
Dua jam sebelumnya,
Seorang pria muda sedang berdiri di pinggir jalanan sepi sambil menelepon seseorang di seberang sana. Pria muda berkaus putih dan memakai topi itu berbicara dengan orang-orang suruhannya.
"Jika kalian sudah siap, hubungi aku lagi nanti ketika mobilnya sudah melaju."
"Baik, Bos."
"Aku ingin semuanya sempurna. Ingat itu!"
"Tenang saja, Bos."
"Baiklah. Aku tutup teleponnya!"
Pria itu mematikan sambungan telepon. Tatapannya menerawang jauh seolah menyiratkan sebuah rasa.
"Sebentar lagi. Tinggal sebentar lagi dan semuanya berakhir..." gumam pria muda itu.
Tak lama sebuah pesan masuk kedalam ponsel pria itu. Ia tersenyum membaca pesan yang dikirim oleh anak buahnya.
"Bagus! Akan kutunggu mereka disini! Di tempat inilah kita akan mengakhiri semua dendam ini!" ucap pria itu.
Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya ia melihat sebuah mobil melaju di depan matanya. Sebuah truk besar juga datang dari samping membuat mobil sedan hitam itu tertabrak kencang hingga terguling. Pria muda itu tersenyum melihat hal itu. Namun beberapa saat kemudian senyumnya memudar kala melihat seorang gadis kecil menangis histeris.
"Hah?!" Pria itu tercengang. Ia tak menyangka jika gadis kecil itu di lemparkan dari dalam mobil agar selamat.
Entah kenapa hati pria itu bergemuruh ketika melihat tangis seorang gadis kecil. Tangisan yang terdengar pilu. Hati kecilnya merasa tak tega dan iba terhadap gadis kecil.
Setelah beberapa saat ia menatap hampa kearah gadis kecil itu, tiba-tiba kakinya melangkah dan menangkap tubuh gadis kecil itu. Ia memeluknya dengan erat. Gadis kecil itu terus meronta dan membuat hatinya makin tersentuh.
Sungguh ia ikut merasakan apa yang gadis kecil itu rasakan. Ia terus menahan agar gadis kecil itu menurut.
Lalu terdengar suara menggelegar dari arah depan mereka. Pria itu mendekap tubuh sang gadis agar gadis itu tak melihat jika mobil yang membawa kedua orang tuanya telah meledak. Terdengar bunyi dentuman yang cukup keras.
Tubuh gadis kecil itu mulai melemah. Kesadarannya mulai hilang karena merasakan kesedihan yang amat dalam.
Pria muda itu menangkap tubuh sang gadis dan memeluknya. Diusapnya sisa-sisa air mata yang ada di wajah gadis itu.
"Maafkan aku," lirih sang pemuda.
Pria muda itu menatap lekat wajah gadis yang menyentuh hatinya.
__ADS_1
"Kita pasti akan bertemu lagi, suatu saat nanti."
Pria itu meraih ponselnya dan menekan nomor untuk melakukan panggilan.
"Halo, kantor polisi...."
......***......
Satu jam kemudian, beberapa petugas polisi sudah berada di lokasi kecelakaan mobil itu karena mendapat sebuah panggilan. Mereka mengevakuasi mobil yang sudah terbakar habis itu.
Ditemukan potongan tulang belulang dua orang manusia di dalam mobil. Dan juga sebuah tanda pengenal yang hanya dimiliki beberapa orang saja.
Ray segera menuju ke tempat kejadian perkara begitu mengetahui tentang kecelakaan yang dialami oleh Khay. Ia menatap nanar mobil milik Rakha yang hampir menjadi abu itu.
Seorang petugas polisi menghampiri Ray dan memberikan sesuatu padanya.
"Pak, ini ... ditemukan di dalam mobil. Hanya ini saja yang selamat sebagai tanda pengenal korban," ucap petugas polisi itu.
Ray menerima benda logam itu. Itu adalah tanda pengenal anggota ISS yang sengaja dibuat agar anti api. Tertulis jelas disana nama Khay dalam logam itu.
Ray menggenggam logam itu kuat-kuat. Tangannya terkepal membayangkan apa yang sudah terjadi pada sahabatnya.
"Gadis kecil yang selamat sudah di bawa oleh ambulans ke rumah sakit, Pak. Dia tidak sadarkan diri saat kami menemukannya," jawab si petugas polisi.
