RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 099


__ADS_3

Khay tiba di apartemennya dengan langkah gontai. Entah keberapa kalinya Khay merasa dunianya runtuh karena Khania. Fakta demi fakta yang terungkap tentang Khania telah membawa Khay ke dalam dunia yang tidak pernah Khay bayangkan.


Ray melihat ada sorot kesedihan di wajah Khay. Ray ingin sekali bertanya tapi rasanya tidak mungkin. Ingin mengabaikan tapi Khay tepat ada di depannya.


"Khay..." sapa Ray ketika Khay telah tiba di depan kamarnya.


Khay hanya tersenyum. "Maaf, Ray."


"Maaf? Untuk apa?"


"Untuk semuanya." Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Khay masuk ke dalam kamarnya.


Ray mengernyit heran. "Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu dengannya dan Khania?"


Raypun memutuskan masuk kedalam kamarnya. Ia tidak mau ikut campur urusan Khay dan Khania.


.


.


.


Keesokan harinya, Ken seperti biasa menemani Khania di rumah sakit. Khania merasa ada yang aneh dengan diri Ken. Saat ditanya, Ken hanya menjawab tidak ada apa-apa.


Apa karena pembicaraanku dengan Khayla kemarin? Jangan-jangan Ken mendengar saat aku meminta Khay untuk memanggil Rakha kemari.


"Ken..." ucap Khania dengan mengusap lengan Ken.


"Hmm."


"Apa kau keberatan jika aku menemui Rakha?"


Ken menghentikan aktifitasnya yang sedang mengupas buah apel.


"Apa aku punya hak untuk melarangmu?" tanya Ken dengan tatapan tajam kearah Khania.


Tanpa persiapan apapun, Khania menarik tubuh Ken agar lebih dekat dengannya. Ken terduduk di tepi brankar.


"Khania..."


Dengan cepat Khania mencium bibir Ken. Menyesapnya pelan dan menuntut untuk dibalas. Tentu saja Ken tak melepaskan Khania begitu saja. Ken menarik tengkuk Khania makin dekat agar ciuman mereka semakin dalam.


Lama mereka beradu bibir hingga nafas mereka tersengal. Ken menatap Khania yang sudah berani menyerangnya lebih dulu.


"Aku percaya padamu, Khania."


Khania tersenyum. "Terima kasih. Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang belum selesai antara aku dan Rakha."


"Iya, aku mengerti." sahut Ken.


Ken kembali mengecup bibir Khania sekilas. Secercah senyum terbit di wajah Ken. Kini ia tak khawatir lagi tentang hubungan Khania dan Rakha.


.


.


Sore harinya, Khay menemui Rakha di kantornya. Rakha cukup terkejut melihat kedatangan Khay. Namun hatinya juga bahagia karena bisa bertemu lagi dengan Khay.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu." Khay membuka percakapan.


"Soal apa?"


"Kakakku."


Rakha terlihat menyiapkan batinnya saat mendengar nama Khania.


"Kakakku sudah sadar dari komanya."


"Syukurlah." Rakha menjawab dengan datar.


"Dia ingin bertemu denganmu."


"Eh?! Apa?!"


"Kumohon ikutlah denganku ke rumah sakit." pinta Khay.


Rakha terlihat menghela nafasnya.


"Baiklah. Aku akan ikut denganmu."


Khay ingin tersenyum mendengar jawaban Rakha. Namun entah hatinya enggan.


Setelah mengantar Rakha ke rumah sakit, Khay kembali ke apartemen. Hatinya sesak membayangkan apa yang akan terjadi dengan kakak dan suaminya.


Suami? Benarkah mereka masih dalam ikatan pernikahan?


Rakha berjalan perlahan menuju sebuah kamar yang adalah milik Khania. Ken mempersilahkan Rakha masuk.


Begitu pintu terbuka, Rakha melihat seorang wanita sedang tersenyum kearahnya. Senyuman yang tak dilihatnya selama satu tahun ini.


Benar! Itu adalah senyuman hangat milik Khania. Akhirnya aku menemukanmu...


Rakha mendorong kursi roda Khania keluar dari kamar. Mereka menuju ke sebuah taman di area rumah sakit.


Mereka duduk berdua dan bercerita tentang banyak hal. Hingga hari mulai gelap dan Rakha mendorong kursi roda Khania menuju kembali ke kamar.


"Terima kasih karena bersedia menemuiku, Rakha. Aku tahu selama ini aku banyak membohongimu."


"Sudahlah, Khania. Lupakan hal yang telah lalu. Kau harus segera sembuh dan menebus semua kesalahanmu."

__ADS_1


Khania tersenyum.


"Sudah tidak ada lagi aku disana, Rakha."


"Eh? Apa maksudmu?"


