
Khay makin canggung dengan situasinya bersama Rakha. Hingga sore hari Rakha masih juga tidak beranjak dari kamarnya dan sibuk menemani Khay mulai dari menyuapi makan, mengupas buah, dan menemaninya menonton televisi.
Dan berjam-jam pula Ray maupun Ken tidak juga kembali ke kamar. Khay benar-benar dibuat mati kutu oleh Rakha. Ia hanya memasang wajah tersenyum manis didepan Rakha.
"Umm, Rakha..." panggil Khay yang melihat Rakha sibuk dengan ponselnya.
"Iya, sayang. Ada apa?"
"Apa kau tidak kembali ke kantor?" tanya Khay ragu-ragu. Ia bukan bermaksud mengusir Rakha, tapi ia juga ingin berdiskusi dengan Ken dan Ray mengenai masalah Jonas.
Rakha melirik kearah jam tangannya. "Sebentar lagi aku ada meeting dengan klien. Kau tidak apa 'kan kutinggal sendiri?"
"Tidak apa. Aku justru tidak enak hati jika kau terlalu lama disini."
"Kau tenang saja. Aku sudah menyerahkan semua pekerjaan pada Dika."
"Eh? Apa? Kenapa kau tega sekali padanya?"
"Hahaha, kenapa sayang? Dia 'kan memang asistenku. Sudah seharusnya dia menggantikan aku jika aku ada kepentingan."
Khay menggelengkan kepalanya. "Apa seenak itu menjadi bos? Tinggal suruh sana suruh sini." gumam Khay.
Sementara itu, Ray masih terus mengawasi kamar Khay dari kejauhan. Ia masih was-was jika saja ada anggota organisasi yang menyusup masuk ke rumah sakit.
Karena waktu jam besuk pasien sudah dibuka, Ken masuk kedalam rumah sakit. Dari jauh ia melihat Ray belum pergi dari taman. Ken pun menghampiri Ray.
"Hei, bung. Jadi sedari siang kau masih ada disini?" sapa Ken dengan menepuk bahu Ray.
"Diamlah! Aku sedang tidak ingin bicara denganmu." jawab Ray.
"Astaga! Jadi pria itu masih ada disana? Apa saja yang mereka lakukan ya?" tanya Ken dengan mengusap dagunya. "Pintu tertutup rapat, dan gorden juga tertutup. Wah, benar-benar sempurna untuk bermesra..." belum sempat Ken melanjutkan kalimatnya, Ray sudah beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menuju kamar Khay.
"Astaga! Baru di panasi sedikit saja sudah terbakar dia!" Ken menepuk jidatnya dan menyusul langkah Ray.
"Hei, bung! Jangan berbuat keributan!" teriak Ken yang tidak digubris oleh Ray yang sudah tersulut api cemburu.
Ray tiba di depan pintu kamar Khay, ia sudah memegangi handel pintu dan akan membuka pintunya. Namun secara tak terduga Rakha juga memegang handel pintu.
__ADS_1
Pintu pun terbuka. Rakha mengernyit heran bertatapan lagi dengan Ray.
"Oh, hai. Aku akan pulang. Kau tolong jaga Khania ya!" ucap Rakha pada Ray.
Ray hanya mengangguk tanpa berniat menjawab. Rakha menepuk bahu Ray kemudian berlalu.
Ray masuk ke kamar dan disambut dengan senyum manis Khay.
"Apa saja yang kau lakukan bersama dia selama berjam-jam?" tanya Ray dengan nada tak biasa.
"Aku tidak melakukan apapun dengannya. Hanya makan dan menonton televisi." jawab Khay jujur.
"Sudahlah, Bung. Jangan berlebihan. Lagipula ini rumah sakit, mana mungkin mereka melakukan hal yang tidak-tidak." sahut Ken yang baru saja masuk.
"Kalian membicarakan apa sih?" tanya Khay bingung.
"Sudahlah, Nona. Jangan di dengarkan. Dia hanya lelah." jawab Ken lagi.
Dan memang benar, Ray langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Khay menatap Ken seakan bertanya ada apa dengan Ray? Namun Ken hanya mengedikkan bahunya pertanda dia tidak tahu.
"Gadis ini seorang detektif tapi dia amat tidak peka." batin Ken sambil menggeleng pelan lalu mengambil remote dan mengganti channel televisi.
.
.
Sejak kasus organisasi hitam kembali mencuat, sudah banyak menyita waktu dan tenaga mereka. Waktu makan pun jadi tidak beraturan dan hanya makan seadanya. Padahal pekerjaan mereka memerlukan konsentrasi yang amat tinggi.
"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Liana saat mengupas buah untuk Khay.
"Iya, bu. Aku sudah merasa tubuhku kembali normal. Dokter bilang besok aku sudah bisa pulang."
"Hmm, baguslah." Liana menyerahkan sepotong apel pada Khay.
"Ibu tidak perlu melakukan ini untukku." ucap Khay merasa tak enak hati.
"Tidak apa. Aku sudah menganggapmu sebagai anakku juga. Oh iya, apa aku boleh meminta sesuatu?"
__ADS_1
"Apa itu, bu?"
"Tinggalah bersama kami."
"Eh?" Khay amat terkejut mendengar permintaan Liana.
"Aku tahu ini terlalu mengejutkan. Tapi, ini demi keselamatanmu, nak. Akan lebih mudah jika kita tinggal bersama dan berdiskusi bersama mengenai rencana kita. Mungkin selama ini aku tidak pernah bekerja sama dengan pihak lain yang bukan dari ISS. Tapi, mengingat situasinya sudah semakin rumit, akan lebih baik jika kita bersama-sama."
Khay berpikir sejenak. "Tapi, bu... Apa nanti kata orang jika aku tinggal di tempat kalian? Aku dan Rakha bahkan tidak memiliki hubungan sejauh itu untuk bisa tinggal bersama. Yang dicintai putramu bukanlah aku, tapi kakakku..."
Liana menatap Khay lalu mengenggam kedua tangan Khay. "Jika hanya itu yang kau takutkan, kenapa kalian tidak melangkah lebih jauh saja?"
Dahi Khay berkerut. "Maksud ibu?"
"Kalian menikah saja." ucap Liana enteng.
"Heh?! Apa?! Menikah?" Khay amat terkejut.
"Iya, nak. Menikahlah dengan Rakha..." ucap Liana penuh harap pada Khay.
Sementara itu diluar kamar, Ray sudah mencengkeram erat handel pintu dan bersiap untuk masuk. Satu tangannya mengepal kuat mendengar permintaan Liana pada Khay.
Namun Ray tidak bisa masuk kedalam kamar karena Ken mencekal tangannya sama kuat. Ken menghalangi Ray untuk masuk dan menginterupsi percakapan Liana dan Khay.
.
.
#bersambung...
*Jadi nikah gak ya?
Jan lupa tinggalin jejak buat si detektif cantik ππ
.
.
__ADS_1
Gaess, mamak punya sekilas info nih. Buat kalian yg mau lihat video2 dari novel2 keren Noveltoon, mampir aja langsung ke ig nya @lucyv146. disana digambarkan visual novel dari karya author2 daebak di NT. Cuss mampir nyook ππ
Terima kasih ππ