RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 011


__ADS_3

...Halo readers kesayangan mamak๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹ Rakhania is back! Dont forget to leave Like ๐Ÿ‘ and comments ๐Ÿ˜˜...


...*happy reading*...


Khay terus mengerucutkan bibirnya selama perjalanan bersama Ray di mobilnya. Kejadian di kamar Ray yang membuat mereka bersentuhan dengan begitu dekatnya masih dapat Khay ingat dengan jelas.


"Apa maksudmu melakukan itu? Kau menyebalkan, Ray!!!" Sungut Khay untuk yang kesekian kalinya.


"Maaf, Khay. Aku hanya ingin mengerjaimu saja!" Ray tertawa dengan keras. "Sudahlah! Fokus saja pada rencanamu!"


"Bukankah kemarin kau bilang kau tidak akan membantuku lagi?"


Ray tersentak. Benar. Kemarin ia yang bicara jika tak akan membantu Khay lagi.


"Hmmm, maaf. Mungkin aku hanya sedikit sensitif saja." goda Ray lagi.


"Ish, ya sudah. Aku senang kau masih mau membantuku, Ray. Bagaimana nasibku jika tanpamu dan Lusi?"


"Jangan bicara sembarangan! Kau akan selalu hidup dengan baik dan bahagia mulai dari sekarang."


"Hmm, terima kasih." Khay tersenyum manis menoleh ke arah Ray yang sedang fokus menyetir.


Membuat Ray mencengkeram erat kemudinya. Ia tak mau hasratnya kembali muncul karena Khay. Setelah kejadian di kamarnya tadi, Ray mulai tak bisa menahan hasrat dalam hatinya. Baru kali ini merasakan sensasi berbeda ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Khay. Itu benar-benar membuat Ray frustasi dan lama mengurung diri di kamar mandi.


"Apa rencanamu kali ini?" tanya Ray agar tak terus memikirkan tentang hasratnya.


"Umm, masih sama. Aku yakin dia akan menemuiku lagi di toko. Kau tahu, dia terlihat sangat mencintai kakakku. Dia bilang jika selama ini dia mencari kakakku. Aneh sekali!"


"Aneh bagaimana?"


"Aneh karena dia tidak menemukan apapun dari pencariannya."


"Apa kau merasa ada yang janggal?"


"Hu'um. Tapi entah apa. Aku belum bisa menemukan jawabannya. Aku harus menyelidikinya lebih dalam."


"Khay..."


"Iya."


"Hati-hati ya."

__ADS_1


Lagi-lagi Khay menunjukkan senyum terbaiknya. Sepertinya ia mulai terbiasa menjadi Khania.


"Iya, jangan khawatir."


Khay turun dari mobil Ray dan berjalan menuju rumah toko yang sudah ia siapkan sebagai alibinya sebagai penjual barang-barang seni.


Sebenarnya Khay tidak begitu paham dengan hal-hal berbau seni, tapi ia mempelajarinya secara singkat karena Rakha tiba-tiba ada di kota ini.


Khay sedang berbenah dan menata beberapa lukisan lalu memandangi lukisan yang tidak ia mengerti apa maknanya.


"Kau tahu apa arti lukisan ini?"


Astaga!


Jantung Khay hampir melompat kala mendengar suara Rakha yang tiba-tiba ada di belakangnya.


"Maaf aku mengagetkanmu ya?"


Khay tersenyum kikuk. Ya sebenarnya memang iya dia sangat kaget. Namun berusaha ia tutupi dengan tetap memasang wajah anggun ala Khania.


"Kau datang?" tanya Khay berusaha menyapa dengan suara lembutnya.


"Iya. Rasanya aku tidak bisa hidup jika tidak melihatmu sebentar saja."


Wajah Khay memanas mendengar kalimat dari bibir Rakha. Iapun menunduk agar tak ketahuan oleh Rakha.


"Sejak kapan kau menjual barang-barang seni? Aku baru tahu jika kau menyukai seni." tanya Rakha dengaj melihat beberapa lukisan yang terpajang.


"Umm, itu..." Khay mulai bingung merangkai kata. Ia baru tahu jika kakaknya tidak menyukai seni. Harusnya ia memilih menjual baju-baju saja dari pada benda seni yang sulit untuk ditebak apa maknanya. Tapi itu tidak anti-mainstream. Bukan Khay namanya jika tak suka dengan tantangan.


"Aku suka kau menyukai seni..." Rakha mulai mendekati Khay.


Khay masih menunduk karena ia tak sanggup menatap mata Rakha.


"Sayang... Lihat aku jika sedang bicara! Kau masih canggung ya karena kita sudah lama tidak bersama." Rakha mengangkat dagu Khay. Lalu mata merekapun beradu.


"Umm, itu..." Khay selalu gagap jika sudah berhadapan dengan Rakha. Entah apa yang terjadi dengan lidahnya. Serasa kelu jika bertemu Rakha. Seperti bukan Khay yang selalu nyerocos jika bersama dengan Ray.


"Tidak apa. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Bagaimana?"


"Eh?"

__ADS_1


"Aku dan kamu. Rakhania. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Kita lupakan yang sudah lalu dan buka lembaran baru."


"Tapi...."


"Kau khawatir tentang Disha?"


Khay tak menjawab. Rakha bisa menebak jika itu benar.


"Tentang hubunganku dan Disha, aku akan mengurusnya. Yang perlu kau lakukan adalah... terus berada disisiku dan jangan pergi lagi." Rakha memegangi kedua bahu Khay.


Khay mengangguk pelan.


"Berjanjilah kau tidak akan pergi lagi..."


"Iya, aku janji..."


Rakha tersenyum dan memeluk Khay. Khay hanya bisa memejamkan mata setelah ia mengatakan janji itu pada Rakha. Tidak mungkin juga ia menjawab 'tidak'. Karena rencananya harus tetap berjalan.


"Oh ya, besok aku harus kembali ke Kota M. Aku memang membuka cabang disini, tapi aku tak bisa terus tinggal disini. Karena cabang utama juga tanggung jawabku. Kau mau kan menungguku?"


"Eh? Ah, iya."


"Aku akan mencari cara agar kau juga bisa pindah lagi ke Kota M."


"Heh?!"


"Tapi aku tidak mau kau bekerja sebagai guru TK lagi disana. Aku akan mencarikan posisi yang bagus di perusahaan."


"Eh? Tu-tunggu! Kenapa terburu-buru?"


"Makin cepat makin bagus, sayang. Aku akan mencari cara untuk membatalkan pertunanganku dengan Disha, jadi aku bisa melamarmu secara resmi."


"A-apa?!?"


"Kenapa kau terus terkejut? Aku memang berniat melamarmu sejak setahun yang lalu. Dan sekarang aku tak mau lagi menundanya. Aku sangat mencintaimu, Khania."


Khay mencari kebenaran di mata Rakha. Semua itu benar. Apa yang Rakha ucapkan memang benar.


"Aku juga mencintaimu..."


Entah secara sadar atau tidak saat Khay yang mengucapkan kalimat itu pada Rakha.

__ADS_1


Rakha tersenyum senang dan langsung membawa Khay dalam pelukannya.


#bersambung...


__ADS_2