RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 094


__ADS_3

"Benar, Paman. Sesuai dugaanku. Para anggota organisasi sedang mencari keberadaan Khania." sahut Ken dengan menyeringai.


"APA?!"


Seru semua orang merasa kaget dengan pernyataan Ken.


"Ken, itu berarti jika mereka mengincar Khania. Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Liana.


"Tenang saja, Bibi. Mereka masih belum tahu jika Khania masih hidup. Ada kemungkinan mereka hanya menebak-nebak saja jika Khania ada di rumah sakit ini." sahut Ken.


"Bagaimana jika mereka memang mencari Khania? Apa tidak sebaiknya kita pindahkan saja Khania ke rumah sakit lain?" usul Rein.


"Tidak, tidak. Aku yakin jika mereka masih belum tahu jika Khania ada di rumah sakit ini. Sebaiknya kita tidak terlalu mencolok, Paman. Ini bisa menimbulkan persepsi jika di rumah sakit ini ada tahanan dari kepolisian karena keberadaan Paman Rein."


"Sebenarnya apa yang kau rencanakan, Ken?" James mulai bersuara.


Ken tersenyum penuh arti. "Aku masih memikirkannya. Kalian tenang saja. Sebaiknya kalian kembali. Kita akan bergantian saja berjaga. Untuk malam ini, aku akan tetap disini."


Tak lama setelah kepergian ketiga orang beserta Ron, Ray datang menemui Ken. Ray menepuk bahu Ken yang terus memandangi Khania yang masih terpejam.


"Ken..."


"Kau sudah datang?"


"Hmm. Jadi, apa rencanamu?" tanya Ray.


"Kau yakin kau akan ikut dalam rencanaku?" tanya balik Ken.


"Iya. Aku akan ikut asal bisa menghancurkan organisasi." balas Ray bersemangat.


Ken kembali memandangi wajah Khania yang damai dalam tidurnya.


"Kau sangat mencintainya, huh? Semoga setelah dia bangun, dia masih mengingatmu."


"Sialan kau! Apa maksud kalimatmu itu?" sungut Ken.


"Hahaha. Aku hanya bercanda. Sebaiknya kau pulang, bung. Kau bicarakan rencanamu dengan Khay. Siapa tahu dia akan ikut dengan kita."


"Hmm, begitukah? Kau bersedia berjaga disini?"


"Iya, tentu saja. Kurasa aku mulai menyukaimu." Ray menaik turunkan alisnya.


"Cih, aku masih normal, bung. Baiklah, kalau begitu aku pergi. Besok aku akan kemari lagi." pamit Ken.


Sepeninggal Ken, Ray meletakkan barang-barangnya di atas meja kecil dekat brankar Khania. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di sofa.


"Aah, rasanya lelah sekali. Selamat tidur Khania..." Ray mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Tak lama setelah Ray terlelap, Khania membuka matanya. Ia melirik ke arah Ray yang sepertinya sudah terlelap.


Sedari tadi Khania memang sudah sadarkan diri, namun ia berpura-pura masih terlihat koma.


Sebenarnya apa yang sedang mereka rencanakan?


Khania melihat ponsel Ray yang tergeletak di meja samping brankarnya.


Ponsel Ray? Aku harus menghubungi seseorang.


Khania mencoba memiringkan tubuhnya untuk meraih ponsel Ray. Jika dirinya bangun dan mengambilnya secara langsung, ia takut jika Ray akan terbangun.


Dengan hati-hati Khania hampir meraih ponsel Ray, namun....


PRAAAKKK!!!


Ponsel Ray terjatuh dan menimbulkan bunyi. Dengan cepat Khania kembali memejamkan mata.


"Hah?! Apa sih?"


Ray mengerjapkan mata dan melihat sekeliling. "Oh, ponselku terjatuh?"


Ray sempat melirik kearah Khania yang masih memejamkan mata. Ia mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai.


"Ck, ayah? Sudah kuduga dia pasti akan menelepon terus."


"Halo, ayah...."


".........."


"Iya, Ayah. Aku di rumah sakit."


"............."


"Aku hanya kasihan pada Ken. Iya, baik ayah."


Ray menutup panggilan.


Apa mungkin?


Ray menatap Khania yang masih terpejam dengan nafas teratur.


"Sebaiknya kumatikan saja ponselku. Supaya tidak ada yang mengganggu tidurku. Beres 'kan?"


Ray kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Sementara ponselnya ia letakkan di saku celananya.


Khania kembali membuka mata setelah Ray terpejam.

__ADS_1


Sial! Aku tidak bisa mengambil ponsel Ray. Sekarang aku harus bagaimana? Apa aku harus terus berpura-pura koma saja? Agar aku bisa mencari tahu apa rencana mereka sebenarnya.


.


.


.


Khay kembali ke Kota D malam ini. Setelah perdebatannya dengan Rakha tadi, Khay tetap bersikukuh keluar dari rumah Rakha. Meski mereka telah terikat pernikahan, Khay tetap tidak bisa melanjutkan hubungan mereka.


Padahal Rakha sudah mengungkapkan semua perasaannya pada Khay. Namun Khay masih tidak percaya dengan apa yang Rakha katakan. Biarlah waktu saja yang membuktikan cinta mereka.


Khay tiba di depan rumah ibunya pukul tiga pagi. Untuk sementara ia ingin menenangkan diri disini.


Khay mengetuk pintu. Rumah sederhana itu memiliki banyak kenangan untuk Khay. Kenangan tentang kebersamaannya bersama mendiang ayahnya dan juga kakaknya, Khania.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya si pemilik rumah membukakan pintu untuk Khay.


"Ibu...!" sapa Khay melihat ibunya ada di ambang pintu.


"Khayla?!"


Amara tak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat putri bungsunya ada di depan matanya. Amara langsung memeluk Khay. Ada kebahagiaan di hati Khay ketika ibunya terlihat merindukannya.


Khay merebahkan diri di kamar lamanya. Hatinya memang masih bergemuruh dengan semua yang terjadi antara dirinya dan Rakha.


Amara mendatangi kamar Khay dan mengusap lembut rambut puncak kepala Khay.


"Nak... Kau baik-baik saja bukan?"


"Ibu..."


Khay meletakkan kepalanya di pangkuan Amara. Amarapun mengelus lembut rambut Khay. Mata Khay terpejam merasakan kesedihan di hatinya karena berpisah dari Rakha.


"Menangislah, nak. Jika kau memang sudah tidak kuat lagi, maka hentikanlah semua. Ibu sudah mengikhlaskan kepergian kakakmu. Jangan membebani dirimu lagi."


Tangis Khay makin terisak, begitu juga dengan Amara. Khay memeluk erat tubuh ibunya dan menumpahkan segala kesedihannya kepada ibunya.


...***...


#bersambung dulu ya shay...


Yuks mampir juga di karya mamak yg lain



__ADS_1


__ADS_2