"Hatimu sudah menjadi milik Khayla. Apa aku salah?"


Rakha terlihat ragu untuk menjawab.


"Kau mencintainya, Rakha. Kau mencintainya bukan karena dia adalah kembaranku. Tapi karena hatimu menyebutkan namanya. Sekarang pergilah. Kejarlah kebahagiaanmu bersama Khayla. Aku merestui kalian berdua."


Senyum mengembang terlukis di wajah Rakha. Ia segera berpamitan pada Khania dan mengucapkan terima kasih.


.


.


.


Di apartemen, Khay sedang termenung di tempat favoritnya yaitu rooftop. Kesendirian kini menjadi kawannya. Tak akan ada lagi harapan untuk menggapai cinta. Ia sudah tidak memikirkan itu lagi.


"Haaaahhh!!!" Hembusan nafas Khay terasa berat.


"Semua akan kembali seperti semula esok hari..." gumamnya.


"Khay..."


"Hah?!"


Sebuah suara membuat Khay tidak ingin membalikkan badannya. Ia takut jika semua ini hanyalah mimpi.


Tapi mimpi itu sirna ketika dua buah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Ini bukanlah mimpi.


Khay melepas tangan itu dan berbalik badan.


"Rakha?" Raut kebingungan tergambar jelas di wajah Khay.


"Iya, ini aku."


"Kenapa kau ada disini?"


"Karena disinilah tempatku berlabuh."


"Apa maksudmu?"


"Kini aku tahu apa yang aku inginkan."


"Eh?"


"Aku menginginkanmu, Khayla."


"Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mencintaimu, Khayla Anjani."


Khay menggeleng pelan. "Tidak!"


"Itulah kenyataannya."


Khay mencoba mencari kebenaran di mata Rakha. Tidak ada kebohongan disana. Rakha berkata jujur.


Khay langsung memeluk Rakha. Kebahagiaannya tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata. Rakha menatap wanita yang ada didepannya dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Khay.


Khay membalas setiap gerakan yang dilakukan oleh Rakha. Mereka saling menyesap rasa dan cinta. Gairah mereka sudah mulai memuncak.


Rakha menarik tangan Khay dan membawanya kembali ke kamar. Rakha mengatur nafasnya sebelum memulai bergerilya diatas tubuh Khay.


Rakha kembali meraih bibir manis itu dan menyesapnya pelan. Turun ke leher hingga meninggalkan jejak disana.


Khay hanya bisa pasrah menerima semua sentuhan Rakha. Ia amat merindukan semua hal yang Rakha lakukan padanya. Hingga semua itu terjadi begitu saja. Khay kembali menyerahkan dirinya kepada Rakha.


Mereka tergolek lemas ketika penyatuan mereka telah berakhir. Rakha tak henti mengabsen setiap inci wajah Khay.


"Aku mencintaimu, Khayla..."


"Hmm..."


Khay tidak menjawab karena tubuhnya terasa lelah setelah pertempuran mereka. Hatinya yang tadi bergemuruh kini telah berbunga-bunga seakan naik ke puncak nirwana.


.


.


.


Pagi itu, seperti biasa Khania mendapat kunjungan dari seorang dokter yang diikuti seorang perawat. Perawat itu menyapa Khania ramah, namun tidak dengan si dokter.


Awalnya Khania merasa aneh, karena tak biasanya dokter yang memeriksanya memakai masker di wajahnya. Tapi karena ini di rumah sakit, tentu tidak heran banyak dokter dan perawat menggunakan masker.


Dokter itu memerintahkan si perawat untuk menyuntikkan obat melalui selang infus Khania.


"Suster, ini obat apa? Bukankah biasanya aku tidak mendapat obat suntik?"


Tanpa menjawab, perawat itu langsung menyuntikkan obat kedalam selang infus. Khania merasakan sedikit nyeri pada tubuhnya.


"Dokter, apa yang kau berikan padaku?" Tanya Khania di sela-sela kesakitannya.


Dokter itu segera menyuruh perawat untuk keluar. Kini tinggalah Khania bersama dokter yang berperawakan tambun itu.


Dokter itu melepas maskernya. Dan Khania terkejut melihat siapa sosok dibalik masker itu.

__ADS_1


"Doc? Tidak! Apa yang kau lakukan pada tubuhku?"


Kesadaran Khania hampir hilang. Doc mencengkeram erat dagu Khania.


"Dengar, Jasmine. Karena Irish sudah tertangkap oleh ISS, maka kami membutuhkanmu untuk menggantikannya." ucap Doc yang terdengar mengintimidasi.


"Tidak! Aku tidak mau!" tolak Khania dengan sisa-sisa kesadarannya.


"Kau tidak akan bisa menolak, Jasmine. Setelah obatnya bereaksi, kau akan menuruti semua perintah kami."


