RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 070


__ADS_3

Tiga hari setelah kematian Richie, banyak pencari berita yang akhirnya mengendus tentang penyalahgunaan obat-obatan terlarang yang dilakukan Rich. Beberapa wartawan datang ke kantor dan rumah Rakha untuk meminta konfirmasi dari pihak keluarga.


Saham perusahaan Rakha pun mulai terkena imbasnya. Meski baru tiga hari, tapi rasanya orang-orang tidak menghargai kehilangan yang dirasakan keluarga Rakha.


Berita kematian Rich pun sempat ditayangkan di beberapa stasiun televisi swasta. Hingga seorang gadis yang terpenjara di satu tempat terpencil mendengar dan melihat berita itu.


Gadis itu menangis histeris setelah melihat berita kematian Rich. Hatinya begitu sesak seakan Rich adalah bagian dari dalam dirinya.


Gadis yang tak lain adalah Disha berhasil kabur dari vila milik Alan dengan membawa sebuah ponsel milik anak buah Alan. Entah memang orang itu sengaja membantu Disha atau tidak, tapi ponsel miliknya tidaklah memiliki kode khusus untuk membukanya, sehingga memudahkan Disha untuk menghubungi seseorang.


"Halo, Dika..."


"..........."


"Tolong jemput aku, Dika, hiks hiks.."


"............."


"Aku akan kirimkan alamatnya."


Usai mematikan sambungan telepon, Disha kembali menangis tersedu. Tubuhnya ambruk terduduk di tepi jalan yang sepi itu.


Tangannya memukul-mukul dadanya yang kian sesak. Ingatan akan kematian Richie kembali ke pikirannya. Disha menangis sesenggukan dengan teramat sedih.


"Rich...hu..hu..hu..hu..." bibirnya bergetar saat memanggil nama Rich. Air matanya terus mengalir dan seakan tak mau berhenti.


.


.


Di tempat berbeda, Prince dengan santainya menyesap rokoknya kemudian menghembuskan asapnya di ruangan itu. Prince hanya memperhatikan tingkah orang didepannya yang masih memegang ponsel ditelinganya.


"Ada apa?" tanya Prince santai.


"Bisakah kau tidak merokok? Ini ruangan ber AC, Prince." Sungut pria paruh baya yang adalah Alan.


"Hmm, baiklah." Prince mematikan rokoknya. "Katakan ada apa? Wajahmu nampak pucat."


"Putriku berhasil kabur."


"Hahahah, bukankah sudah kubilang kau harusnya langsung lenyapkan saja dia."


"Jangan gila, Prince. Dia adalah putriku. Dan kau! Kenapa kau sampai melenyapkan Rich? Aku sudah bilang jangan lagi ada korban disini. Aku hanya ingin menghancurkan keluarga itu, bukan melenyapkan mereka." sungut Alan.


"Bagiku menghancurkan atau melenyapkan itu sama saja. Toh namanya tetap balas dendam. Lagipula ini bukan keinginanku." jawab Prince santai.


"Apa? Bukan keinginanmu?"


"Benar. Putrimu lah yang menginginkan pria itu mati."

__ADS_1


"Putriku? Maksudmu Niya?"


"Memangnya kau punya berapa putri, huh? Aah, putri asuhmu yang sekarang kabur."


"Kenapa Niya ingin melenyapkan Rich? Bukankah mereka sudah hidup sebagai kakak adik selama puluhan tahun?"


"Kau tahu, Paman." Prince mendekati Alan dan menepuk bahunya.


"Buah tidak mungkin jatuh terlalu jauh dari pohonnya. Begitupun dia. Dia sangat mirip dengan Paman. Ambisi dan sikap egoisnya. Persis seperti Paman."


Usai mengatakan apa yang perlu dikatakan, Prince pamit undur diri dari ruang kerja Alan.


"Oh ya, Paman. Tentang gadis yang kabur itu, Paman jangan khawatir. Aku akan mengurusnya." ucap Prince.


"Tidak! Biarkan dia bebas, Prince."


Prince hanya membalas dengan senyuman menyeringai.


.


.


.


Malam hari itu, Khay mendatangi studio milik Rich yang sudah terpasang garis polisi di sekelilingnya. Khay melewati garis polisi itu dan masuk kedalam studio yang ternyata tidak dikunci.


Khay memandangi seluruh ruangan itu. Masih tergambar dengan jelas tawa dan kegembiraan Rich saat bercerita tentang hobi melukisnya.


Senyum di wajah Rich hari itu, adalah senyum terakhir yang diberikan pada Khay. Betapa sesak dadanya kala mengingat momen kebersamaannya bersama Rich yang hanya sebentar itu.


Tubuh Khay jatuh terduduk dan menangis terisak.


"Aarrggghh!!!!" Khay berteriak sambil memukuli dadanya.


Air matanya terus terjatuh tidak terbendung lagi. Kesedihan yang amat dalam kini baru dirasakan oleh Khay. Kehilangan seseorang itu ternyata sesakit ini.


Khay berjalan gontai masuk kedalam rumah. Rumah besar itu makin sunyi karena ditinggalkan oleh salah satu penghuninya.


Khay berjalan menuju kamarnya sebelum akhirnya ia terhenti karena bertemu seseorang. Khay menatap orang itu yang juga sedang menatapnya.


Wajah sembap Khay masih terlihat jelas di mata orang itu. Genangan air mata kembali memenuhi mata bulat Khay. Bibirnya bergetar menahan tangis.


"Khania..."


Orang itu menyapa Khay dengan nama kakaknya. Orang itu makin mendekat dan melihat dengan jelas sorot kesedihan di mata Khay.


"Khania..."


Tanpa disadari mata orang itu juga mulai digenangi buliran bening yang menumpuk. Tangannya terulur ingin meraih wajah Khay dan menghapus air matanya yang mulai mengalir.

__ADS_1


Ingatan tentang masa lalu mulai menyeruak kala melihat wajah Khay yang sama persis dengan orang yang dicintainya.


.


.


.


"Maafkan aku, Dai... Aku tidak bisa menerima cintamu..."


"Kenapa Khania?"


"Aku tidak pantas untukmu, Dai. Aku wanita kotor. Kau adalah pria yang baik."


"Jangan katakan itu, Khania! Aku tidak peduli..."


"Tidak, Dai... Kau harus hidup bahagia dengan wanita yang baik, bukan denganku..."


"Jangan, Khania!"


Air mata kedua orang yang sedang saling mengungkap rasa itu mulai menggenangi percakapan mereka.


"Maafkan aku, Dai... Maafkan aku..."


"Khaniaaaaaaa!!!!"


Suara teriakan itu tidak di hiraukan oleh Khania dan terus melangkah pergi meninggalkan Ken.


.


.


.


Tangan Ken hampir menyentuh wajah Khay yang dipenuhi air mata. Semua kenangan itu kembali. Kenangan tentang Khania kembali terlintas di pikiran Ken.


Dan ketika tangan Ken sudah sangat dekat dengan wajah Khay ...


"Khania!"


Sebuah suara yang tidak asing membuat Ken seketika menurunkan tangannya dan berbalik badan meninggalkan Khay.


.


.


#bersambung...


*entah emang dasarnya mamak yg mewekan atau memang part ini beneran menguras hati, tapi pas bikin part ini hati ikutan sedih dan ikutan mewek ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2