
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Sebuah mobil mewah sedang melaju dijalanan Kota M yang
sedang lengang. Malam mulai menyelimuti gemerlap kota yang banyak terdapat
gedung tinggi menjulang. Tiga orang yang ada di dalam mobil sedang
mendiskusikan tentang masalah mereka.
“Bagaimana, Doc? Apa kau sudah menemukan identitas dari
gadis itu?” Tanya seorang pria berkaca mata hitam yang duduk di sebelah kiri si
pengemudi.
Pria yang dipanggil ‘Doc’ yang sedang mengemudi pun menjawab
sambil tersenyum menyeringai.
“Sudah, Bos. Ternyata dia adalah adik kembaran Jasmine, Bos.
Namanya Khayla, dan dia adalah seorang detektif.” Jelas pria berjuluk Doc itu.
“Sepertinya kita harus mulai waspada, Prince. Gadis itu
tidak bisa kita anggap remeh.” Sahut seorang perempuan seksi yang duduk di
kursi belakang.
“Kau benar, Irish. Suruh anak buahmu untuk mengawasi gadis
itu.”
“Kau tenang saja, Prince.”
“Dia menyamar sebagai Jasmine untuk menemukan bukti tentang
kematian Jasmine?” Tanya pria yang berjuluk Prince.
“Benar. Dia sedang menyelidiki soal kita dibantu dengan
kekuasaan dari polisi.” Jawab Irish.
“Lalu apa ada campur tangan dari ISS?”
“Entahlah, Prince. Aku belum mengendus sampai kesitu. Tapi
yang jelas, gadis itu bersama dengan seorang pria muda yang cukup cerdik. Kita
benar-benar tidak bisa meremehkannya.” Balas Irish.
Pandangan Irish tertuju keluar kaca mobil. Ingatannya kembali
tertuju pada gadis muda yang merelakan nyawanya melayang secara sia-sia.
“Dasar gadis bodoh!
Seandainya saja kau tidak terjebak cinta pria muda naif itu, pasti saat ini kau
pasti masih hidup, Zevanya. Kau memilih jalan hidupmu sendiri. Dan kakak tidak
bisa menolongmu…”
.
.
.
.
__ADS_1
.
Ray kembali ke kamar Khay dengan membawa beberapa bungkus
makanan. Wajah Khay terlihat tegang. Tak seperti dua orang lainnya.
“Ada apa ini? sebaiknya kita makan dulu. Ayah, ini untukmu…”
ucap Ray menyerahkan bungkusan untuk Rein.
“Terima kasih, Nak.” Balas Rein.
“Khay, kau juga harus makan.”
“Hu’um. Terima kasih, Ray.”
Kemudian mereka berempat makan dengan lahap dan tanpa suara.
Usai makan, Khay kembali meraih buku harian milik Khania. Ia kembali membaca
isinya. Tak lama, Khay menutup buku harian itu.
“Jadi… Apa yang sebenarnya organisasi inginkan dari kakakku,
Paman?” Tanya Khay menatap Rein. Ray dan Andre pun ikut menatap Rein.
“Kau tidak ingin membacanya sendiri?” Tanya Rein.
Khay menggeleng. “Aku tidak mau, Paman.”
“Baiklah, jika itu maumu.” Rein meminta Andre untuk
menunjukkan hasil pencariannya.
Andre menyerahkan laptopnya ke tangan Khay. “Ini adalah isi
dari kartu memori yang ditemukan di brankas Khania. Silahkan kau lihat, aku
berhasil meretas sandinya lagi.”
siapa pria yang ada di foto tersebut. Lalu Khay terus menscroll foto-foto itu
hingga akhirnya ia mengenali satu sosok.
“Rakha?” Khay mengernyit bingung.
Khay melihat banyak foto Rakha dan juga pria paruh baya yang
tidak ia kenal.
“Pria paruh baya itu bernama Ardi Wicaksana.” Terang Rein. “Dia
adalah pengusaha sukses di kota ini. Dan dia adalah target yang seharusnya dilindungi
oleh agen ISS yang menyusup ke organisasi. Lalu, pria muda itu benar adalah
Rakha. Dia adalah putra sulung dari Ardi. Organisasi berhasil menjalankan
misinya dengan menghabisi nyawa Ardi, dan membuat agen ISS yang menyamar menjadi
putus asa dan akhirnya keluar dari ISS karena telah gagal menyelamatkan target.
Nama agen itu adalah James Arthur. Dia adalah pemilik Scarlet Tattoo. Pria yang
beberapa waktu lalu kalian temui adalah dia.” Lanjut Rein.
“Apa?!” Khay menatap Ray. Ia merasa jika selama ini Ray
telah menyembunyikan banyak hal darinya.
“Lalu apa yang sebenarnya dilakukan oleh kakakku? Kenapa dia
masuk kedalam organisasi?” Tanya Khay lagi.
Rein menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab
__ADS_1
pertanyaan Khay. “Rakha adalah target misi milik Khania.”
“Maksud Paman?”
“Khania diberi misi untuk melenyapkan Rakha.” Sahut Andre
karena melihat gelagat Rein yang tidak tega untuk menjawabnya.
Khay menutup mulutnya tidak percaya. “Bagaimana mungkin? Tapi,
bukankah kakakku mencintai Rakha?” Khay masih tidak mengerti dengan semua ini.
“Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh
Khania. Karena orang yang masuk kedalam organisasi, tidak akan bisa merasakan
hati mereka…” lanjut Andre.
Khay hanya terdiam. Rein bisa melihat jika Khay terlihat
syok mendengar kenyataan tentang kakaknya.
“Paman harus segera pergi. Andre, kau bisa menginap di kamar
Ray. Dan Khay… Beristirahatlah! Kau pasti lelah seharian ini.”
Khay mengangguk paham.
.
.
.
Usai membereskan kamarnya, Khay mencari Ray namun tidak
menemukannya dikamar. Khay menuju atap apartemen. Ia tahu jika Ray pasti ada
disana. Ia hapal kebiasaan Ray yang suka menyendiri.
Khay menghampiri Ray yang sedang berdiri menatap
gedung-gedung tinggi disekitar apartemen.
“Ray…”
Ray menoleh kearah suara Khay. “Kau kemari?”
“Hmm…”
“Bagaimana perasaanmu? Kau sudah mengetahui semuanya.”
“Belum semuanya, Ray. Masih banyak misteri yang belum
terpecahkan.”
“Tunggulah sebentar lagi. Kita pasti bisa menemukan mereka.”
“Ray… Ternyata kau menyimpan luka yang amat dalam. Selama
bertahun-tahun, aku bahkan tidak tahu apapun.” Ucap Khay dengan penuh
penyesalan.
“Tidak, Khay. Kau sudah menjadi teman yang baik selama ini.
Terima kasih.”
Khay tersenyum. Kemudian ia memeluk Ray. Sebuah pelukan
untuk sahabat. Namun bagi Ray, entah perasaan apa yang bergelayut dalam hatinya
setelah Khay mengetahui semuanya.
#bersambung…
__ADS_1