"Tidak! Aku tetap tidak akan melakukannya!"


Doc mencekik leher Khania hingga membuatnya hampir kehabisan nafas.


"Sekali kau masuk ke organisasi, kau tidak akan bisa keluar, Jasmine. Ingat itu! Tunggu saja waktunya! Aku akan datang lagi."


Doc melepaskan tangannya dari leher Khania lalu keluar dari kamar itu. Khania mengatur nafasnya. Ia sedikit terbatuk-batuk karena cekikan tangan Doc tadi.


Obatnya mulai bereaksi dan tubuh Khania mulai tak bisa ia kontrol. Otaknya mulai tak bekerja dengan baik. Seakan-akan ia mengingat semua yang dikatakan Doc barusan. Dan setelahnya Khania tak sadarkan diri.


Ken kembali ke kamar Khania setelah membeli beberapa makanan untuknya dan juga Khania. Khania bilang ia mulai bosan dengan makanan rumah sakit. Maka dari itu. Ken banyak membelikan makanan kesukaan Khania.


"Khania!"


Ken melihat Khania tertidur dengan posisi yang tak beraturan. Ken membetulkan posisi tidur Khania dan menyelimutinya.


"Kau pasti mengantuk ya! Tidurlah!" Ken mencium kening Khania.


Tanpa ada kecurigaan sedikitpun, Ken menyantap makanan yang baru saja ia beli.


Sore harinya, seorang perawat datang dan akan memberi obat suntik kepada Khania. Sejak terbangun siang tadi, Khania menunjukkan gelagat aneh. Ia hanya diam dan termenung di atas tempat tidur.


Perawat itu mendekati Khania dan akan menyuntikkan obat pada Khania. Namun secara tak terduga Khania berteriak dan berontak. Ia menepis tangan perawat yang akan memberinya obat.


Ken sendiri bingung kenapa Khania bisa berperilaku aneh seperti itu. Ken memegangi Khania yang terus meronta dan berteriak. Hingga akhirnya karena bantuan dari beberapa perawat lain, Khania berhasil di tenangkan dan obat itu berhasil disuntikkan kedalam tubuhnya.


Khania terkulai lemah dan tak sadarkan diri kembali. Ken bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Khania. Pihak rumah sakit hanya memberi alasan kemungkinan Khania mengalami depresi karena tekanan batin.


Setelah agak tenang dan bisa dikondisikan, pihak rumah sakit meminta agar Ken membawa Khania ke tempat yang sejuk dan masih alami untuk mengurangi depresinya. Ken meminta tolong pada James untuk mencarikan sebuah rumah atau villa yang bisa ia tempati bersama Khania ketika nanti keluar dari rumah sakit.


Pagi itu, Khania kembali membuka mata dan memperhatikan sekelilingnya. Ia masih di rumah sakit. Pandangan matanya kosong. Seakan ada seseorang yang bisa mengendalikan alam bawah sadarnya.


Seseorang masuk kedalam kamar Khania. Khania menatap orang itu.


"Doc?" Khania mengenali orang itu.


"Halo, Jasmine. Atau kau lebih suka dipanggil dengan nama aslimu. Khania?"


"Untuk apa kau datang kemari? Apa kau mendapat pesan dari Jonas?"


Sekilas Khania nampak sebagai orang yang normal dan tidak terpengaruh obat.


"Dengar, Khania. Selama ini kau gagal menjalankan misi. Jadi kali ini, Prince tidak ingin mendengar kata kegagalan lagi dari mulutmu."


Khania nampak memperhatikan setiap kata-kata yang diucapkan Doc.


"Kali ini misimu berganti."


Doc menyerahkan sebuah kotak pada Khania. "Bukalah!"


Sebuah senjata api dan juga telepon genggam.


"Untuk apa ini?" tanya Khania.


Doc tidak menjawab. Namun tiba-tiba ponsel di kotak itu berdering.


"Angkatlah!" titah Doc.


Khania mengangkat panggilan yang ternyata dari Jonas.


"Halo, sayang. bagaimana kabarmu?"


"Ada apa? Kenapa kau mengirim Doc untuk menemuiku?" nada bicara Khania terdengar dingin. Tidak seperti Khania yang biasanya.


"Aku punya satu tugas untukmu."


"Apa itu?"


"Lenyapkan seseorang untukku."


"Hah?!"


"Tidak perlu terkejut begitu. Kau tahu jika hari ini akhirnya tiba. Sekarang lakukan tugasmu dengan baik."


"Baiklah. Siapa yang harus kulenyapkan?"


"Anggota ISS, Kenzo Pratama."


"Hah?! A-apa? Ken...zo?"


...***...


#bersambung...


Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak 😊😊


Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


__ADS_2