Ray segera menuju ke rumah sakit dimana Khania dirawat. Selama perjalanan banyak hal yang Ray pikirkan. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Siapa yang melakukan ini? Apakah mungkin..."
Begitu banyak spekulasi dalam otaknya. Hingga akhirnya mobilnya telah tiba di halaman rumah sakit. Ray segera turun dan berlarian mencari keberadaan Khania. Dua jasad korban kecelakaan juga sudah di bawa ke ruang autopsi.
Ray melihat Amara dan juga Disha bersama Dika. Suasana berkabung terasa jelas di depan sebuah ruang perawatan yang adalah kamar rawat Khania.
Ray menghampiri Amara. Ia berusaha menenangkan Amara yang terus menangis.
"Nak Ray, apa yang sebenarnya terjadi? Ini tidak mungkin terjadi, bukan?" ucap Amara dengan sesenggukan.
"Tenanglah, Bibi." Ray tidak bisa mengatakan apa pun kecuali hanya sebuah kata yang berusaha menghibur hati yang sedang lara.
Ray meraih tubuh senja Amara dan mendekapnya. Ia mengusap punggung Amara yang bergetar hebat.
Sementara Disha sedari tadi juga menangis. Dika senantiasa berada di sisinya dan memeluknya. Kondisi Khania masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
Begitu proses autopsi selesai, pemakamana Rakha dan Khay pun segera di lakukan tanpa kehadiran Khania. Tubuh gadis kecil itu masih syok dan lemah untuk mendatangi pemakaman kedua orang tuanya.
Ray tertegun melihat dua kotak peti mati masuk kedalam liang lahat. Rasa kehilangan amat dalam ia rasakan, meski air matanya tak pernah menetes.
Ray kembali ke rumah sakit usai pemakaman Khay dan Rakha. Ia melihat wajah mungil Khania masih terpejam. Ia mengelus lembut puncak kepala Khania.
"Aku janji, aku akan mencari tahu siapa dalang yang sudah membuatmu harus kehilangan kedua orang tuamu. Aku berjanji padamu, Khania..." Gumam Ray dalam hati.
Ray kembali ke kantornya dan memeriksa segala sesuatunya. Kematian Khay masih disembunyikan dari pihak luar yang bisa saja memanfaatkan situasi dimana anggota ISS tewas dengan cara yang tak biasa. Memang sudah bukan menjadi rahasia ketika masuk kedalam organisasi seperti ISS, mereka harus siap dengan konsekuensi yang akan terjadi pada kehidupan mereka. Bahkan nyawa adalah taruhannya.
Ray menatap layar datar yang ada di depannya. Ia mengamati satu persatu rekaman kamera pengawas di sepanjang jalan tempat terjadinya kecelakaan yang menewaskan Khay dan Rakha. Ia sangat yakin jika ini bukanlah kasus kecelakaan biasa.
Saat sedang fokus mengamati, tiba-tiba ponsel Ray berdering. Sebuah panggilan dari anak buahnya.
"Halo!" jawab Ray.
"Halo, Pak. Saya ingin mengabarkan jika kami menemukan dua buah truk yang di duga telah menabrak mendiang nyonya Khay dan suaminya."
"Apa kau bilang? Kau menemukan pelakunya?"
"Tidak, Pak. Kedua supir truk itu telah tewas. Dugaan sementara adalah mereka tewas karena racun."
"Racun?" Ray mengernyitkan dahinya.
"Iya, Pak. Racun itu ada dalam botol minuman yang mereka minum sebelum tewas. Sepertinya mereka berdua hanyalah orang suruhan dari pelaku sebenarnya."
Tubuh Ray melemas. Lagi-lagi ia tidak bisa mendahului si pelaku.
"Baiklah. Terima kasih atas kerja kerasmu. Tetap selidiki kasus ini secara diam-diam."
"Baik, Pak."
Panggilan berakhir. Ray memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Bayangan-bayangan mengenai pelaku sebenarnya masih jauh dari pemikirannya.
"Siapa yang melakukan ini? Apakah ia adalah pelaku yang sama dengan pelaku pembunuhan berantai yang terjadi akhir-akhir ini?"
#bersambung
*Huwaaaahhh, mencari cara untuk mendapatkan ide terbaik dari kisah ini agar lebih antimainstream dari sebelumnya, agak out of the box untukku ya. Baru pertama kali aku membuat sebuah kisah yang penuh dengan.... 😬😬😬entahlah. Semoga kalian tetap menyukainya 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak kesayangan 💋💋
__ADS_1