
Perhatian : Ada bagian di part ini yang mengandung adegan kekerasan. Harap Pembaca Bijak Menyikapi.
Terima kasih
.
.
Beberapa jam sebelumnya...
Niya memapah Rakha yang sudah tak berdaya keluar dari mobilnya. Rakha mengedarkan pandangannya mengamati sekeliling tempat yang mirip dengan gudang.
Niya membawa Rakha masuk dan mendudukkannya di sebuah kursi. Niya mengikat kaki dan tangan tangan Rakha.
"Niya, ini tempat apa?" Tanya Rakha dengan suara yang hampir menghilang.
"Sudahlah, kakak jangan banyak bertanya. Sebentar lagi istri kakak pasti datang." jawab Niya dengan mengencangkan ikatan di kaki Rakha.
Tangan Rakha di arahkan kebelakang kursi dan diikat cukup kencang oleh Niya dan membuat Rakha meringis kesakitan.
"Aakkhhh!!" rintih Rakha.
"Apa yang akan kau lakukan pada Khania? Jangan sakiti dia! Bunuh saja aku, Niya!"
Niya tersenyum menyeramkan. "Kakak akan tahu seperti apa istri kakak yang sebenarnya. Dia bukanlah gadis manis yang selalu ia tampilkan di depan kakak."
"Apa maksudmu?"
"Sudahlah. Sebaiknya kakak jangan banyak bicara. Maaf jika aku harus melakukan ini." dengan cepat Niya membungkam mulut Rakha dengan perekat berwarna hitam.
Kemudian Niya mengambil jarum suntik dan mengarahkannya ke leher Rakha. Rakha yang ingin memberontakpun tak bisa.
JLEB!!
Kini Rakha benar-benar sudah tak berdaya. Tubuhnya mulai kehilangan kesadaran. Karena Niya baru saja menyuntikkan obat bius ke tubuhnya.
Tak lama setelah itu, Rakha mendengar suara Niya menggema di seluruh ruangan dan membuatnya kembali tersadar dan mencoba mencari sosok yang Niya maksud. Rakha melihat Khay masuk ke gudang itu sendirian. Ingin rasanya memberontak dan membantu istrinya itu. Namun ia sungguh tak berdaya.
Rakha mendengar Khay berbicara dengan Niya dengan nada yang berbeda. Ia mulai mengingat memori kebersamaannya dengan Khanianya.
__ADS_1
Sejak awal memang ada yang berbeda dengan Khania yang ia kenal sekarang. Tapi berkali-kali Rakha menyakinkan dirinya jika setiap orang bisa saja berubah.
Dan kecurigaan Rakha terus muncul kala melihat beberapa bekas luka di tubuh Khay saat mereka beberapa kali melakukan penyatuan. Tenaga Khay yang berbeda dengan Khania membuat Rakha sempat meragukan jika wanita yang sekarang bersamanya bukanlah Khania tapi orang lain.
Dan kata-kata Niya tadi membuatnya juga curiga karena yang kini Rakha lihat memang Khania namun tak seperti Khania. Rakha makin membulatkan mata ketika Niya menantangnya untuk merakit senjata api. Rakha tidak tahu jika Khanianya mengenal hal-hal semacam itu.
"Satu... Dua... Tiga..." ucap Niya.
Rakha terus memperhatikan dua wanita yang sedang adu kecepatan tangan untuk merakit senjata. Rakha melihat Khay yang amat lihai menyatukan kepingan-kepingan besi itu menjadi sebuah senjata yang mematikan.
Tidak mungkin!!! Apa benar dia adalah Khania yang aku kenal? Hanya wajahnya saja yang sama. Tapi... Jika dia bukan Khania, tidak mungkin dia menyerahkan seluruh raganya untukku.
CTEK!!
CTAK!!
Bunyi rakitan senjata api terdengar jelas di ruangan yang cukup luas itu. Keduanya masih sama-sama menggunakan tangan mereka untuk merakit senjata itu.
Satu menit berlalu, dan...
KLEK!!
Bunyi senjata api yang sudah di kokang dan siap menembak terdengar dan membuat seseorang membulatkan mata.
Orang itu terkejut karena mendapati dirinya kalah.
Rakha ikut membulatkan mata kala melihat pemandangan di depannya. Seorang wanita tengah mengarahkan senjata ke arah wanita lain di seberangnya.
.
.
.
Disisi lain, Andre menghubungi Rein dan mengatakan sudah menemukan titik lokasi Khay. Rein beserta beberapa anak buahnya, juga Ken yang membawa orang-orang andalannya di ISS segera meluncur ke tempat yang sudah di beritahukan oleh Rein.
Mereka telah tiba dilokasi pergudangan yang cukup luas. Ken memerintahkan anak buahnya untuk menyisir lokasi tersebut. Ken mengendap-endap dengan senjata api yang sudah siap di tangannya.
Rein dan Ken juga Ray berjalan beriringan dan saling waspada. Mereka memakai earphone untuk memantau pergerakan orang-orang mereka.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Ken.
"Clear. Area kanan kosong!" balas seseorang di seberang.
"Sial!!! Apa tempatnya salah, Paman?" Ken bertanya.
"Tidak, Nak. Sinyal dari kalung Khay berada disini. Tidak mungkin salah?"
"Tapi kenapa sepi sekali?"
"Entahlah. Sebaiknya kita waspada. Jangan sampai lengah. Organisasi hitam selalu muncul di saat tak terduga." tutur Rein.
Ray mengangguk. Begitu pula dengan Ken. Mereka berjalan semakin dekat dengan pintu.
DOOORRRR!!!!
"Hah?!?"
Ketiga pria yang tengah mengendap-endap mendadak tertegun karena mendengar bunyi letusan senjata api.
"Su-suara senjata api! Jangan-jangan..." Ken tidak melanjutkan kalimatnya.
Secepat kilat Ray berlari dan membuka pintu gudang itu.
"KHAAAAYY!!!!"
.
.
#BERSAMBUNG lagi dulu ya shayππ
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya kesayangan ππ
Yuks mampir
__ADS_1
Terima Kasih ππππ