RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 035


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave


Like and Comments. Thank You.


*Happy Reading*


Sebuah mobil mewah sedang melaju dijalanan Kota M yang


sedang lengang. Malam mulai menyelimuti gemerlap kota yang banyak terdapat


gedung tinggi menjulang. Tiga orang yang ada di dalam mobil sedang


mendiskusikan tentang masalah mereka.


“Bagaimana, Doc? Apa kau sudah menemukan identitas dari


gadis itu?” Tanya seorang pria berkaca mata hitam yang duduk di sebelah kiri si


pengemudi.


Pria yang dipanggil ‘Doc’ yang sedang mengemudi pun menjawab


sambil tersenyum menyeringai.


“Sudah, Bos. Ternyata dia adalah adik kembaran Jasmine, Bos.


Namanya Khayla, dan dia adalah seorang detektif.” Jelas pria berjuluk Doc itu.


“Sepertinya kita harus mulai waspada, Prince. Gadis itu


tidak bisa kita anggap remeh.” Sahut seorang perempuan seksi yang duduk di


kursi belakang.


“Kau benar, Irish. Suruh anak buahmu untuk mengawasi gadis


itu.”


“Kau tenang saja, Prince.”


“Dia menyamar sebagai Jasmine untuk menemukan bukti tentang


kematian Jasmine?” Tanya pria yang berjuluk Prince.


“Benar. Dia sedang menyelidiki soal kita dibantu dengan


kekuasaan dari polisi.” Jawab Irish.


“Lalu apa ada campur tangan dari ISS?”


“Entahlah, Prince. Aku belum mengendus sampai kesitu. Tapi


yang jelas, gadis itu bersama dengan seorang pria muda yang cukup cerdik. Kita


benar-benar tidak bisa meremehkannya.” Balas Irish.


Pandangan Irish tertuju keluar kaca mobil. Ingatannya kembali


tertuju pada gadis muda yang merelakan nyawanya melayang secara sia-sia.


“Dasar gadis bodoh!


Seandainya saja kau tidak terjebak cinta pria muda naif itu, pasti saat ini kau


pasti masih hidup, Zevanya. Kau memilih jalan hidupmu sendiri. Dan kakak tidak


bisa menolongmu…”


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ray kembali ke kamar Khay dengan membawa beberapa bungkus


makanan. Wajah Khay terlihat tegang. Tak seperti dua orang lainnya.


“Ada apa ini? sebaiknya kita makan dulu. Ayah, ini untukmu…”


ucap Ray menyerahkan bungkusan untuk Rein.


“Terima kasih, Nak.” Balas Rein.


“Khay, kau juga harus makan.”


“Hu’um. Terima kasih, Ray.”


Kemudian mereka berempat makan dengan lahap dan tanpa suara.


Usai makan, Khay kembali meraih buku harian milik Khania. Ia kembali membaca


isinya. Tak lama, Khay menutup buku harian itu.


“Jadi… Apa yang sebenarnya organisasi inginkan dari kakakku,


Paman?” Tanya Khay menatap Rein. Ray dan Andre pun ikut menatap Rein.


“Kau tidak ingin membacanya sendiri?” Tanya Rein.


Khay menggeleng. “Aku tidak mau, Paman.”


“Baiklah, jika itu maumu.” Rein meminta Andre untuk


menunjukkan hasil pencariannya.


Andre menyerahkan laptopnya ke tangan Khay. “Ini adalah isi


dari kartu memori yang ditemukan di brankas Khania. Silahkan kau lihat, aku


berhasil meretas sandinya lagi.”


siapa pria yang ada di foto tersebut. Lalu Khay terus menscroll foto-foto itu


hingga akhirnya ia mengenali satu sosok.


“Rakha?” Khay mengernyit bingung.


Khay melihat banyak foto Rakha dan juga pria paruh baya yang


tidak ia kenal.


“Pria paruh baya itu bernama Ardi Wicaksana.” Terang Rein. “Dia


adalah pengusaha sukses di kota ini. Dan dia adalah target yang seharusnya dilindungi


oleh agen ISS yang menyusup ke organisasi. Lalu, pria muda itu benar adalah


Rakha. Dia adalah putra sulung dari Ardi. Organisasi berhasil menjalankan


misinya dengan menghabisi nyawa Ardi, dan membuat agen ISS yang menyamar menjadi


putus asa dan akhirnya keluar dari ISS karena telah gagal menyelamatkan target.


Nama agen itu adalah James Arthur. Dia adalah pemilik Scarlet Tattoo. Pria yang


beberapa waktu lalu kalian temui adalah dia.” Lanjut Rein.


“Apa?!” Khay menatap Ray. Ia merasa jika selama ini Ray


telah menyembunyikan banyak hal darinya.


“Lalu apa yang sebenarnya dilakukan oleh kakakku? Kenapa dia


masuk kedalam organisasi?” Tanya Khay lagi.


Rein menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab

__ADS_1


pertanyaan Khay. “Rakha adalah target misi milik Khania.”


“Maksud Paman?”


“Khania diberi misi untuk melenyapkan Rakha.” Sahut Andre


karena melihat gelagat Rein yang tidak tega untuk menjawabnya.


Khay menutup mulutnya tidak percaya. “Bagaimana mungkin? Tapi,


bukankah kakakku mencintai Rakha?” Khay masih tidak mengerti dengan semua ini.


“Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh


Khania. Karena orang yang masuk kedalam organisasi, tidak akan bisa merasakan


hati mereka…” lanjut Andre.


Khay hanya terdiam. Rein bisa melihat jika Khay terlihat


syok mendengar kenyataan tentang kakaknya.


“Paman harus segera pergi. Andre, kau bisa menginap di kamar


Ray. Dan Khay… Beristirahatlah! Kau pasti lelah seharian ini.”


Khay mengangguk paham.


.


.


.


Usai membereskan kamarnya, Khay mencari Ray namun tidak


menemukannya dikamar. Khay menuju atap apartemen. Ia tahu jika Ray pasti ada


disana. Ia hapal kebiasaan Ray yang suka menyendiri.


Khay menghampiri Ray yang sedang berdiri menatap


gedung-gedung tinggi disekitar apartemen.


“Ray…”


Ray menoleh kearah suara Khay. “Kau kemari?”


“Hmm…”


“Bagaimana perasaanmu? Kau sudah mengetahui semuanya.”


“Belum semuanya, Ray. Masih banyak misteri yang belum


terpecahkan.”


“Tunggulah sebentar lagi. Kita pasti bisa menemukan mereka.”


“Ray… Ternyata kau menyimpan luka yang amat dalam. Selama


bertahun-tahun, aku bahkan tidak tahu apapun.” Ucap Khay dengan penuh


penyesalan.


“Tidak, Khay. Kau sudah menjadi teman yang baik selama ini.


Terima kasih.”


Khay tersenyum. Kemudian ia memeluk Ray. Sebuah pelukan


untuk sahabat. Namun bagi Ray, entah perasaan apa yang bergelayut dalam hatinya


setelah Khay mengetahui semuanya.


#bersambung…

__ADS_1


__ADS_2