
18 tahun kemudian,
Hari ini adalah hari ulang tahunku... dan kado terbaik yang kuinginkan di usiaku yang ke 18 adalah. . .
"Bibi, aku hanya mau Paman Ray kembali..." rengekku pada Bibi Disha.
"Sayang, kau tahu bukan jika pamanmu itu sangat sibuk..."
Aku cemberut. Aku tidak bahagia lagi. Pria yang bernama Ray itu hanya datang setahun sekali dalam hidupku. Dan dia hanya datang di hari ulang tahunku. Tapi tahun ini...
Aku rasa dia tidak akan datang...
.
.
.
.
.
Aku berkelana keliling dunia. Banyak hal yang kulakukan setelah masuk kedalam organisasi ISS. Aku punya tanggung jawab yang besar untuk ini.
"Sir, terjadi lagi pembunuhan. Kini korbannya seorang pejabat tinggi korup." lapor Isabella, anak didikku.
Aku sudah mengelilingi beberapa benua untuk menangkap psikopat gila yang melakukan pembunuhan berantai di beberapa negara berbeda.
Aku masih belum menemukan titik terangnya...
"Sir, tiga hari lalu harusnya kau kembali ke Indonesia. Keponakanmu tersayang berulang tahun ke 18." ucap Lexi.
Oh God... Bagaimana aku bisa lupa dengan ulang tahun Khania? Aku tak pernah melewatkan hari lahirnya itu selama bertahun-tahun. Aku hanya menemuinya di hari itu.
.
.
.
.
.
"Khania!!!"
Kuedarkan pandanganku ketika mendengar suara yang tidak asing bagiku namun tak pernah kutemui.
"Paman Ray!" seruku gembira dan langsung berhambur memeluknya.
Dialah pria yang mengobrak-abrik perasaanku. Entah perasaan apa ini? Aku tidak ingin berjauhan dengannya lagi...
"Paman, aku merindukanmu..."
.
.
.
Gadis ini sudah tumbuh dengan cepat. Dia sangat mirip dengan ibunya yang bar-bar.
Astaga! Apa ini? Dia bahkan baru berusia 18 tahun. Tahun dimana aku juga pertama kali mengenal ibunya.
Khania... Kau benar-benar mengingatkanku padanya. Entah kenapa perasaan cinta itu masih terus ada meski kau telah tiada...
__ADS_1
Setiap tahun aku mengunjungi makamnya. Tempat peristirahatan terakhirnya dan orang yang dia cintai.
.
.
.
"Apa? Enak saja! Dia bilang dia akan berada disini selama tujuh hari, tapi apa ini? Dia bahkan harus kembali bekerja! Tidak! Tidak akan kubiarkan dia pergi lagi. Jika dia harus pergi, maka aku akan mengikutinya."
Dengan nekat gadis bernama Khania itu masuk kedalam koper besar yang muat dengan tubuh mungilnya.
Koper itu terbawa dengan pesawat jet pribadi yang ditumpangi Ray. Gadis itu marah karena pria yang ditunggunya selama satu tahun hanya memiliki waktu dua hari bersamanya, padahal janjinya adalah satu minggu.
Dan setelah melintasi benua yang berbeda, pesawat jet tersebut mendarat di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas.
Khania terbangun dari tidurnya dan keluar dari koper besar itu. Ia melihat sekeliling rumah dan ternyata dia berada di sebuah kamar.
"Astaga! Ada dimana aku? Apa ini adalah rumah Paman Ray? Tapi dimana ini?"
Khania keluar dari kamar dan bertemu dengan wanita paruh baya berpakaian seragam hitam dan putih.
Khania berteriak, begitu juga dengan wanita itu.
"Nona, siapa Anda? Kenapa bisa keluar dari kamar Tuan?"
"Tuan? Tuan siapa?"
Khania menjelajah rumah besar itu dan menemukan foto Ray terpasang disana.
"Jadi, ini adalah rumah Paman Ray?"
