kembali ke Indonesia hari ini juga. Kau tenang saja."
"Benarkah, Kak? Terima kasih banyak, Kak. Kau tahu? Khania sangat mengharapkan kehadiranmu. Aku tahu permintaanku pasti berat untukmu, karena kau harus bekerja."
"Tidak, Disha. Aku senang kau memintaku datang. Dan aku memang akan datang. Untuk Khania."
"Terima kasih, Kak."
#
#
#
-Khania PoV-
Ulang tahunku sudah berlalu empat hari yang lalu. Percuma saja aku menunggunya selama ini. Dia tidak akan pernah datang. Dia sudah melupakanku.
__ADS_1
Aku duduk sendiri di taman belakang rumah. Menatap pemandangan langit malam yang membuatku tak ingin memejamkan mata. Meski aku sangat ingin bermimpi tentangnya. Tapi aku tidak mau tidur. Aku takut mimpi yang datang adalah mimpi buruk.
"Khania!"
Kuedarkan pandanganku ketika mendengar suara yang tidak asing bagiku namun tak pernah kutemui. Apakah aku sedang bermimpi? Aku melihatnya ada di depanku, dihadapanku.
"Paman Ray!" seruku gembira dan langsung berhambur memeluknya.
Dialah pria yang mengobrak-abrik perasaanku. Entah perasaan apa ini? Aku merasa tidak ingin berjauhan dengannya lagi. Sudah cukup aku menahan semuanya.
"Paman, aku merindukanmu..." lirihku dalam dekapannya.
"Paman juga merindukanmu."
Aku melepas pelukanku. "Paman bohong! Jika Paman merindukanku, Paman akan datang di hari ulang tahunku kemarin." Aku memalingkan wajah dan cemberut.
"Aku masih kesal dengan Paman!" sungutku.
"Maafkan Paman! Selamat ulang tahun, Khania."
Paman Ray menyodorkan sebuah kotak di hadapanku. Aku masih bergeming dan pura-pura tidak butuh.
"Yakin tidak ingin menerimanya?"
Godaan terberat adalah saat begini. Aku tidak akan bisa menolak pesona Paman Ray. Aku mengalah.
"Apa ini?" tanyaku pada akhirnya sambil merebut kotak dari tangannya.
"Buka saja sendiri!"
Aku membuka kotak itu. Mataku berbinar. Sebuah kalung dengan liontin yang sangat indah.
Aku mengangguk cepat. Paman Ray memakaikan kalung itu di leherku.
"Wah, ini sangat cantik. Liontinnya berbentuk bulan sabit. Apa maknanya, Paman?"
"Kau suka malam kan? Bulan akan selalu menemanimu di kala kau lelah dan beristirahat. Khania, kau juga harus ingat, jika Paman akan selalu menjaga dan menemanimu meski Paman tidak ada di sisimu."
Aku tersenyum. Aku sangat bahagia. Aku memberikan sebuah kecupan di pipi Paman Ray.
"Terima kasih, Paman. Aku akan selalu mengingatnya."
#
#
#
Khania tumbuh dengan sangat cepat. Saat ini itulah yang Ray rasakan. Gadis kecil itu sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik mirip seperti ibunya.
"Bagaimana bisa dia sangat mirip denganmu, Khay. Dulu aku juga bertemu denganmu di usia yang sama dengannya sekarang."
Ray kini sedang bersimpuh di depan makam Khayla dan Rakha. Ray masih merindukan wanita itu. Wanita yang mampu membangkitkan kembali cintanya ketika telah mati termakan dusta.
Ponsel Ray bergetar. Sebuah panggilan dari Lexi yang pastinya adalah hal penting.
"Ada apa?" jawab Ray ketika panggilan sudah terhubung.
"Sir, Anda harus segera kembali. Kami mendapatkan petunjuk jika pembunuh berantai itu ada di kota ini."
__ADS_1
"APA?! Baiklah! Cepat atur perjalananku dengan pesawat jet pribadi!"
"Baik, Sir."
Ray mengepalkan tangannya. Akhirnya setelah bertahun-tahun memburu pembunuh berantai ini, kini saatnya Ray kembali beraksi. Ray segera keluar dari area pemakaman dan melajukan mobilnya.
Namun ingatannya kembali tertuju kepada Khania yang pastinya masih mengharapkan kehadirannya.
"Maafkan aku, Khania. Aku tidak bisa menepati janjiku padamu."
#
#
#
Pagi harinya Ray meminta maaf pada Khania karena dirinya tidak bisa menepati janjinya untuk merayakan pesta ulang tahun susulan Khania. Sungguh Ray amat menyesal. Dan ia tahu jika Khania pasti akan marah padanya.
Khania membanting pintu kamarnya dan tak mau bicara dengan siapapun.
"Kak, biarkan saja dulu. Khania masih remaja. Emosinya terkadang meledak-ledak. Kapan penerbangan kakak?" Disha selalu menengahi perdebatan Ray dan Khania.
"Sekitar satu jam lagi," ucap Ray dengan melirik jam tangannya.
"Baiklah. Kalau begitu kakak bersiap saja. Aku akan membujuk Khania nanti."
Ray dan Disha berlalu dari depan kamar Khania. Tanpa mereka sadari sedari tadi Khania menguping pembicaraan mereka.
"Apa? Enak saja! Dia bilang dia akan berada disini selama tujuh hari, tapi apa ini? Dia bahkan harus kembali bekerja! Tidak! Tidak akan kubiarkan dia pergi lagi. Jika dia harus pergi, maka aku akan mengikutinya," sungut Khania masih tidak terima.
Tiba-tiba ide gila terlintas di dalam otaknya. Khania tidak akan membiarkan Ray pergi begitu saja. Khania keluar dari kamarnya dan mengendap-endap menuju ke kamar Ray.
Beruntung kamar pria itu tidak dikunci. Dan pria itu kini sedang berada di balkon sambil memegangi ponsel di telinganya. Khania mencari cara untuk bisa ikut bersama dengan Ray.
Dengan nekat gadis bernama Khania itu masuk kedalam koper besar yang muat dengan tubuh mungilnya. Untuk beberapa lama Khania harus tahan berada di dalam koper besar itu.
Koper itu terbawa dengan pesawat jet pribadi yang ditumpangi Ray. Gadis itu marah karena pria yang ditunggunya selama satu tahun hanya memiliki waktu dua hari bersamanya, padahal janjinya adalah satu minggu.
Dan setelah melintasi benua yang berbeda, pesawat jet tersebut mendarat di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas.
Khania terbangun dari tidurnya dan keluar dari koper besar itu. Ia melihat sekeliling rumah dan ternyata dia berada di sebuah kamar.
"Astaga! Ada dimana aku? Apa ini adalah rumah Paman Ray? Tapi dimana ini?" gumamnya bingung.
Khania keluar dari kamar dan bertemu dengan wanita paruh baya berpakaian seragam hitam dan putih.
Khania berteriak, begitu juga dengan wanita itu.
"Nona, siapa Anda? Kenapa bisa keluar dari kamar Tuan?" tanya wanita paruh baya itu.
"Tuan? Tuan siapa?" tanya Khania balik.
Khania menjelajah rumah besar itu dan menemukan foto Ray terpasang disana.
"Jadi, ini adalah rumah Paman Ray?" Dahi Khania berkerut.
Tak bisa melakukan apapun, akhirnya pelayan itu menghubungi Ray untuk meminta pendapat.
Tentu saja Ray kaget bukan kepalang. Bagaimana bisa Khania terbawa dengannya hingga sampai di Rio?
__ADS_1