RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 017


__ADS_3

...Halo readers kesayangan mamak๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹ Rakhania is back! Dont forget to leave Like ๐Ÿ‘ and comments ๐Ÿ˜˜...


...*happy reading*...


Khay berjalan menemui Rakha yang sudah menunggunya di depan apartemennya. Sesuai dengan anjuran Ray, hari ini Khay memakai celana panjang untuk pergi ke kantor. Kalau-kalau pria yang kemarin kembali datang dan ia harus kembali mengejarnya.


"Selamat pagi..." sapa Khay.


"Pagi, sayang..." Rakha menatap Khay dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Haduh, apa yang dia lakukan? Kenapa melihatku dengan tatapan begitu?


"Aku tidak pernah melihatmu memakai celana panjang, sayang. Tapi ini... sangat berbeda. Kau tetap terlihat sempurna."


"Eh?" Khay berusaha menetralkan hatinya.


Hampir saja. Untung dia tidak curiga.


"Ayo!" Rakha membukakan pintu mobil untuk Khay.


"Terima kasih."


Tanpa disadari oleh Rakha, Khay melihat sekeliling tempat tinggalnya, dan sepertinya tak melihat orang yang mencurigakan yang mengawasi apartemennya.


Tidak ada! Mungkin orang itu menarik mundur anak buahnya untuk mengawasiku. Atau jangan-jangan... dia tahu jika aku bukanlah kakakku?


"Sayang... Kenapa melamun?"


"Heh? Ah, tidak. Aku tidak melamun. Aku sedang menatap jalanan di depanku, hehe."


Rakha mengangkat tangannya dan membelai pipi Khay. "Kau selalu manis..."


DEG


"Ah, hahahah." Khay tertawa renyah. Khay harus kembali menetralkan hatinya.


Pria ini benar-benar membuat jantungku hampir lepas dari tempatnya.


.


.


.


.


Dua puluh menit kemudian, Rakha dan Khay tiba di kantor. Beberapa karyawan berbisik-bisik saat Khay berjalan melewati mereka.


"Itu kan... perempuan yang kemarin. Siapa dia sebenarnya?" bisik karyawan wanita kepada temannya.


"Iya, entahlah siapa dia. Sepertinya pak bos perhatian sekali dengannya." jawab karyawan wanita yang lain.


"Pak bos belum berpisah kan dengan Disha Thariq? Jangan-jangan dia calon pelakor? Atau sudah jadi pelakor?"


Telinga Khay terasa gatal mendengar suara-suara ghaib yang masuk ke telinganya. Itulah kenapa Khay tidak suka bekerja kantoran seperti ini. Para wanita suka sekali bergosip ketimbang mengurungi pekerjaan mereka.


"Jangan di dengarkan!" ucap Rakha ketika mereka berdua sudah berada didalam lift.

__ADS_1


"Eh?"


Jadi, Rakha juga mendengarnya.


"Hu'um, tidak apa kok." Khay masih mengulas senyumnya.


"Karena memang tidak ada yang tahu hubungan kita selama ini. Mereka hanya melihat yang nampak di depan mata mereka."


"Tapi... Sebaiknya besok aku berangkat sendiri saja. Aku tidak mau mereka makin bergosip tentang kita."


"Tidak, itu tidak perlu."


"Kumohon mengertilah! Bukankah tidak baik jika citramu dan citra perusahaan tercoreng hanya karena aku..." ucap Khay sambil menunduk.


Rakha mengangkat dagu Khay. "Jangan bicara begitu. Bertahanlah sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan semua ini..."


TING. Pintu lift terbuka dan menampakkan pemandangan romantis di depan Dika.


"Bos!"


Khay terkejut dengan suara Dika dan segera menjauh dari Rakha.


"Astaga! Kau ini! Bisa tidak jangan berteriak seperti itu!" sungut Rakha.


"Kalau begitu saya permisi dulu..." Khay berpamitan melewati Rakha dan Dika.


"Bos, ini dikantor. Jangan membuat kehebohan lagi. Apa bos tidak tahu seluruh karyawan menatap kalian dengan penuh tanda tanya tadi?"


"Biarkan saja! Apa peduli mereka?"


"Apa bos tidak peduli pada perasaan Disha?"


"Bos harus ingat dia adalah tunangan bos. Semua orang tahu itu. Bos harus menjaga nama baik perusahaan. Itu yang harus bos ingat!" Dika pun meninggalkan Rakha yang masih diam mematung.


Secara sengaja Khay mendengar semua pembicaraan Dika dan Rakha barusan.


Disha? Ya, Disha Thariq adalah tunangan Rakha. Aku harus bisa bertemu dengannya. Tapi bagaimana caranya?


.


.


.


Siang itu, Khay sedang menyusun jadwal Rakha untuk beberapa hari ke depan. Khay menggeleng pelan melihat jadwal Rakha yang amat padat.


"Benar, dia adalah pekerja keras. Mungkin karena itu kakak menyukainya. Bukan hanya karena wajah tampannya saja." gumam Khay.


"Oke! Sudah selesai. Aku akan meminta tanda tangan Rakha dulu."


Khay menuju ke ruangan Rakha. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok tok tok!


"Masuk!"


"Permisi, Pak. Saya sudah membuat jadwal bapak untuk seminggu ke depan. Silahkan bapak lihat dulu, lalu tanda tangani."

__ADS_1


Rakha menerima map yang di berikan Khay. Ia membaca sekilas lalu menatap Khay.


"Kau cepat belajar ya!" ucap Rakha.


"Haha, begitulah, Pak." balas Khay dengan menggaruk tengkuknya.


"Kemarin kita tidak sempat makan siang bersama, bagaimana kalau hari ini kita makan siang bersama?"


"Eh? Saya tidak enak hati, Pak dengan karyawan yang lain. Sebaiknya bapak pergi dengan Pak Dika saja. Saya akan makan disini bersama Rani."


"Ayolah, jangan menolak!"


"Tapi..."


Penolakan Khay membuat Rakha beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri Khay.


Rakha memegangi kedua bahu Khay.


"Apa kau takut orang-orang menganggapmu menggodaku?"


"Hmm, sejujurnya iya." jawab Khay tertunduk.


"Bukankah sudah kubilang untuk jangan khawatir? Kita pasti bisa menghadapi semua ini."


"Menghadapi apa, Rakha?"


Suara seorang wanita menginterupsi keduanya. Rakha menoleh ke arah sumber suara, begitupun Khay.


"Disha?" gumam Rakha.


"Aku tidak tahu jika kau memiliki sekretaris. Apa dia baru disini?" tanya Disha.


"Iya. Aku merasa aku membutuhkan seorang sekretaris untuk membantuku." jawab Rakha.


Duh, atmosfer disini mulai terasa menyesakkan. Sebaiknya aku pergi dari sini.


Khay memutuskan untuk pergi dari ruangan Rakha dengan lebih dulu berpamitan dengan sopan pada Rakha dan juga Disha yang sudah duduk di sofa ruangan itu.


Ketika langkahnya sudah hampir keluar dari ruangan Rakha, lagi-lagi sebuah suara menghentikannya.


"Tunggu!"


Khay berbalik. "Maaf, nona, ada apa?"


"Apa kau yang bernama Khania?" tanya Disha dengan melirik ke arah Khay dan Rakha. "Benarkah Rakha? Jadi dia adalah Khania?"


Khay hanya menatap bingung ke arah Disha dan juga Rakha bergantian.


.


.


#bersambung...


"Jika hati bisa memilih, aku tidak akan memilihmu.


Karena itu hanya membawa luka..."

__ADS_1


30.06.21


__ADS_2