.
.
.
Ray meminta Isabella untuk menjaga Khania.
"Sir, aku bukan baby sitter!" keluh Isabella.
"Hello!!! Aku juga bukan bayi yang harus diawasi!!!" jawab Khania.
"Kau tidak tahu bahaya apa yang bisa mengintaimu. Kita ada di Rio, Khania. Ini Brazil. Dan apa saja bisa terjadi disini!" tegas Ray.
.
.
.
Khania berjalan sendiri di jalanan kota Rio de Janeiro. Ia amat senang karena bisa terbebas dari kawalan anak buah Ray, Isabella.
BRUKK!!!
Khania bertabrakan dengan seorang pria muda berwajah pucat. Pria itu meringis kesakitan.
Khania tak tega dan berusaha menolongnya. Inilah pertemuan pertama mereka.
"Astaga, Tuan. Kau terluka!" pekik Khania yang melihat darah keluar dari tubuh pria itu.
"Tidak apa. Aku sudah terbiasa terluka." jawab pria itu.
"Tuan, aku akan menolongmu. Dimana tempat tinggalmu?"
__ADS_1
"Tidak jauh dari sini."
Khania memapah pria muda itu. Pria muda itu menunjukkan tempat tinggalnya. Sebuah apartemen kecil dan sederhana.
Khania mengobati luka si pria dengan telaten.
"Kau harus beristirahat, Tuan. Aku harus pergi. Aku hanya seorang turis asing disini."
"Siapa namamu, Nona?"
"Khania..."
"Nama yang bagus, Nona. Kurasa kita akan bertemu lagi setelah ini..."
Dan Khania segera pergi dari apartemen pria itu tanpa menanyakan namanya. Khania sudah panik karena ponselnya terus bergetar. Panggilan dari Ray yang sudah sedari tadi ia abaikan.
.
.
.
"Jangan pernah bertindah gegabah lagi atau akan kupulangkan kau ke Indonesia!!!" Geram Ray.
"Maafkan aku, Paman. Aku tidak bermaksud untuk..."
"Berhenti mengucap kata maaf! Kau memang seperti ibumu yang selalu bertindak tanpa berpikir ulang! Apa kau tahu semua orang mencemaskanmu, huh!!!"
Tangis Khania semakin kencang.
"Paman jahat!!!" ucap Khania dengan membanting pintu.
.
.
.
"Aku tahu jika Paman menyukai ibuku. Bahkan sangat mencintainya. Tapi ternyata ibuku lebih memilih ayahku. Jika Paman tidak bisa mendapatkan ibuku, Paman bisa mendapatkan cintaku."
Gadis itu berani mengungkapkan perasaannya di depan Ray.
Ray memantung seketika kala gadis 18 tahun itu mengelus rahang kokohnya yang dipenuhi bulu-bulu halus tipis.
"Aku mencintai Paman. Aku mohon jadikan aku milikmu, Paman."
Khania mendekatkan wajahnya hingga tak berjarak dengan wajah Ray. Dengan lembut gadis itu mencium bibir milik pria 45 tahun itu...
.
.
.
Gimana blurb nya?
udah gak sabar buat part pertama? 😬😬
sabar yes...
mamak selesein satu2 dulu ya yg Jantung Hati Sang Dokter Tampan. Mampir yuks.
Cerita bergenre Sci-fi drama romance dan crime ini menghadirkan kisah dokter tampan yang mencari tambatan hati yang membawa pergi benih yang ia tanam pada rahim si gadis. Anehnya, sang dokter tampan tak tahu seperti apa rupa sang gadis. Ia hanya mengetahui namanya saja.
Hingga tujuh tahun berlalu dan mereka dipertemukan namun dalam keadaan yang berbeda dan sang gadis telah merubah namanya.
__ADS_1
Akankah mereka bisa bersatu ditengah banyaknya teka teki yang menyelimuti kisah hidup mereka?
Yuks kepoin kepoin 😉