
Perhatian: Akan ada adegan dewasa di part ini. Harap pembaca bijak menyikapi ya! Sesuaikan dengan usia pembaca ya! Yang tidak suka skip saja dan klik jempolnya saja, hehehe. Terima kasih
.
.
"Khania!"
Sebuah suara yang tidak asing membuat Ken seketika menurunkan tangannya dan berbalik badan meninggalkan Khay.
Khay membalikkan badan dan melihat Rakha dihadapannya.
"Rakha..."
"Ada apa? Kenapa kau menangis?" Rakha menyeka air mata Khay.
"Tidak apa. Aku hanya ... tiba-tiba teringat akan Rich." Khay menghapus seluruh air matanya. Ia tak mau Rakha melihatnya bersedih.
Sementara Rakha juga sedang memikul beban berat karena berita miring yang menerpa kematian Rich.
"Ayo masuk!" ajak Rakha.
Rakha menuntun Khay masuk kedalam kamar mereka.
"Kau ingin mandi? Aku akan siapkan air hangat untukmu." tawar Khay.
Rakha mengangguk.
.
.
Hari sudah mulai gelap setelah Disha menghubungi Dika dan meminta Dika untuk menjemputnya di sekitar area vila milik ayahnya. Sejauh ini tidak ada anak buah Alan yang mengejar Disha. Air mata Disha memang sudah kering, namun hatinya masih terasa sesak.
Setelah lama menunggu, akhirnya sebuah lampu sorot mobil mengarah pada tubuh Disha. Dika segera menepikan mobil dan turun menemui Disha yang duduk berjongkok.
"Disha!!!" Dika segera memeluk tubuh Disha.
"Dika... Terima kasih karena sudah menemukanku..."
"Ayo!" Dika memapah tubuh Disha masuk kedalam mobil. Kemudian Dika mulai memutar balik arah dan kembali ke kota.
Tak lama, Disha tampak memejamkan mata. Dika hanya tersenyum melihat Disha terpejam. Ia tidak bertanya lebih lanjut tentang apa yang terjadi karena itu pasti akan menyakiti perasaan Disha.
Dika membawa Disha ke kamar apartemennya. Ia merebahkan tubuh Disha di tempat tidur miliknya.
Dika berpikir sejenak. Ia harus menghubungi seseorang yang bisa membantunya.
"Paman Rein!" gumam Dika sambil menatap Disha.
.
__ADS_1
.
.
Rakha keluar dari kamar mandi masih dengan memakai handuk terlilit di pinggangnya. Ia tak melihat istrinya berada di kamar. Pintu yang menuju balkon terbuka menandakan jika Khay berada di balkon.
Rakha menghampiri Khay lalu memeluknya dari belakang. Khay tersentak karena tiba-tiba ada tangan basah yang melingkar di pinggangnya.
"Rakha? Kenapa kau belum berpakaian?" tanya Khay saat memutar tubuhnya.
Rakha tersenyum. "Kau belum menyiapkannya untukku."
"Eh? Maaf. Kalau begitu akan aku siapkan." Khay hendak berlalu dari balkon.
Rakha mengikuti langkah Khay yang akan menuju walk-in-closet miliknya. Rakha menghentikan langkah Khay dengan menarik tangannya.
"Tidak perlu!"
"Eh?"
Rakha mendekati Khay. Ia menarik pinggang Khay hingga menabrak dada bidangnya. Rakha berbisik pelan.
"Bisakah aku memilikimu malam ini?"
"Heh?"
Entah sudah berapa kali Khay terus terkejut. Khay menatap dalam ke manik Rakha. Tanpa harus menjawab Khay memejamkan matanya sebagai pertanda jika dirinya siap dimiliki oleh Rakha.
Tanpa harus diminta, Khay membalas sapuan bibir Rakha dengan sama pelan dan lembut. Tangan Khay perlahan naik dan dilingkarkan ke leher Rakha agar bisa lebih dalam mengecap rasa.
Mereka saling mengambil nafas dan saling memandang untuk beberapa detik. Tak lama mereka kembali beradu bibir. Rakha menuntun tubuh Khay hingga jatuh ke atas tempat tidur.
