
Khay mempersiapkan dirinya untuk menunggu seseorang yang di duganya akan melintas di jalanan ini. Jika perhitungannya tepat, ia akan bertemu Rakha hari ini juga.
"Khay... Kau yakin dia akan melewati jalanan ini?" tanya Ray.
"Tentu saja. Kita 'kan sudah menyelidikinya sejak kemarin. Dia masih ada di kota ini. Entah apa yang sebenarnya dia rencanakan kenapa dia membangun cabang perusahaannya di kota ini."
"Hmm, benar juga. Kau mencium sesuatu? Apa mungkin dia... Ingin mencari Khania?" tebak Ray.
"Hush, tidak mungkin. Tapi entahlah. Makanya aku harus melakukan ini sekarang."
"Tapi, Khay, kau terlihat belum siap. Kau harus benar-benar bisa bersikap seperti Khania. Cara bicaramu juga harus kau ubah. Khania gadis yang lemah lembut. Sangat berbeda denganmu."
PLETAK!!!
Satu pukulan mendarat di kepala Ray. Ray pun mengusap kepalanya yang terkena pukulan Khay.
.
.
.
*Flashback*
Setelah menggeledah kamar Khania, Khay dan Ray kembali ke Kota D untuk menyusun rencana. Dari awal Khay memang berencana untuk menyamar menjadi saudara kembarnya.
Namun Ray selalu meyakinkan agar mematangkan lebih dulu rencana itu. Jika Khay tidak memiliki persiapan yang bagus, bisa-bisa penyamarannya terbongkar. Dan yang harus di waspadai adalah, apakah Rakha tahu jika Khania memiliki kembaran? Akan lebih mudah jika ia tak tahu, tapi bagaimana jika ia sudah tahu?
Khay mengacak rambutnya. Ia merasa apa yang dibicarakan sahabatnya itu ada benarnya juga.
Khay mulai membaca buku harian milik Khania. Sebuah hal yang tidak pernah dilakukan oleh Khay. Ia tak suka bersikap drama dengan menulis buku harian.
Khay membaca lembar demi lembar cerita kakaknya mulai dari awal tinggal di Kota M hingga pertemuannya dengan Rakha.
__ADS_1
Khania tidak tahu jika Rakha adalah pangeran dari Yayasan Anak Bangsa. Hingga hubungan mereka makin dalam, barulah Rakha bercerita tentang keluarganya.
Dalam buku hariannya, terlihat jelas jika Khania sangat mencintai Rakha dan begitu juga sebaliknya. Sungguh pasangan yang romantis.
Khay merasa jika tidak mungkin Rakha tega membunuh Khania, orang yang dicintainya. Perasaan tak tenang itu mulai menggelayuti Khay.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mengawasi gerak gerik semua orang di rumah Rakha hingga keseharian mereka bertemu dan bergaul dengan siapa saja.
Semua aktifitas di keluarga itu berjalan seperti biasa. Bahkan mereka tidak merasa jika ada satu gadis yang pernah mereka kenal menghilang begitu saja tanpa sebab.
Khay sudah membaca di buku harian Khania, jika Rakha sudah mengenalkan Khania di depan semua orang di rumahnya. Itu berarti keluarga Rakha sudah pernah bertemu dengan Khania.
Khay makin matang menyusun rencananya. Ia bertekad akan menyamar sebagai kakaknya.
.
.
.
Ray yang mengawasi memberikan kode jika mobil Rakha akan segera melewatinya.
Khay berjalan dengan anggunnya menyusuri jalanan itu. Rambut panjang sepinggangnya ia biarkan tergerai tersapu angin. Dan gaun panjang lengan pendek yang ia kenakan juga semakin mempercamtik penampilannya.
Rakha menyapukan pandangannya ke berbagai arah di jalanan itu. Ia berharap bisa bertemu dengan gadis yang dicarinya selama setahun ini. Hingga akhirnya...
"Hentikan, mobilnya!" teriak Rakha pada Andika. Seketika Dika menginjak rem dengan keras.
"Ada apa, bos? Kau membuatku kaget saja!"
Tanpa menjawab Rakha keluar dari mobil dan mencari sosok yang dilihatnya. Ia berjalan menyusuri tiap sudut jalan mencari sosok yang dilihatnya tadi.
Aku tidak mungkin salah. Itu adalah Khania. Tapi kemana perginya?
__ADS_1
Rakha mengedarkan pandangan dengan teliti agar tak ada yang terlewat.
"Bos! Apa yang bos cari?" tanya Dika menghampiri Rakha.
"Khania, Dik. Aku melihat Khania tadi."
"Hah?! Yang benar, bos? Bagaimana bisa ada disini?"
"Apa kau lupa? Khania berasal dari kota ini. Aku yakin dia ada disini."
"Baiklah, bos. Tapi lihat sudah jam berapa ini? Kita harus segera ke kantor."
Rakha seakan ingin menolak. Tapi dia juga punya tanggung jawab pada perusahaan barunya.
Baiklah, Khania. Lain kali aku pasti akan menemukanmu. Aku sudah sedekat ini denganmu. Aku tidak akan melepaskanmu lagi.
Sementara itu, Khay memandang Rakha yang kembali ke mobilnya dan pergi dari tempat itu.
"Bagaimana?" tanya Ray.
"Sepertinya dia memakan umpan kita. Kita akan lanjutkan rencana berikutnya."
Entah kenapa Ray merasa hatinya berat jika melihat sahabatnya ini menyamar menjadi Khania. Ada ketakutan tersendiri dalam diri Ray jika nantinya Rakha dan Khay mulai dekat.
Ya ampun! Apa sih yang kamu pikirkan, Ray? Khay adalah sahabatmu. Dan akan tetap begitu. Khay tidak punya rasa apapun terhadapmu. Jadi, jangan berlebihan.
Ray kembali mengikuti langkah Khay yang tak ada anggun-anggunnya meski ia memakai gaun panjang.
#bersambung...
Yang mampir jangan lupa tinggalkan jejak yaa👣👣
Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1