
Ray kembali ke kediaman keluarga Wicaksana dan bertemu dengan Disha. Ia menceritakan semua rencana yang akan ia lakukan dengan Noel Alexander.
"Apa kakak yakin ini tidak berbahaya? Jadi, Khania akan kehilangan ingatannya?" tanya Disha menatap Ray.
"Ini lebih baik dari pada harus melihat Khania dipenuhi oleh dendam."
Disha dan Dika saling pandang.
"Lalu bagaimana cara kita membawa Khania ke tempat Noel?" Tanya Dika.
"Aku akan cari cara untuk membujuknya. Khania tidak akan kehilangan ingatan sepenuhnya. Ia hanya akan melupakan kenangan pahit mengenai kematian orang tuanya."
"Baiklah, Kak. Aku setuju dengan ide Kak Ray," ucap Disha.
Tak berselang lama, gadis yang dibicarakan tiba di rumah. Ia baru saja kembali dari sekolahnya. Tatapan tajamnya mengarah pada Ray. Ia tak menyapa para orang tua yang ada disana dan melengos masuk ke dalam kamarnya.
Disha menghela napas dengan sikap Khania.
"Jangan khawatir. Biarkan aku yang mengurusnya, Disha."
Ray menyusul Khania menuju kamarnya.
"Khania!" panggil Ray.
"Ada apa? Kenapa Paman datang lagi?" tanya Khania dingin.
"Tidak ada. Aku hanya ingin meminta maaf padamu," ucap Ray lirih.
"Minta maaf? Untuk apa? Untuk tidak bisa menyelesaikan kasus kedua orang tuaku, begitu?" sarkas Khania.
"Khania..."
"Apa lagi yang kalian inginkan dariku? Aku akan membalas semuanya sendiri, Paman. Jadi, Paman jangan ikut campur. Aku akan mencari siapa pembunuh ayah dan ibuku!" pekik Khania.
Tanpa aba-aba, Ray memeluk tubuh rapuh gadis di hadapannya. Ia tahu sebenarnya gadis itu menyimpan luka yang begitu dalam.
"Kau jangan merasa sendiri, Khania. Ada Paman disini, dan juga bibi Disha juga Paman Dika. Keluargamu ada disini, Khania." Ray mengusap punggung Khania yang kini bergetar.
Gadis itu menangis dalam dekapan Ray. Pria itu tersenyum senang karena Khania sudah ia luluhkan. Kini tinggal menunggu esok untuk melanjutkan rencana yang sudah dibuat.
*
__ADS_1
*
*
Keesokan harinya, Khania bangun lebih pagi dan merasakan sebuah kelegaan didalam hatinya. Khania keluar dari kamar dengan berdendang ria. Ia bertemu dengan Ray.
"Paman Ray!"
"Hai, Khania. Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Ray.
"Tidurku nyenyak, Paman. Ayo kita sarapan, pasti bibi Disha sudah menunggu."
Khania dan Ray berjalan bersama menuju ke meja makan. Disana mereka berdua disambut oleh keluarga kecil itu.
"Duduklah, Nak." ucap Disha.
Tak ada perbincangan berarti ketika sedang berada di meja makan. Disha melirik sekilas kearah Ray.
Ray menarik sudut bibirnya ketika mendapat tatapan dari Disha.
"Paman akan mengantarmu ke sekolah," ucap Ray pada Khania.
"Mood anak remaja memang mudah berubah-ubah. Sepertinya Kak Ray berhasil meluluhkan hati Khania," batin Disha.
Usai sarapan Ray menyiapkan mobil untuk mengantar Khania ke sekolah. Bagaimanapun ia harus membuat Khania tidak curiga padanya.
Khania melambaikan ketika mobil Ray mulai menjauh dari pandangan. Kini Khania harus belajar dulu di sekolah.
Ray pergi ke markas ISS dan mencari bukti-bukti dari tujuh tahun lalu. Ia ingat apa yang dikatakan dokter Diana saat itu.
"Jika memang benar ada pemuda yang menolong Khania saat itu, bisa jadi orang itu adalah pelaku dari kecelakaan yang menimpa Khay dan Rakha. Tapi siapa dia? Ada hubungan apa dia dengan Khay?" batin Ray berperang dengan semua logika yang ada.
Ray kembali memeriksa rekaman kamera pengawas yang ada dijalanan itu. Dulu ia telah memeriksanya dan tidak menemukan apapun. Sekarang pun tetap sama. Ray tidak menemukan apapun.
"Sial! Ada apa dengan semua ini?" Ray mengusap wajahnya kasar.
"Jika aku bertanya pada Khania ... itu tidak mungkin. Bisa saja Khania berbohong soal pemuda yang ada disana."
Hingga waktu menunjukkan jam pulang sekolah Khania, Ray bergegas untuk menjemput gadis itu ke sekolah.
Khania sudah menunggu di depan pintu gerbang sekolahnya. Ray turun dari mobil dan menyapa gadis itu.
__ADS_1
"Hai, bagaimana sekolahmu?" tanya Ray.
"Yah begitulah. Biasa saja," jawab Khania asal. Dia sangat mirip dengan ibunya, Khayla.
"Ayo!" Ray membuka pintu mobil untuk Khania.
Pasti saat ini Khania terlihat seperti gadis kecil yang dijemput oleh sugar daddy, hihihi.
"Apa mau langsung pulang?" tanya Ray ketika mobil mulai melaju.
"Terserah Paman saja."
"Kau ingin makan siang dulu?"
"Boleh. Apa Paman masih ingat jalanan kota ini? Semua sudah banyak berubah, Paman."
"Ya masih ingat. Tapi jika lupa, bukankah kita bisa menggunakan aplikasi maps?"
"Yeah, kecanggihan teknologi."
Ray tersenyum mendengar Khania yang masih saja bersikap jutek padanya.
Tiba di sebuah resto, Khania dan Ray duduk berhadapan. Di depan mereka telah terhidang makanan pesanan mereka masing-masing.
Khania makan dengan lahap dan itu membuat Ray tersenyum. Tak lama semua makanan itupun tandas. Khania meneguk habis es jeruk yang dipesannya.
Ray menarik sedikit sudut bibirnya.
"Sepertinya rencana awal sudah berhasil," batin Ray.
"Paman, kenapa aku merasa ngantuk sekali?"
"Ada apa, Khania? Kau tidak apa-apa?" tanya Ray mulai panik.
"Entahlah, Paman. Aku merasa tubuhku terasa lemah."
BRUK!
Khania tak sadarkan diri. Ray berjalan menghampiri gadis itu dan menggendong tubuhnya. Ray membawanya masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya menuju ke tempat Noel Alexander.
#tobecontinued
__ADS_1