
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Hari ini Ray ikut menemani Khay ke kantornya. Setelah kemarin
malam ia melihat rekaman kamera pengawas dan Khay menemukan sedikit petunjuk
tentang orang yang mengintai mereka. Ray baru tiba di parkiran perusahaan, dan
secara tidak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.
BRUUUKKK!!
“Aduh!” pekik seseorang yang ternyata seorang wanita.
“Maaf, nona. Apa kau baik-baik saja?”
“Tidak, aku tidak apa.” Gadis itu langsung pergi usai
membenahi pakaiannya.
“Hah? Itu ‘kan…” Ray menunjuk kearah gadis itu yang sudah
menghilang di balik tembok parkiran.
“Disha Thariq? Iya benar, dia adalah Disha. Mau apa dia datang
kesini? Apa dia ingin menemui Khay?” Ray menggumam sendiri.
Dan benar saja, Khay dikejutkan dengan kedatangan Disha. Disha
begitu gembira bertemu dengan Khay.
“Ayo kita makan siang bersama.” Ajak Disha.
“Tapi, Disha… Pekerjaanku masih banyak. Aku akan makan
disini saja.”
“Ayolah, Khania. Apa Rakha membuatmu sangat sibuk? Aku akan
bicara dengannya agar kau tidak terlalu sibuk.”
“Hmm, baiklah.”
Disha berteriak riang, ia segera membawa Khay keluar dari
kantor.
“Hari ini kita akan makan diluar. Aku akan mengambil mobil,
kau tunggulah di lobi.”
“Tidak, aku ikut saja. Kesannya aku menggunakan model
terkenal sebagai supirku.”
Disha tertawa mendengar penuturan Khay. “Ternyata kau orang
yang sangat menyenangkan, Khania.”
Khay hanya mengerutkan keningnya. “Terserah kau saja lah,
nona muda.” Gumam Khay yang tidak didengar oleh Disha.
Mereka tiba di sebuah kafe dengan nuansa kebun. Khay melirik
__ADS_1
ke sekeliling kafe yang sangat asri karena dipenuhi banyak tanaman.
“Kau sering datang kemari?” Tanya Khay.
“Tidak. Ini baru pertama kalinya. Seorang temanku yang
merekomendasikannya.”
Khay hanya mengangguk-angguk.
Tak lama pesanan merekapun datang. Mereka makan dengan
lahap. Terlebih lagi Khay tadi pagi tidak sempat sarapan. Pastilah ia makan
dengan lahap siang ini.
“Rakha ingin membatalkan pertunangan kami…” Disha tiba-tiba
bersuara ditengah santap makan siang mereka.
Khay yang sedang mengunyah makanannya, seketika terhenti dan
memperhatikan Disha. Ada raut kesedihan disana.
“Apa ini karena aku?” Tanya Khay polos.
Disha tersenyum. “Bukan. Sejak awal memang Rakha tidak
pernah mencintaiku. Kami hanya terpaksa bertunangan karena kerja sama dua
perusahaan.”
“Apa kau ingin aku membujuk Rakha agar meneruskan
pertunangan kalian?”
“Kupikir kau menceritakan ini karena ingin aku membantumu…”
“Tidak. Aku hanya ingin bercerita saja. Selama ini aku tidak
pernah punya teman dekat. Aku senang bisa mengenalmu.”
Khay hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Ia merasa
bersalah pada gadis didepannya ini.
Apa yang harus
kulakukan? Pikiranku terlalu penuh jika harus memikirkan tentang Disha juga. Tapi,
aku juga tidak tega melihat gadis ini menderita. Tapi, Rakha juga hanya
mencintai Kak Khania. Ya Tuhan, kenapa urusan hati begitu rumit?
.
.
.
Disha mengantarkan Khay kembali ke kantor. Khay melambaikan
tangan melepas kepergian Disha dengan mobil mewahnya. Rakha yang melihat Khay
ada di lobi segera menghampirinya.
“Hai, sayang…” sapa Rakha.
“Pak Rakha? Jangan memanggilku begitu jika masih jam kantor.”
__ADS_1
Sungut Khay.
Rakha malah terkekeh. “Kau ini! Memangnya kenapa?”
“Kau akan membuat posisiku semakin sulit.”
“Apa Disha mengatakan sesuatu padamu?”
Khay mengangguk. Ia tidak mau berbohong pada Rakha. Ia ingin
Rakha sadar jika Disha sangat mencintainya.
“Masalah Disha biar aku yang mengurusnya. Ayo kembali ke
ruanganku, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Rakha menarik tangan Khay. Dan
tentu saja pemandangan itu membuat orang-orang yang melihatnya makin memandang
tidak suka kearah Khay.
Setibanya di ruangan Rakha, ia meminta Khay duduk di sofa.
“Ada apa?” Tanya Khay.
“Dengar, nanti malam aku akan menjemputmu. Kita akan makan
malam dirumahku.”
“Hah?!” Khay sangat terkejut.
“Jangan terkejut begitu. Kau sudah pernah bertemu dengan
keluargaku. Kau bahkan sangat dekat dengan ibuku.”
Khay hanya tersenyum kikuk. “Haduh, bagaimana ini?” gumam
Khay dalam hati.
“Hmm, baiklah. Aku harus memakai baju apa?” Khay tidak punya
pilihan lain selain menyetujuinya.
“Apa saja. Aku menyukai apapun yang kau pakai.” Jawab Rakha
dengan mencubit pipi Khay gemas.
“Ish, kau ini. Aku bertanya serius.” Khay memukul pelan
lengan Rakha.
“Aku serius, sayang…” Rakha membawa Khay dalam pelukannya.
Entah kenapa berada di pelukan Rakha saat ini sedikit membuat
Khay tenang dan sedikit melupakan beban di hatinya.
“Terima kasih.” Ucap Khay lirih namun masih bisa didengar
oleh Rakha yang makin mengeratkan pelukannya. Setitik senyum terukir di wajah
Rakha.
.
.
#bersambung….
apa yang akan terjadi saat Khay bertemu dengan Liana, ibunda Rakha?
__ADS_1