
Ray menatap tajam kearah Rakha. Tangan mereka masih saling berjabat, namun raut wajah mereka seakan tidak bersahabat. Khay melirik kearah para orang tua yang seakan membiarkan tatapan sengit itu terus berlanjut.
Khay akhirnya menghentikan adu tatap kedua pria yang ada didepannya itu.
"Rakha... Dia adalah sahabatku yang kuceritakan padamu..." Ucap Khay dengan hati-hati. Ia takut menyinggung perasaan Ray.
Ray melepas jabat tangannya. Rakha kembali duduk di ranjang Khay.
"Kau tidak pernah bercerita padaku tentang teman-temanmu. Jadi wajar saja aku sempat terkejut karena ternyata sahabatmu adalah seorang pria..." balas Rakha datar.
"Sayang, ibu harus kembali ke butik. Paman Rein juga harus kembali bekerja. Kau masih mau disini?" ujar Liana. Ia memiliki butik pakaian dan tas sebagai samaran agar tidak dicurigai oleh orang-orang jika dirinya adalah seorang agen ISS.
"Iya, Bu. Aku masih sangat merindukan kekasihku." jawab Rakha sambil mencoel hidung Khay.
Rein dan Liana berpamitan pada Rakha. Rein memberi isyarat pada Ray untuk keluar juga dari kamar Khay.
Dengan mendengus sebal, Ray terpaksa keluar dari kamar dan menemui Ken yang sedang duduk di kursi taman rumah sakit.
Ray duduk disamping Ken.
"Cih, kau merokok, hah? Ini rumah sakit, bagaimana jika ada dokter atau perawat yang melihatmu, kau bisa terkena masalah." lerai Ray.
Ken tetap santai dengan menghisap rokoknya dan mengepulkan asapnya ke arah Ray.
Ray tidak menggubris Ken karena hatinya juga sedang panas. Tak lama seorang perawat menghampiri mereka berdua dan melerai Ken agar mematikan api rokoknya. Dengan santai pula Ken mematikan rokoknya dan membuangnya ke tong sampah.
"Sudah kubilang 'kan, kau dilarang merokok diarea rumah sakit." ucap Ray masih dengan nada kesalnya.
"Kau sendiri sedang cemburu, tapi sok menasehatiku." balas Ken.
"Siapa yang cemburu?! Aku sama sekali tidak cemburu." sungut Ray.
"Bibirmu mengatakan tidak. Tapi matamu mengatakan hal lain."
Ray membuang muka.
"Aku ini seorang agen rahasia. Aku sudah sangat hapal ketika seseorang sedang berbohong." ucap Ken lagi dan beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" tanya Ray.
"Aku ingin pergi sebentar. Kau mau ikut atau mau tetap disini?"
"Lalu bagaimana dengan Khay? Jika anggota organisasi kembali mencelakainya bagaimana?"
"Tidak akan. Ibu Liana sudah menempatkan orang-orangnya di rumah sakit ini. Lagi pula, Jonas bukan tipe orang yang menyerang musuhnya jika musuhnya sedang tidak berdaya. Ia lebih suka dengan cara berduel." jelas Ken.
"Berduel?" Ray mengernyitkan dahi. "Kau sangat memahami pria itu ya?" Ray mengepalkan tangannya.
"Aku di tugaskan untuk masuk ke organisasi karena untuk mengamati gerak gerik Jonas. Aku juga sempat mendengar tentang Irina, gadis yang kau cintai."
Ray mendengarkan cerita Ken dengan seksama.
"Itu adalah julukan Zevanya. Dia masuk organisasi di usia masih amat muda bersama dengan kakaknya, Irish."
"Kakak?"
"Kau bahkan tidak tahu jika Zevanya memiliki kakak perempuan yang masih mengabdi pada Jonas hingga sekarang."
"Aku tahu kau bersedia membantu Khay karena kau juga ingin membalaskan dendammu pada Jonas. Tapi, kita harus sangat hati-hati dalam bertindak. Jangan sampai kau kehilangan orang yang kau cintai sekali lagi..." tutup Ken sebelum akhirnya meninggalkan Ray mematung sendirian di taman.
.
.
.
Ken melajukan mobilnya ke sebuah tempat yang selalu menjadi tempatnya berlabuh. Menemui James Arthur. Seniornya di ISS ini sudah seperti ayah untuknya semenjak ayah kandungnya meninggal karena perbuatan organisasi hitam.
"Bagaimana kabar gadis itu? Apa dia baik-baik saja?" tanya James.
"Iya, Paman. Khay baik-baik saja. Dia seorang gadis yang kuat."
"Entah kenapa Jonas penasaran dengan gadis itu."
"Apalagi kalau bukan untuk membuktikan jika Khay bukanlah gadis yang dia cari."
__ADS_1
"Hmm, semua jadi makin rumit karena kehadiran gadis itu." James menghela nafasnya.
"Lalu bagaimana kondisinya?" tanya Ken dengan kembali menyalakan rokoknya.
"Masih sama seperti setahun yang lalu..."
Ken menghisap kuat-kuat puntung rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara. "Lalu apa rencana paman?"
James terkekeh. "Apa yang bisa dilakukan orang lumpuh sepertiku? Kau pasti punya banyak rencana di otakmu, bukan?"
"Hmm, begitulah, paman..." Ken tersenyum penuh arti.
Tiba-tiba ponsel Ken bergetar. Ken mengambil jarak dari James dan mengangkat panggilannya.
Dahi Ken berkerut mendengarkan dengan seksama orang yang menghubunginya. Ken mengakhiri panggilannya dan kembali menemui James.
"Ada apa?" tanya James penasaran.
"Tidak, Paman. Hanya saja... Semua akan menjadi semakin menarik setelah ini. Aku harus menyiapkan semuanya dengan baik. Kuharap Paman bisa mendukungku kali ini. Kita harus berhasil!" jawab Ken dengan senyum penuh keyakinan.
.
.
#bersambung dulu ya shay...
*kira2 apa yang di sembunyikan Ken dan James?
jangan lupa tinggalkan jejak kalian ππππ
.
.
Gaess, mamak punya sekilas info nih. Buat kalian yg mau lihat video2 dari novel2 keren Noveltoon, mampir aja langsung ke ig nya @lucyv146. disana digambarkan visual novel dari karya author2 daebak di NT. Cuss mampir nyook ππ
Terima kasih ππ
__ADS_1