
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Jam makan siang telah usai, namun Khay belum juga kembali ke
ruang kerjanya. Rakha mengernyit heran karena mendapati kekasih hatinya
belum kembali. Ia pun bertanya pada Dika apakah ia melihat Khania nya atau
tidak.
“Tidak, aku tidak tahu dimana Khania. Coba kau Tanya Rani.
Bukankah biasanya Khania makan siang bersama dengannya.” Usul Dika.
“Ah, kau benar juga.” Rakha langsung menghubungi Rani
melalui sambungan telepon.
Rakha merasakan hatinya tidak tenang. “Dia pergi bersama Disha,
Dik.” Ucap Rakha datar.
“Heh? Disha?” Dika mulai merasa cemas. “Disha tidak akan
melakukan hal nekat, bukan?” Tanya Dika yang sepertinya tidak ditanggapi oleh
Rakha.
“Coba kau cek rekaman kamera pengawas, Dik.” Perintah Rakha.
“Baik, bos.” Dika segera keluar dari ruangan Rakha.
Rakha memijat pelipisnya pelan. “Khania… Kau dimana? Kenapa
perasaanku tidak enak begini?”
Rakha berkali-kali menghubungi ponsel Khay namun tidak
aktif. Begitupun dengan ponsel Disha.
“Sebenarnya mereka pergi kemana?” Rakha mulai cemas. Ia merasa
terjadi sesuatu dengan Khay.
Tak lama kemudian, Dika datang ke ruangan Rakha lagi dengan tergesa.
“Bos!”
“Ada apa, Dika? Apa kau menemukan sesuatu?”
“Lihat ini!” Dika memperlihatkan video rekaman kamera
pengawas di depan kantornya.
“Ini ‘kan…” tunjuk Rakha.
“Benar, ini adalah mobil Disha. Kau sudah menghubungi Disha?”
“Sudah, tapi ponselnya tidak aktif. Kira-kira mereka pergi
kemana, Dik?”
Dika juga tidak memiliki ide kemana Disha membawa Khay
pergi.
“Disha… Apa kau senekat ini? Hanya karena kau tidak bisa mendapatkan
__ADS_1
Rakha. Apa kau tidak bisa melihat hatiku?” batin Dika.
Rakha sudah tidak bisa fokus bekerja. Ia pun keluar dari
ruangannya dan menghubungi ibunya. Ia pun segera pergi ke apartemen Khay. Siapa
tahu Khay ada disana.
“halo, ibu…”
“Ada apa, nak? Suaramu terdengar panik.”
“Khania menghilang, bu…”
“Apa? Bagaimana bisa?” tiba-tiba Liana teringat akan
kata-kata Rein kemarin yang mengatakan jika Khay adalah target dari organisasi.
“Halo, ibu…”
“Iya, nak…”
“Bukankah ibu memiliki banyak teman di kepolisian. Tolong cari
dimana Khania, Bu. Untuk detilnya akan aku ceritakan nanti. Aku akan ke
apartemen Khania dulu. Siapa tahu dia ada disana.”
“Baiklah, nak. Kau berhati-hatilah!”
Panggilan berakhir.
Liana segera menghubungi Rein dan mengabarkan jika Khay
menghilang. Dengan sigap Rein meminta Andre untuk meretas kamera pengawas di
kantor Rakha. Dengan cepat Andre berhasil mendapatkan hasil rekaman itu.
“Itu adalah… mobil milik Disha.” Ucap Ray.
“Dia adalah tunangan Rakha. Lebih tepatnya mantan tunangan.”
Jelas Ray.
“Apa dia ingin membalas dendam?” Tanya Rein.
“Mungkin saja, Ayah.”
“Cepat lacak keberadaan Khay melalui kalung yang kuberikan
padanya.” Titah Rein.
“Baik, paman.” Andre segera mengotak-atik laptopnya dan
mencari titik keberadaan Khay.
“Semoga saja ini bukan ulah organisasi hitam.” Gumam Rein.
“Ayah, Disha bukan bagian dari organisasi. Dia pasti hanya
cemburu saja pada Khay.” Ray masih bisa merasa tenang jika itu hanya ulah
Disha.
“Semoga saja, nak. Tapi tidak mungkin Disha melakukan ini
sendiri. Khay pemegang sabuk hitam. Dia bahkan bisa melawan beberapa pria
sekaligus.”
Kini Ray mulai cemas. Jantungnya mulai berdetak tak karuan.
__ADS_1
“Benar juga apa kata ayah. Khay… dimanapun kau
berada, kuharap kau baik-baik saja.” Batin Ray.
Sementara itu, disebuah kamar yang mirip sebuah villa. Disha
mulai membuka matanya. Ia mengerjapkan-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang
masuk kedalam retinanya.
“Dimana aku?” lirih Disha dengan memegangi kepalanya yang
terasa pening. Disha melihat sekeliling kamar yang lumayan luas itu.
Disha turun dari tempat tidur dan menuju pintu dan bermaksud
membukanya. Namun ternyata pintu itu terkunci dari luar. Ia pun menggedor pintu
dan berteriak.
“Buka pintunya!! Siapapun disana!! Tolong buka!!”
Mendengar teriakan Disha, seorang pria berpakaian serba
hitam membukakan pintu kamar tersebut.
PLAAAKKK!!!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi pria tersebut. Pria itu
memegangi pipinya yang terasa panas terkena tamparan dari tangan mulus Disha.
“Berani sekali kalian mengurungku disini!! Bukankah aku yang
menyuruh kalian untuk membawa Khania. Kenapa malah mengurungku disini, hah?!”
ucap Disha dengan kesal.
“Maaf, nona. Tapi ini perintah dari Tuan.” Jawab pria itu
sambil menunduk.
“Tuan? Tuan siapa? Ayahku maksudmu?” Tanya Disha mengernyit
bingung.
“Maaf, Nona. Saya tidak bisa memberitahukannya pada nona. Yang
jelas, nona tidak akan bisa keluar hingga tuan memerintahkan kami.”
“Apa katamu?!” Disha makin kesal.
“Sebaiknya nona menurut saja. Jika tidak, kami bisa saja
berbuat kasar pada Nona.” Pria itu segera menutup pintu, namun di cegah oleh
Disha.
“Tunggu! Baiklah, aku akan menurut. Tapi… dimana Khania? Kalian
bawa kemana dia?”
“Soal itu nona tidak perlu tahu.”
“Apa? Kenapa? Bukankah aku yang meminta kalian untuk hanya
membawanya. Kenapa sekarang kalian yang mengaturku sih?”
“Nona tidak perlu banyak bicara. Cukup diam didalam kamar.”
“Jangan sakiti Khania! Dia adalah temanku!” teriak Disha
__ADS_1
sebelum orang itu benar-benar menutup pintu.
#bersambung