RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 102


__ADS_3

Sepuluh tahun setelah kelahiran Khania,


Khay yang bertugas sebagai anggota ISS bersama Ray tiba-tiba mendapat tugas yang cukup berat. Sebuah kasus pembunuhan berantai mulai mencuat. Dan tak tanggung-tanggung, korbannya adalah mereka yang mengaku sebagai pejabat tapi melakukan banyak kejahatan. Namun tak hanya itu, para pengusaha kaya namun berkelakuan kurang pantas juga tak luput dari eksekusi si pembunuh berantai ini.


Khay masih menyembunyikan fakta ini karena takut Rakha tidak menyetujui jika Khay terjun didalamnya.


"Biar aku saja yang mengambil kasus ini, Khay. Terlalu berat jika kau harus menangani kasus ini," ucap Ray.


"Tidak, Ray. Kita bekerja bersama-sama. Kita harus waspada karena orang ini pastilah orang yang berbahaya," balas Khay.


"Kau yakin? Sebaiknya kau bicarakan semua ini dengan Rakha."


"Tidak! Aku tidak bisa memberitahunya. Dia pasti tidak akan setuju, Ray."


"Kau selalu saja keras kepala! Kau juga harus pikirkan Khania."


"Kau tenang saja. Aku akan membujuk mereka dengan cara yang lain."


"Khay..."


"Jika kau sudah tahu aku ini keras kepala, maka jangan membantah lagi. Kita pasti bisa menangkap orang ini, Ray. Entah itu hidup atau mati." Khay menepuk pelan bahu Ray kemudian berlalu.


"Entahlah, Khay. Tapi aku merasa, ada hal buruk yang akan terjadi. Dadaku terasa sesak melihatmu pergi," batin Ray dengan memegangi dadanya.


......***......


Pagi hari itu, Khay sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan bekal untuk berlibur. Sudah menjadi kesepakatannya bersama Rakha untuk mengajak Khania berlibur di akhir pekan ini. Sungguh Khay ingin menebus semua waktu yang hilang bersama keluarga kecilnya.


Amara menghampiri Khay. Ia tersenyum melihat Khay begitu bersemangat menyiapkan liburan singkat ini.


"Kau jadi pergi berlibur bersama Rakha dan Khania?" tanya Amara.


"Iya, Bu. Oh ya, apa Khania sudah bangun?"


Amara menggeleng.


"Ck, anak itu! Kebiasaan jika di hari libur. Aku akan membangunkannya dulu!" Khay segera bergegas namun di cegah Amara.


"Biar Ibu saja yang membangunkan dia. Lagi pula dia belum tahu kan jika kau ingin mengajaknya liburan?"


Khay menggeleng sambil tersenyum. "Belum, Bu."


"Kau lanjutkan saja pekerjaanmu, Ibu akan ke kamar Khania." Amara segera menuju lantai atas dimana kamar Khania berada.


Amara tersenyum kecil melihat cucunya masih betah bergumul di atas ranjang. Amara duduk di tepi tempat tidur.


"Sayang, ayo bangun! Ini sudah siang!" ucap Amara sedikit menggoyang tubuh Khania.


Khania tidak menggubris dan tetap terpejam.

__ADS_1


"Khania! Ayo bangun! Sudah siang! Mana ada anak gadis bangun jam segini!"


Dengan berat hati Khania akhirnya terbangun setelah Amara beberapa kali menceramahinya.


"Duh, Nenek! Bukankah ini hari libur? Aku ingin tidur sedikit lebih lama saja. Tolonglah, Nek!"


Khania akan kembali merebahkan tubuhnya. Namun dengan cepat Amara menahannya.


"Eh! Kau tahu, ayah dan ibumu ingin mengajakmu liburan hari ini. Jika kau tidak segera bersiap, mereka bisa meninggalkanmu," tutur Amara.


Seketika mata Khania membulat. Ia segera beranjak dari tempat tidur nyamannya menuju ke kamar mandi. Amara menggeleng sambil tertawa kecil.


"Dasar! Anak ini! Dia sangat mirip ibunya yang sangat susah diatur!" gumam Amara.


Khania keluar dari kamarnya dengan perasaan gembira. Ia menghampiri keluarganya yang sudah duduk di meja makan. Ia pun segera ikut bergabung.


"Ayah! Ibu! Kita akan liburan kemana?" tanya Khania saat sedang menyantap sarapannya.


"Kita tidak pergi jauh, sayang. Hanya sekitaran kota saja," jawab Khay.


"Baiklah, tidak apa. Yang penting aku tetap liburan." Khania menunjukkan deretan giginya yang rapi.


Sebelum berangkat, keluarga kecil Khay dan Rakha berpamitan pada anggota keluarga lainnya.


"Baiklah semuanya, kami pergi dulu ya!" ucap Khay.


