RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 051


__ADS_3

*Flashback*


"Ada apa?" tanya James penasaran setelah Ken kembali menghampirinya usai menerima panggilan di ponselnya.


"Tidak, Paman. Hanya saja... Semua akan menjadi semakin menarik setelah ini. Aku harus menyiapkan semuanya dengan baik. Kuharap Paman bisa mendukungku kali ini. Kita harus berhasil!" jawab Ken dengan senyum penuh keyakinan.


"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Ken?"


"Paman... Tolong hubungi Ibu Liana dan bilang padanya agar membujuk Khay untuk tinggal di rumahnya." jelas Ken.


"Eh? Apa kau tidak salah, nak? Apa gadis itu mau menerima tawaran Liana?" James mengernyitkan dahinya.


"Paman tahu sendiri Ibu Liana sangat ahli dalam hal merayu. Aku yakin dia pasti bisa."


"Sebenarnya apa rencanamu, nak? Kenapa kau makin melibatkan gadis itu? Bagaimana kalau dia celaka lagi?"


"Justru itu. Bersama Ibu Liana, Khay akan lebih aman."


"Hmm, ya sudah. Akan kulakukan." James meraih ponselnya dan menghubungi nomor ponsel Liana.


Ken tersenyum menyeringai karena rencananya kali ini pasti akan berhasil.


.


.


Ken menarik lengan Ray dengan kuat dan membawanya pergi dari depan kamar Khay. Ia tidak bisa membiarkan Ray mengacaukan rencananya.


"Lepaskan!!!" teriak Ray dengan menepis tangan Ken. "Kenapa kau menghalangiku untuk masuk ke kamar Khay? Apa kau tidak dengar tadi? Bibi Liana meminta Khay menikah dengan Rakha!" sungut Ray.


"Lantas kenapa? Mereka berdua adalah sepasang kekasih. Tidak aneh jika mereka menikah, bukan?" balas Ken santai.

__ADS_1


"Apa kau sudah tidak waras? Khay bukanlah Khania! Bagaimana bisa dia menikahi Rakha? Bisa-bisa penyamaran Khay terbongkar."


"Bukankah sejak awal kalian sudah memahami resikonya saat memutuskan melakukan ini? Kau sendiri sudah tahu jika sejak awal apa yang kalian lakukan ini akan membawanya pada Jonas dan juga organisasi hitam. Dan kau!" tunjuk Ken pada Ray.


"Kau tidak pernah mengatakan apapun pada Khay tentang hal ini meskipun kau sudah tahu apa yang akan kalian hadapi. Jika sejak awal Khay tahu kakaknya berhubungan dengan organisasi hitam, apa dia akan mengambil keputusan ini?"


Ray mengusap wajahnya kasar. Yang dikatakan Ken memang benar. Ray tidak pernah bercerita pada Khay jika Khania adalah bagian dari organisasi hitam. Dia membiarkan Khay melakukan semuanya hingga sejauh ini. Bahkan kini Khay malah seperti membuka hatinya untuk Rakha.


"Apa ini semua adalah rencana kalian?" tanya Ray menatap tajam Ken.


"Yah, tidak bisa dibilang begitu juga. Tapi itu memang benar. Sebaiknya kalian mengikuti rencana kami jika kalian ingin menangkap Jonas. Kita bisa bekerja sama." tawar Ken.


"Cih, sejak kapan ISS meminta bantuan pihak lain untuk menyelesaikan masalah mereka?"


"Sejak kita dipertemukan di tempat Paman James. Dari situ aku menarik kesimpulan jika sudah saatnya kita saling bekerja sama."


Ray memalingkan wajahnya. Ia menatap pintu kamar ruang rawat Khay. Bayangan jika Khay menikahi Rakha memenuhi otaknya. Sungguh ia tidak rela harus kehilangan Khay dengan cara seperti ini. Ray memutuskan untuk melangkah pergi dari hadapan Ken dan keluar dari rumah sakit.


Sementara itu di kamar Khay, Liana menatap penuh harap pada Khay. Khay melepaskan genggaman tangan Liana.


"Bagaimana bisa Ibu mengatakan ini padaku? Sedangkan ibu tahu jika aku bukanlah Kak Khania. Aku bukan wanita yang dicintai Rakha. Aku tahu aku salah karena sudah menipunya, tapi... Jika harus melakukan sandiwara pernikahan, kurasa aku tidak akan sanggup." jawab Khay dengan hati-hati.


"Iya, nak. Ibu tahu. Sebaiknya kau pikirkan dulu semuanya dengan baik. Maaf sudah membuatmu merasa tidak nyaman."


"Terima kasih karena ibu mau mengerti." balas Khay dengan tersenyum.


"Nak, ada hal yang ingin ibu ceritakan padamu..."


"Tentang apa?"


"Sebenarnya... Aku bukanlah ibu kandung Rakha..."

__ADS_1


"Heh?! Apa?" Khay nampak tercengang.


"Bukankah seharusnya kau menyadarinya sejak awal?" tanya Liana dengan tertawa kecil.


"I-iya sih. Aku sempat ragu jika Ibu adalah ibu kandung Rakha. Karena ibu masih terlihat amat muda untuk memiliki seorang anak seusia Rakha. Ditambah lagi, aku tidak tahu apakah seorang agen ISS boleh menikah atau tidak. Tapi... Karena kedekatan kalian, aku jadi benar-benar berpikir jika kalian adalah ibu dan anak." jawab Khay dengan menggaruk tengkuknya.


"Tentu saja kami boleh menikah. Buktinya aku memang menikah dengan ayah Rakha."


Khay mengangguk paham.


"Aku bertemu dengan ayah Rakha 11 tahun lalu karena harus menyelamatkannya sebagai target dari organisasi hitam. Meskipun akhirnya aku dan James gagal, karena Ardi tetap tidak bisa diselamatkan. Mobilnya meledak dan masuk kedalam jurang. Semuanya terlihat seperti kecelakaan biasa dimata publik. Tapi sebenarnya, tersembunyi rahasia besar di balik kematian Ardi." Raut wajah Liana berubah sedih.


"Aku berjanji pada Ardi akan menjaga anak-anaknya hingga akhir hayatku. Aku amat menyayangi mereka meskipun mereka tidak lahir dari rahimku." lanjut Liana.


"Maaf, bu. Kalau boleh aku tahu... Sebenarnya apa yang menyebabkan Pak Ardi sampai dilenyapkan? Sampai sekarang aku sendiri bahkan tidak bisa menemukan alasan kenapa kakakku ingin melenyapkan Rakha. Jika hanya sebagai tugas dari organisasi, apa sebenarnya tujuan organisasi melakukan ini semua?"


Liana membelai puncak kepala Khay. "Suatu saat kau akan mengetahuinya, nak. Saat ini, kau harus memulihkan kondisimu dulu. Ini sudah malam, sebaiknya kau istirahat. Kemana kedua pengawalmu itu?"


"Eh? Mereka bilang tadi ingin mencari makan malam."


"Ya sudah. Istirahatlah! Besok Rakha akan menjemputmu."


Khay mengangguk kemudian merebahkan tubuhnya. Liana pun keluar dari kamar rawat Khay.


.


.


#Bersambung...


*Apakah Khay bersedia tinggal di rumah Rakha? Apa rencana Ken sebenarnya?

__ADS_1


__ADS_2