RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 020


__ADS_3

.Halo readers kesayangan mamak๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹ Rakhania is back! Dont forget to leave Like ๐Ÿ‘ and comments ๐Ÿ˜˜...


...*happy reading*...


Setelah mendengar cerita dari Khay, Ray memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia tertegun mendengar persepsi Khay mengenai Khania.


Gadis itu memang penuh misteri. Bagaimana bisa kini permasalahan Khania justru menyeret masuk Khay kedalamnya. Aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin memberitahu Khay yang sebenarnya. Khay tidak akan percaya padaku. Dia akan lebih percaya pada kakaknya.


Ray mengacak rambutnya frustasi. "Arrrgghhhh! Aku harus bagaimana?"


Sementara itu, Khay masih terdiam memeluk lututnya duduk di tempat tidur. Ia memikirkan tentang keputusannya yang sudah menyamar menjadi Khania. Ia merasa semua ini mulai salah. Tapi membiarkan kematian kakaknya diselimuti misteri, ia juga tak bisa tinggal diam begitu saja.


Ketika hatinya di penuhi berbagai hal yang penuh misteri, ponselnya berdering dan itu panggilan dari Rakha.


"Halo..." sapa Khay.


"Halo, sayang. Kau belum tidur?"


"Belum. Kau sendiri? Bukankah kau lelah seharian ada diluar kantor."


"Iya, aku amat lelah. Tapi lelahku seakan hilang ketika mendengar suaramu..."


*merona*


Hanya mendengar rayuan dari Rakha lewat telepon, sudah membuat Khay melupakan masalahnya dan merasa berbunga-bunga dengan sikap Rakha.


"Sayang... Kau masih disana?"


"Iya. Aku masih disini."


"Besok aku akan menjemputmu. Aku merasa sangat merindukanmu."


"Hmm, baiklah. Sekarang sebaiknya kau tidur."


"Baiklah, sayang. Selamat malam. Aku mencintaimu, Khania..."


Tut. Panggilan berakhir.

__ADS_1


"Maafkan aku, Rakha. Aku merasa sangat bersalah padamu karena sudah mempermainkan hatimu. Entah apa kau bisa memaafkanku atau tidak saat semua ini berakhir..." gumam Khay dengan memandangi ponselnya. Karena tubuhnya juga sangat lelah, Khay pun memejamkan matanya dan menuju alam mimpi.


.


.


.


Keesokan harinya, Ray seakan enggan menampakkan wajahnya di depan Khay setelah kejadian semalam. Padahal Khay tidak tahu apapun tapi Ray merasa bersalah padanya karena menyembunyikan sesuatu darinya.


"Iya, ayah. Baik. Ayah jangan khawatir. Aku akan menjaga Khay dengan baik." Ray menyudahi panggilannnya bersama ayahnya. Ia merasa harus menceritakan hal ini pada Rein.


Ray mengintip dari jendela kamarnya dan melihat Khay sedang bersama Rakha di depan apartemen mereka. Ray melihat sekeliling dan tak melihat ada yang memata-matai tempat tinggal mereka lagi.


Tindakan Khay yang ceroboh nyatanya mampu membuat musuh-musuh mereka mundur untuk sementara waktu. Ray yakin mereka pasti akan datang lagi dan menyerang Khay.


.


.


Khay mengetuk pintu ruangan Rakha. Namun tak ada jawaban darinya. Khay memutuskan untuk masuk tanpa ijin dari Rakha.


"Pak! Permisi! Saya masuk ya!"


Khay tak melihat Rakha ada disana. "Kemana dia?" gumam Khay.


Matanya menelusuri tiap sudut ruangan Rakha yang memang luas. Dan netranya kemudian tertuju pada satu pintu yang ia tak tahu keberadaan pintu itu diruang Rakha.


"Sejak kapan ada pintu disana?"


Karena penasaran Khay pun berjalan menuju pintu itu yang menuju ke sebuah ruangan seperti ruang rahasia.


Jangan-jangan Rakha ada didalam.


"Pak... Apa bapak didalam?" panggil Khay.


Khay celingukan di depan pintu yang memang benar adalah ruang rahasia kemudian,

__ADS_1


"Kyaaa!!!" Khay berteriak kala sebuah tangan menariknya masuk kedalam ruangan itu dan membuat pintu itu tertutup secara otomatis.


"Rakha! Kau membuatku kaget!" Pekik Khay dengen mengelus dadanya.


Rakha malah tertawa geli melihat kekagetan Khay.


"Maaf sayang, aku membuatmu kaget ya."


"Ruangan apa ini?" tanya Khay dengan melihat sekeliling kamar.


"Ini adalah ruang rahasiaku..." bisik Rakha tepat di telinga Khay.


Tanpa Khay sadari Rakha sudah memeluknya dari belakang. Seketika tubuh Khay mematung. Lagi-lagi sentuhan Rakha membuatnya meremang.


"Aku merindukanmu, Khania..." Rakha menciumi tengkuk Khay hingga ke pipinya.


"Rakha, hentikan! Kita di kantor!" Khay melepaskan pelukan Rakha.


"Kantor? Ini ruang pribadiku, Khania. Tak ada yang tahu kecuali..."


Dan benar saja Dika mencari keberadaan Rakha namun tak ia temukan. Begitu juga dengan Khania alias Khay.


Dika menggeleng pelan karena ia tahu pasti Rakha ada di ruang rahasianya. Dika tahu apa yang sedang Rakha lakukan dengan Khay.


"Rakha!!! Tetap saja! Kita harus keluar dari sini, ini masih jam kerja." Khay menuju ke pintu namun tangannya kembali di tarik oleh Rakha. Ingin rasanya Khay menunjukkan kekuatannya tapi tak mungkin.


"Sebentar saja! Aku ingin bersamamu sebentar saja." Rakha kembali meraih tubuh Khay dan memeluknya.


Setelah beberapa saat, Rakha melepas pelukannya lalu menuju ke kening Khay. Ia mencium kening Khay lama.


Khay memejamkan mata kala merasakan bibir Rakha yang menyentuh keningnya. Bahkan matanya masih terpejam ketika Rakha sudah melepas ciuman di keningnya.


Melihat Khay yang masih terpejam, Rakha dengan pelan menempelkan bibirnya ke bibir Khay yang akhirnya membuat Khay membuka mata.


TIDAK!!! Ciuman pertamaku!!!


#bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2