
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Rakha tiba di mansionnya dengan senyum merekah di bibirnya. Ia
bertemu dengan Liana yang masih terjaga. Liana sengaja menunggu Rakha pulang ke
rumah. Liana sudah bisa menduga jika Rakha pasti pergi dengan Khania alias
Khay. Liana sudah tahu soal identitas Khayla.
“Ibu? Ibu belum tidur?”
“Hu’um. Ibu sengaja menunggumu. Dari mana saja kamu seharian
ini? Tidak biasanya kau pergi selama ini dihari libur. Kau biasa menghabiskan
waktu bersama keluargamu. Kenapa kini kau berubah, Rakha? Apa karena wanita
itu?”
“Ibu… jangan membenci Khania. Aku sangat mencintai dia, bu…”
“Lalu bagaimana dengan Disha? Kau sudah bertunangan
dengannya, Nak.”
“Bu… Besok aku akan menemui Om Alan dan mengatakan semuanya.
Aku mohon ibu mendukungku.” Rakha menggenggam tangan Liana.
“Anakku…”
Rakha mencium kening ibunya lalu masuk ke dalam kamarnya.
“Tidak, Nak. Kau tidak
boleh terjerumus ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Ibu menyayangimu,
Nak. Gadis itu bukanlah Khania. Cepat atau lambat gadis itu pasti akan
meninggalkanmu saat semuanya sudah terbongkar…” lirih Liana sambil menatap
punggung Rakha hingga sudah tak terlihat lagi.
.
.
.
.
Setelah mendapat informasi mengenai Imoogi, Khay mulai
menelusuri setiap informasi dengan laptopnya. Tak lupa ia juga menghubungi
Andre untuk mencari informasi lebih banyak tentang Imoogi. Rekaman kamera pengawas
__ADS_1
satu tahun lalu akhirnya berhasil diretas oleh Andre. Khay meneliti hasil
rekaman itu.
Khay melihat Khania keluar dari apartemen di malam itu. Malam
dimana akhirnya ia menghilang. Khania terlihat didatangi oleh beberapa orang
yang berpakaian serba hitam. Khay membulatkan mata dan memperbesar rekaman
tersebut. Tidak ada paksaan saat Khania diminta untuk masuk kedalam mobil.
“Itu tidak terlihat seperti penculikan… Kenapa kakak menurut
saja pada orang-orang itu?” gumam Khay.
Hingga pagi menjelang, Khay masih berkutat didepan
laptopnya. Ia harus bisa menemukan titik terang dari masalah ini. Ia terus
mengamati rekaman video itu. Ia meneliti satu persatu orang yang menemui
kakaknya di malam itu.
“Tidak! Orang-orang itu tidak memiliki tato seperti Kak
Khania. Benar! Mereka tidak memiliki tato Imoogi.” Gumam Khay.
Khay menghela nafasnya. Tubuhnya sudah sangat lelah namun
pikirannya ingin terus bekerja memecahkan semua teka-teki ini. Hingga akhirnya
tubuh Khay tumbang dan tak sadarkan diri.
mengetuk pintu kamar Khay berkali-kali. Namun tidak ada jawaban dari Khay. Ray
terus menggedor pintu kamar Khay. Masih tidak ada jawaban.
Ray merasakan ada yang tidak beres. Ia pun memutuskan untuk
memanggil pengelola apartemen untuk meminta kunci cadangan kamar Khay. Benar saja,
Ray mendapati tubuh Khay tergeletak di samping sofa.
“Khay!! Apa yang terjadi denganmu?” Ray mengguncang tubuh
Khay dan menepuk pipi Khay pelan.
Ray membopong tubuh Khay menuju tempat tidur. Ray memeriksa
denyut nadi Khay.
“Normal. Sepertinya dia hanya kelelahan.” ucap Ray.
Tak lama Rein dan Andre juga datang ke apartemen Khay. Ray cukup
terkejut dengan kedatangan ayahnya secara tiba-tiba.
“Ayah? Andre? Kalian datang?” Tanya Ray berusaha tetap
tenang.
__ADS_1
Rein mengangguk. “Iya. Sepertinya ayah datang di saat yang
tepat.” Rein memeriksa laptop milik Khay begitu juga Andre.
“Dia sudah menemukan titik terangnya, Ray.” Ucap Rein.
“Apa?!” Ray membulatkan mata tidak percaya. Ray mendekati
Andre yang sedang mengutak atik laptop Khay.
“Kau selalu bersamanya tapi kau tidak tahu apa-apa. Apa kau
masih memikirkan gadis itu?” Tanya Rein menatap tajam kearah Ray.
“Maaf, Ayah. Kemarin setelah kami mendatangi Tuan Arthur,
Khay malah pergi dengan Rakha. Kekasih Khania. Mereka pergi hingga malam. Dan aku
tidak tahu mereka pergi kemana.” Jawab Ray dengan menunduk.
“Ya sudah. Sekarang sudah saatnya Khay tahu yang sebenarnya.
Kau bisa menjelaskan semuanya?”
“Ayah… Kenapa bukan ayah saja yang menjelaskan semuanya?”
Ray balik bertanya.
Disaat semua sedang berdiskusi, tiba-tiba Khay terbangun dan
membuat semua orang terkejut.
“Haaahh, haaaahhh,” Khay mengatur nafasnya.
“Khay! Kau sudah sadar?” Ray mendekati Khay di tempat tidur.
“Paman Rein? Andre? Kalian ada disini?” Tanya Khay.
“Iya, Nak. Kau sudah menemukan apa yang kau cari?” Tanya Rein.
“Sudah, paman. Tapi… Masih ada satu lagi yang harus
kutemukan. Kalian tolong bantu aku untuk mencarinya.” Ucap Khay.
Semua orang saling bertukar pandang. Dengan cepat Khay
menjelaskan situasi yang terjadi.
“Alasan kenapa apartemen ini masih dibayarkan oleh orang
tidak dikenal adalah…” Khay menatap Ray, Rein dan Andre secara bergantian.
“Karena di kamar ini menyimpan satu petunjuk penting yang
disimpan oleh Kak Khania…” lanjut Khay dengan menunjukkan wajah penuh
keyakinan.
#bersambung….
"Benar,
__ADS_1
tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang bisa menyimpan rahasia...."