RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 044


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave


Like and Comments. Thank You.


*Happy Reading*


Jam makan siang telah usai, namun Khay belum juga kembali ke


ruang kerjanya. Rakha mengernyit heran karena mendapati kekasih hatinya


belum kembali. Ia pun bertanya pada Dika apakah ia melihat Khania nya atau


tidak.


“Tidak, aku tidak tahu dimana Khania. Coba kau Tanya Rani.


Bukankah biasanya Khania makan siang bersama dengannya.” Usul Dika.


“Ah, kau benar juga.” Rakha langsung menghubungi Rani


melalui sambungan telepon.


Rakha merasakan hatinya tidak tenang. “Dia pergi bersama Disha,


Dik.” Ucap Rakha datar.


“Heh? Disha?” Dika mulai merasa cemas. “Disha tidak akan


melakukan hal nekat, bukan?” Tanya Dika yang sepertinya tidak ditanggapi oleh


Rakha.


“Coba kau cek rekaman kamera pengawas, Dik.” Perintah Rakha.


“Baik, bos.” Dika segera keluar dari ruangan Rakha.


Rakha memijat pelipisnya pelan. “Khania… Kau dimana? Kenapa


perasaanku tidak enak begini?”


Rakha berkali-kali menghubungi ponsel Khay namun tidak


aktif. Begitupun dengan ponsel Disha.


“Sebenarnya mereka pergi kemana?” Rakha mulai cemas. Ia merasa


terjadi sesuatu dengan Khay.


Tak lama kemudian, Dika datang ke ruangan Rakha lagi dengan tergesa.


“Bos!”


“Ada apa, Dika? Apa kau menemukan sesuatu?”


“Lihat ini!” Dika memperlihatkan video rekaman kamera


pengawas di depan kantornya.


“Ini ‘kan…” tunjuk Rakha.


“Benar, ini adalah mobil Disha. Kau sudah menghubungi Disha?”


“Sudah, tapi ponselnya tidak aktif. Kira-kira mereka pergi


kemana, Dik?”


Dika juga tidak memiliki ide kemana Disha membawa Khay


pergi.


“Disha… Apa kau senekat ini? Hanya karena kau tidak bisa mendapatkan

__ADS_1


Rakha. Apa kau tidak bisa melihat hatiku?” batin Dika.


Rakha sudah tidak bisa fokus bekerja. Ia pun keluar dari


ruangannya dan menghubungi ibunya. Ia pun segera pergi ke apartemen Khay. Siapa


tahu Khay ada disana.


“halo, ibu…”


“Ada apa, nak? Suaramu terdengar panik.”


“Khania menghilang, bu…”


“Apa? Bagaimana bisa?” tiba-tiba Liana teringat akan


kata-kata Rein kemarin yang mengatakan jika Khay adalah target dari organisasi.


“Halo, ibu…”


“Iya, nak…”


“Bukankah ibu memiliki banyak teman di kepolisian. Tolong cari


dimana Khania, Bu. Untuk detilnya akan aku ceritakan nanti. Aku akan ke


apartemen Khania dulu. Siapa tahu dia ada disana.”


“Baiklah, nak. Kau berhati-hatilah!”


Panggilan berakhir.


Liana segera menghubungi Rein dan mengabarkan jika Khay


menghilang. Dengan sigap Rein meminta Andre untuk meretas kamera pengawas di


kantor Rakha. Dengan cepat Andre berhasil mendapatkan hasil rekaman itu.


“Itu adalah… mobil milik Disha.” Ucap Ray.


“Dia adalah tunangan Rakha. Lebih tepatnya mantan tunangan.”


Jelas Ray.


“Apa dia ingin membalas dendam?” Tanya Rein.


“Mungkin saja, Ayah.”


“Cepat lacak keberadaan Khay melalui kalung yang kuberikan


padanya.” Titah Rein.


“Baik, paman.” Andre segera mengotak-atik laptopnya dan


mencari titik keberadaan Khay.


“Semoga saja ini bukan ulah organisasi hitam.” Gumam Rein.


“Ayah, Disha bukan bagian dari organisasi. Dia pasti hanya


cemburu saja pada Khay.” Ray masih bisa merasa tenang jika itu hanya ulah


Disha.


“Semoga saja, nak. Tapi tidak mungkin Disha melakukan ini


sendiri. Khay pemegang sabuk hitam. Dia bahkan bisa melawan beberapa pria


sekaligus.”


Kini Ray mulai cemas. Jantungnya mulai berdetak tak karuan.

__ADS_1


“Benar juga apa kata ayah.  Khay… dimanapun kau


berada, kuharap kau baik-baik saja.” Batin Ray.


Sementara itu, disebuah kamar yang mirip sebuah villa. Disha


mulai membuka matanya. Ia mengerjapkan-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang


masuk kedalam retinanya.


“Dimana aku?” lirih Disha dengan memegangi kepalanya yang


terasa pening. Disha melihat sekeliling kamar yang lumayan luas itu.


Disha turun dari tempat tidur dan menuju pintu dan bermaksud


membukanya. Namun ternyata pintu itu terkunci dari luar. Ia pun menggedor pintu


dan berteriak.


“Buka pintunya!! Siapapun disana!! Tolong buka!!”


Mendengar teriakan Disha, seorang pria berpakaian serba


hitam membukakan pintu kamar tersebut.


PLAAAKKK!!!


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi pria tersebut. Pria itu


memegangi pipinya yang terasa panas terkena tamparan dari tangan mulus Disha.


“Berani sekali kalian mengurungku disini!! Bukankah aku yang


menyuruh kalian untuk membawa Khania. Kenapa malah mengurungku disini, hah?!”


ucap Disha dengan kesal.


“Maaf, nona. Tapi ini perintah dari Tuan.” Jawab pria itu


sambil menunduk.


“Tuan? Tuan siapa? Ayahku maksudmu?” Tanya Disha mengernyit


bingung.


“Maaf, Nona. Saya tidak bisa memberitahukannya pada nona. Yang


jelas, nona tidak akan bisa keluar hingga tuan memerintahkan kami.”


“Apa katamu?!” Disha makin kesal.


“Sebaiknya nona menurut saja. Jika tidak, kami bisa saja


berbuat kasar pada Nona.” Pria itu segera menutup pintu, namun di cegah oleh


Disha.


“Tunggu! Baiklah, aku akan menurut. Tapi… dimana Khania? Kalian


bawa kemana dia?”


“Soal itu nona tidak perlu tahu.”


“Apa? Kenapa? Bukankah aku yang meminta kalian untuk hanya


membawanya. Kenapa sekarang kalian yang mengaturku sih?”


“Nona tidak perlu banyak bicara. Cukup diam didalam kamar.”


“Jangan sakiti Khania! Dia adalah temanku!” teriak Disha

__ADS_1


sebelum orang itu benar-benar menutup pintu.


#bersambung


__ADS_2