Khay masih memejamkan mata kala Rakha mulai bergerilya melepas satu persatu kancing piyama yang ia kenakan. Khay membuka matanya yang entah kenapa masih digenangi air mata.
Rakha yang sudah diliputi gairah membara tidak memperhatikan jika Khay terisak. Rakha masih menikmati dua buah benda kenyal yang pas ditangannya ketika di genggam. Ia memainkan ujung buah yang kenyal itu dengan pelan. Membuat Khay menggigit bibir bawahnya karena merasakan sensasi yang luar biasa.
Rakha menyesap bergantian dua benda itu dan memberi jejak disana. Khay menjerit kecil. Ia membelai rambut Rakha dengan agak kasar karena merasakan sesuatu yang nikmat di bagian dadanya.
Satu tangan Rakha turun kebawah dan berhasil meloloskan celana piyama milik Khay dan menyisakan satu penghalang di tubuh Khay.
Rakha masih bermain cantik di bagian atas Khay. Sesekali ia kembali meraih bibir ranum milik Khay yang hanya ia saja pemiliknya.
"Rakha..."
Khay menyebut nama Rakha kala Rakha telah meloloskan seluruh kain yang melekat pada tubuh Khay.
Rakha menatap Khay yang matanya sudah mengembun.
"Aku janji akan melakukannya dengan pelan." ucap Rakha sebelum menancapkan benda tumpul panjang dan berurat itu kedalam liang sempit milik Khay.
"Aakkkhhh!!!" pekik Khay merasakan sesuatu yang menembus dan merobek miliknya yang berharga.
__ADS_1
Kini ia telah resmi menjadi milik Rakha seutuhnya. Air mata itu kembali lolos kala Rakha terus menyebut nama Khania.
"Apakah sakit?"
Khay meringis merasakan sakit. Namun ia tak mau merusak momen berharganya bersama Rakha.
"Ha-hanya sedikit sakit." jawab Khay terbata.
Sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Sakit iya. Berbunga-bunga iya. Dan sensasi nikmat juga iya.
Rakha mulai bergerak maju mundur dengan perlahan. Khay mencengkeram erat pinggang Rakha yang bergerak semakin cepat dan teratur.
Nafas mereka memburu kala gairah juga semakin memuncak. Suara erangan mereka saling bersahutan.
"Rakhaaa!!"
Khay memejamkan mata ketika gerakan Rakha semakin cepat memompa tubuhnya hingga berguncang hebat.
"Khaniaaa, aku hampir sampai..." racau Rakha dengan mengerang pelan.
Khay menggigit bibir bawahnya ketika semua rasa dalam dirinya keluar membuncah.
Rakha menatap Khay. "Sayang, kenapa menangis?"
"Ti-tidak. Aku... Aku menangis karena bahagia..."
"Terima kasih, karena sudah menjadi milikku." ucap Rakha kemudian mengecup kening Khay. Ia merebahkan tubuhnya disamping Khay.
Khay makin merapatkan tubuhnya pada tubuh Rakha. Air matanya masih lolos mengingat tentang Khania.
Sementara itu, disebuh rumah sakit, seorang pasien mulai menggerakkan jari-jarinya tanda ia mulai terbangun dari tidur panjanganya. Seorang perawat yang melihatnya segera memanggil dokter untuk memeriksanya.
"Dokter, pasien mulai memberikan respon." ucap si perawat.
Dokter segera memeriksa kondisi vital pasien yang ternyata sudah membuka matanya. Pasien itu menitikkan air mata dari sudut matanya.
"Akhirnya, setelah satu tahun ia koma, kini terbangun juga. Suster, tolong hubungi wali pasien ini." ucap sang dokter.
"Baik, dokter."
.
.
#bersambung...
*Mau Up agak sorean eeeh mamak malah ketiduran, hihihi
ku UP tengah malam saja, hehe.
*Apa yg akan terjadi selanjutnya? jangan lupa tinggalkan jejak kesayangan mamak 😘😘
__ADS_1