
Rein telah tiba di Kota M karena mendapat panggilan dari Dika yang mengabarkan jika Disha telah di temukan. Sebelum berangkat Rein sempat memastikan lagi penyelidikan Andre terhadap Disha, namun memang masih belum menemukan titik terang.
Dan ternyata secara tak terduga, Disha telah ditemukan. Itu menjadi kesempatan yang bagus bagi Rein untuk mengulik semua kecurigaannya selama ini.
Rein tiba di apartemen Dika setelah sebelumnya ia juga menghubungi Liana agar pergi bersama dengannya menemui Disha. Dika menyambut ramah kedatangan Liana dan Rein.
"Selamat datang, Paman Rein, Bibi Liana." sapa Dika.
"Terima kasih, Dika. Bagaimana kondisi Disha?" tanya Liana penuh antusias.
"Saat kutemukan kondisinya baik-baik saja. Sepertinya ia disekap di salah satu vila milik Om Alan."
"Eh?" Liana dan Rein saling pandang
"Maksudmu ayahnya sendiri yang menyekap Disha?" tanya Liana yang tak percaya dengan pernyataan Dika.
"Kurasa begitu, Bi. Tapi aku sendiri masih belum mendapat jawaban. Disha belum membuka matanya sejak kemarin tertidur."
"Kau sudah memanggil dokter, nak?" kini giliran Rein yang bertanya.
"Sudah, Paman. Dokter bilang kondisinya stabil. Mungkin dia hanya kelelahan saja di tambah beban batinnya yang seakan cukup berat."
"Ya sudah. Kami akan menjaga Disha disini. Kau bisa berangkat bekerja." ucap Liana.
"Terima kasih, Bi. Dengan begini, aku tenang meninggalkan Disha sendiri."
"Tolong bantu Rakha ya. Dia sedang dalam masa sulit sekarang." pinta Liana dengan memegang bahu Dika.
"Aku akan berusaha semampuku untuk membantunya, Bi."
"Terima kasih." balas Liana diiringi senyum.
Sepeninggal Dika, Liana melihat kondisi Disha. Gadis itu masih terpejam dengan tenang.
"Malang sekali nasibmu, nak. Pasti selama ini kau tidak bisa tidur dengan nyenyak. Apa mungkin apa yang dikatakan Dika itu benar? Tapi rasanya aku tak percaya mengingat Alan sangat menyayangimu dan selalu memanjakanmu." gumam Liana.
Rein menghampiri Liana dan memberi kode jika ada yang harus mereka bicarakan. Liana mengikuti langkah Rein yang ternyata menuju dapur.
"Ada apa Rein?"
"Liana, sebelumnya aku minta maaf. Tapi... Apa kau sudah mendapat kabar dari Ken?"
"Ken? Kabar apa?" Liana tidak mengerti dengan maksud Rein.
"Jadi Ken belum membicarakannya denganmu?"
Liana mengedikkan bahunya.
__ADS_1
"Kalau begitu biar Ken saja yang menjelaskannya."
"Ada apa sebenarnya, Rein? Ken memang sekarang tinggal bersamaku, tapi dia belum bicara apapun denganku."
"Sudahlah. Kita tidak perlu membahasnya. Akan ada saatnya Ken yang menceritakannya sendiri padamu."
SREEEKKK
Terdengar suara langkah kaki pelan menghampiri mereka.
"Disha?" Liana membulatkan mata melihat Disha yang sudah terbangun.
"Ibu Liana?"
Liana segera menghampiri Disha kemudian memeluknya.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Liana dengan merangkum wajah Disha.
Disha menganggukkan kepala.
"Sebaiknya kau istirahat saja. Ibu akan menjagamu."
"Terima kasih, Bu. Siapa paman ini?"
"Ah, halo, nak. Aku Paman Rein. Aku adalah teman Ibu Liana." Ucap Rein memperkenalkan diri.
Disha tersenyum.
"Nak, ceritakanlah secara perlahan saja pada Ibu Liana. Meski ada kemungkinan kau disekap oleh ayahmu sendiri, tapi... tetap saja itu melanggar hukum. Kami bisa saja memenjarakan ayahmu itu."
"Eh?" Disha nampak terkejut dengan penjabaran Rein.
"Paman permisi dulu. Kau harus banyak istirahat agar kondisimu kembali pulih."
"Terima kasih, Paman."
Kini tinggalah Liana dan Disha di apartemen Dika.
"Sayang, kau belum makan, bukan?"
Disha mengangguk. Terakhir yang ia ingat adalah saat anak buah ayahnya membawakan makanan namun ia malah memukul kepala orang itu dengan vas bunga.
"Makanlah! Ibu membawakan makanan dari rumah." Liana menyiapkan makanan kedalam piring dan di serahkan pada Disha.
Disha menyantapnya dengan lahap.
"Kau beruntung memiliki teman seperti Dika. Dia adalah pria yang baik. Mungkin kau tidak bisa bersama dengan Rakha, tapi... menurut Ibu Dika juga tidak buruk."
__ADS_1
"Uhuuuk uhuuukk." Disha tersedak.
Liana malah tersenyum sambil menyerahkan segelas air putih untuk Disha.
"Ibu! Kenapa bicara begitu?"
Disha tampak malu-malu kucing.
"Ibu selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, Nak." Liana membelai rambut sebahu Disha.
"Terima kasih, Bu. Oh ya, dimana Khania? Bisa tolong ibu hubungi dia? Aku ingin bertemu dengannya."
"Eh? Kau bahkan masih mengingat Khania?"
"Sebenarnya aku masih merasa bersalah padanya, Bu. Karena aku yang berniat menakut-nakutinya, dia justru jadi korban penculikan. Apa Khania bersedia memaafkanku?" lirih Disha menatap Liana.
"Tentu saja. Khania pasti memaafkanmu. Ibu akan menghubunginya. Tapi, Disha..."
"Ada apa, bu?"
"Kau perlu tahu mengenai hal ini, nak. Rakha dan Khania sudah menikah."
Disha hanya membalas dengan senyuman.
"Mereka adalah pasangan yang serasi, bu. Aku ikut bahagia dengan pernikahan mereka."
"Terima kasih, Nak." Liana merangkum wajah Disha yang terlihat pucat itu.
.
.
Di sebuah rumah sakit, Ken sedang mondar mandir tak karuan di depan kamar perawatan VIP. Sejak dini hari tadi ia datang ke rumah sakit, namun belum bisa menemui pasien yang sadar dari komanya itu.
Setelah dinyatakan sadar dari koma, pasien itu di pindahkan ke kamar perawatan VIP sesuai dengan permintaan walinya namun tetap diawasi penuh oleh dokter. Kondisi yang belum stabil pasca koma selama satu tahun, membuat dokter melarang siapapun untuk menemuinya lebih dulu termasuk Ken, walinya.
Namun ternyata di luar dugaan, si pasien justru ingin bertemu dengan walinya. Pasien ingin bertanya banyak hal pada walinya itu.
Dengan senang hati Ken masuk kedalam kamar rawat VIP itu dengan terlebih dahulu mengetuk pintunya. Ken melihat sesosok wanita yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong ke langit-langit kamar.
"Khania..." suara Ken seakan tercekat.
Meski lirih, nyatanya suara Ken mampu membuat si pemilik nama menoleh kearahnya.
.
.
__ADS_1
#bersambung...