"Iya, hati-hati ya, Nak," balas Amara.


Mobil mulai melaju dan anggota keluarga melambaikan tangan. Amara terlihat cemas setelah kepergian putri, menantu dan cucunya. Entah ada hal apa yang ia rasakan.


"Ada apa, Bi?" tanya Disha.


"Entahlah, Nak. Perasaanku tiba-tiba tidak enak." Amara memegangi dadanya.


"Bibi jangan cemas, mereka hanya berlibur di dekat sini saja. Sebaiknya kita masuk! Atau Bibi juga ingin pergi berlibur juga? Kalau begitu aku akan mengajak Bibi berkeliling," ajak Disha agar Amara tidak cemas lagi.


"Ish, kau ini! Orang tua ini hanya dengan melihat kalian bahagia saja, aku sudah cukup senang." Amara masuk ke dalam rumah bersama Disha.


......***......


Selama perjalanan, Khania terus berceloteh dan bernyanyi gembira. Khay tersenyum melihat kebahagiaan putri semata wayangnya.


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu sudah banyak melewatkan masa kecilmu. Mulai sekarang, Ibu akan lebih memerhatikanmu," batin Khay.


Rakha melirik kearah Khay yang terlihat bersedih. Tangan kirinya terulur untuk meraih tangan Khay.


"Kita akan menghadapi semuanya bersama," ucap Rakha lirih.


Khay ikut bernyanyi bersama Khania dengan bertepuk tangan. Suasana di mobil itu terasa hangat dan bahagia.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari jika sebuah truk besar sedang mengikuti mereka. Pengemudi supir truk itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya.


Tiba di jalanan yang cukup sepi, truk mulai mengencangkan lajunya dan menuju ke arah mobil yang dikemudikan Rakha. Beberapa kali truk besar itu membunyikan klakson.


Mobil Rakha yang berada di depan truk itu pun merasa tidak nyaman. Rasa cemas mulai menggelayuti Khay juga.


Khay segera melepas sabuk pengaman miliknya dan berpindah ke kursi belakang.


"Ibu, ada apa? Kenapa truk besar itu mengklakson kita terus?" tanya Khania polos.


Khay yang seakan tahu apa yang akan terjadi, segera menyiapkan Khania agar bisa selamat jika terjadi sesuatu dengan mereka.


"Dengar, jika Ibu bilang lompat, kau harus melompat. Mengerti?" ucap Khay.


"Hah?! Apa maksud Ibu?" Khania masih tak paham dengan situasi yang sedang terjadi.


Sadar dengan apa yang akan terjadi, Rakhan berusaha menghindari teuk besar itu dan makin menginjak pedal gas.


Khania memejamkan mata karena laju mobil semakin kencang. Khay memeluk erat putrinya.


"Perbuatan siapa ini?" batin Khay.


Tanpa diduga lagi, tiba-tiba dari arah samping juga ada truk besar lainnya yang ingin menghantam mobil mereka.


"Rakha, awas!" teriak Khay. Ia segera membuka pintu mobil dan meminta Khania melompat.


"Lompatlah, Nak!" perintah Khay.


"Tidak mau! Aku ingin bersama Ayah dan Ibu!" tegas Khania.


Khay tidak akan bisa berdebat disaat seperti ini. Dengan kerasnya Khay mendorong Khania keluar dari mobil tepat sebelum truk besar itu menghantam mobil Rakha.


Suara dentuman keras terdengar. Mobil berguling beberapa kali hingga akhirnya terbalik dan berhenti.


Khania histeris melihat kedua orang tuanya yang masih ada didalam mobil. Sementara kedua truk besar itu sudah pergi menghilang.


Khania masih histeris dan menangis. Ia akan mendekati mobil ayahnya.


"Ayah! Ibu!" teriak Khania sambil berlari menghampiri mobil yang terbalik itu.


Namun belum sempat ia mendekati mobil, dua buah tangan menangkapnya dan memeluknya. Tangan itu milik seorang pemuda berusia sekitar 20 tahunan. Ia mencegah Khania untuk tidak mendekati mobil karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Pemuda itu membawa Khania menjauh. Meski terus meronta, tapi tenaga gadis kecil itu tidak sebanding dengan tenaga si pemuda.


"Jangan kesana! Mobilnya akan meledak!" ucap pemuda itu.


Dan benar saja, tak lama mobil itu meledak dan membuat suara ledakan yang cukup keras.


#bersambung...

__ADS_1


*Hai semuanya, Rakhania new season sudah kembali lagi. Dukung terus ya! Maap menunggu lama untuk bisa menikmati kisah barunya, karena makthor harus semedi dulu biar ceritanya makin cetaaarrrr, hehehehe


...Terima kasih...


__ADS_2