RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 052


__ADS_3

Khay membuka matanya karena merasa sudah cukup mengistirahatkan tubuhnya. Ia melirik jam dinding dan memang benar sudah pukul enam pagi.


Ia melihat sekeliling kamarnya dan tidak mendapati siapapun disana. Baik Ray maupun Ken tidak ada di kamarnya.


"Kemana mereka? Apa mereka tidak tidur disini?" gumam Khay. "Hah, ya sudahlah. Lagipula aku bukan anak kecil yang harus ditemani ketika sakit." lanjut Khay bermonolog.


Pintu kamar Khay diketuk dan masuklah seorang perawat kedalam kamar.


"Selamat pagi nona Khayla. Bagaimana kabar anda?" tanya perawat dengan ramah.


"Baik, suster."


"Hari ini nona sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Mari saya lepas selang infusnya terlebih dahulu."


"Ah iya, silahkan suster."


Pukul delapan pagi, Ray akhirnya datang ke rumah sakit. Wajahnya masih tak bersahabat namun sebisa mungkin ia tetap tersenyum di depan Khay.


"Kau tidur di apartemen?" tanya Khay.


"Hmm." jawab Ray singkat.


"Lalu Ken?"


"Tidak tahu."


"Kenapa tidak tahu? Bukankah kalian selalu bersama?"


"Mana kutahu! Aku kan bukan baby sitternya!" jawab Ray marah.


"Kenapa kau berteriak? Aku kan hanya bertanya." Khay juga ikut terbawa emosi.


"Hah, sudahlah. Aku akan pergi ke bagian administrasi. Kau bersiaplah. Sebentar lagi calon suamimu itu akan datang." ucap Ray kemudian berlalu pergi.


"Calon suami? Apa sih maksudnya?!" gumam Khay masih tidak paham dengan kemarahan Ray terhadapnya.


Pukul sembilan pagi, Rakha datang untuk menjemput Khay. Khay menyambut gembira kedatangan Rakha.

__ADS_1


"Kau sudah baikan?" tanya Rakha.


"Iya. Aku benar-benar sudah sehat seperti wonder woman!" canda Khay pada Rakha.


"Oh ya, aku akan mengurus administrasinya dulu, kau tunggulah disini dan bersiap."


"Eh? Tidak perlu!" Khay menarik lengan Rakha.


"Kenapa?"


"Sudah diurus oleh temanku, Ray." balas Khay dengan tersenyum.


Rakha seakan tidak suka saat Khay menyebut nama Ray.


"Kita langsung pulang saja. Begitu tadi kata Ray." Khay berusaha tersenyum manis.


Rakha mengangguk. Khay melingkarkan tangannya dilengan Rakha. Ia bersikap amat manja pada Rakha kali ini. Mereka pun berjalan beriringan ke tempat parkir.


Khay bernafas lega. Dalam hati ia berkata, "Untung saja Ray sudah mengurus semua administrasinya. Jika tidak, Rakha pasti akan curiga karena saat masuk rumah sakit kemarin, Ray menyertakan kartu identitas sebagai Khayla. Harusnya Ray menyerahkan identitas kak Khania. Ah, ya sudahlah. Yang penting sekarang Rakha tidak curiga padaku."


Sampai di parkiran mobil, Khay masih bermanja-manja dilengan Rakha. Mereka bak sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.


"Khania dan Rakha? Kalian...!!!"


Gadis itu tidak sanggup melihat pemandangan dua sejoli itu lebih dari ini. Ia langsung masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Langkah gadis itu amat pasti dan terdengar bunyi hentakan keras dari sepatu heels nya. Gadis itu melewati beberapa orang pria yang menghalangi langkahnya.


"Minggir!!! Aku ingin bertemu ayahku!!!" ucapnya keras dan lantang.


"Nona, tuan Alan sedang rapat dengan klien. Saat ini tidak bisa diganggu." ucap sekretaris Alan.


"Aku tidak peduli!!! Aku ini putrinya! Ayah tidak bisa menolakku!" Gadis yang tak lain adalah Disha, kini menggebrak pintu ruang rapat dan masuk kedalam ruangan itu.


Sontak orang-orang disana memandang ke arah Disha. Alan hanya menghela nafas melihat tingkah angkuh putrinya.


Alan membisikkan sesuatu ke telinga asistennya, dan langsung disampaikan kepada Disha. Disha yang mengerti akhirnya keluar dari ruang rapat itu dan menuju ruangan ayahnya.

__ADS_1


Tak lama Alan menemui Disha. Ia menyapa putrinya yang sudah beberapa hari tidak ia jumpai.


"Apa kabarmu, nak? Kau kemana saja beberapa hari ini?" tanya Alan lembut sambil memeluk Disha.


Disha tak menjawab. Alan melepas pelukannya.


"Ada apa? Kenapa kau datang ke kantor ayah dengan wajah di tekuk seperti itu?" tanya Alan lagi masih dengan suara lembutnya. Menghadapi putrinya memang harus dengan kelembutan dan kesabaran.


"Ayah! Jangan berbohong lagi padaku!" ucap Disha menatap ayahnya.


"Berbohong apa? Kapan ayah berbohong padamu?"


"Ayah 'kan yang sudah merencanakan ini semua? Ayah yang sudah menculikku dan Khania. Jawab ayah!"


Alan kembali menghela nafasnya. "Nak, dengarkan dulu penjelasan ayah."


"Tidak! Tega sekali ayah melakukan ini padaku? Aku bilang aku hanya ingin menakut-nakuti Khania saja dan tidak menyakitinya. Tapi kenapa ayah malah menyekapku dan membawa Khania. Bahkan dia sampai masuk rumah sakit."


"Ayah pikir itu yang kau inginkan. Kau ingin menyingkirkan gadis itu dari kehidupan Rakha."


"Ayah! Sudah cukup aku melihat sikap ayah yang begini. Ayah selalu melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ayah mau. Bahkan ayah tega menggunakan cara licik untuk mengalahkan musuh-musuh ayah. Aku sudah hapal dengan tipu muslihat ayah! Aku ingin ayah berubah! Tolong jangan lakukan kejahatan lagi!!!" Air mata Disha sudah lolos membasahi pipinya.


Alan mengepalkan tangannya. Ia tidak terima putrinya menasehatinya. Ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa Disha pergi dari sana tanpa diketahui siapapun. Disha meronta minta dilepaskan. Sehingga mau tidak mau anak buah Alan memakai obat bius untuk menenangkan Disha.


PROK PROK PROK


Suara tepukan tangan menggema di ruangan Alan. Seorang pria tampan masuk dan bertepuk tangan karena sikap tegas Alan pada putrinya.


"Akhirnya kau memutuskan untuk melenyapkan putrimu sendiri?" ucap pria berkacamata hitam itu.


"Aku tidak akan segegabah itu membunuhnya, Prince. Aku harus memanfaatkan dia untuk membalaskan dendamku..." sahut Alan dengan tangan terkepal.


.


.


#bersambung...

__ADS_1


*nah lho! musuh2 mulai bermunculan😨😨😨


__ADS_2