RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 013


__ADS_3

...Halo readers kesayangan mamak๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹ Rakhania is back! Dont forget to leave Like ๐Ÿ‘ and comments ๐Ÿ˜˜...


...*happy reading*...


-Kota M-


Rakha kembali ke mansion mewahnya dan langsung di sambut oleh ibu dan kedua adiknya. Adik bungsu Rakha, Ghaniya, langsung menggamit lengan kiri kakaknya dan bermanja-manja dengannya.


"Hei, gadis manja, kau jangan membuat Kak Rakha merasa tidak nyaman. Dia pasti lelah setelah perjalanan jauh. Biarkan dia istrirahat dulu." ucap Richie, adik pertama Rakha.


"Tidak apa, Rich. Aku malah senang dia ternyata merindukanku." balas Rakha.


"Sudah, sudah. Niya, biarkan kakakmu istirahat dulu. Bahkan kau tidak mengijinkan ibu untuk memeluk kakakmu, huh!" Liana menjewer telinga Niya agar tidak menempel pada Rakha.


"Ibu, jangan menjewernya. Aku juga merindukan ibu..." Rakha beralih pada ibunya lalu memeluknya.


"Baiklah, nak. Kau pasti lelah. Istirahatlah dulu. Nanti malam, kau ada acara makan malam bersama Disha. Dia pasti merindukanmu." ucap Liana sambil mengusap wajah putranya.


"Iya, bu. Kalau begitu, aku masuk ke kamar dulu."


Liana mengangguk. Rakha segera menuju kamarnya. Ia merebahkan diri di atas ranjang nyaman miliknya.


"Sepertinya aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk bicara dengan Disha. Makin cepat makin baik. Aku tidak bisa berjauhan dengan Khania lebih lama lagi." gumam Rakha.


.


.


.


Malam harinya, Disha sudah menunggu Rakha di sebuah rooftop resto mewah langganannya. Disha tersenyum manis kala melihat Rakha datang.


"Akhirnya kau datang..." Disha langsung memeluk Rakha dan mencium pipinya sekilas.


"Tidak bertemu denganmu selama satu minggu, rasanya seperti satu bulan aku tak melihatmu..." ucap Disha dengan suara manjanya.


"Kau ini, ada-ada saja."


"Ayo, duduk. Aku memesankan makanan kesukaanmu."


"Terima kasih."


Mereka berdua makan dalam diam dan sesekali Rakha melirik ke arah Disha. Ia harus mampu mengatakan apa yang ingin ia katakan. Sudah tak bisa di tunda lagi.


"Ummm, Disha..."


"Iya, ada apa? Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Disha, sebelumnya aku minta maaf karena harus mengatakan ini, tapi... Aku tidak bisa menahannya lagi."


Disha menghentikan makannya dan menyesap wine yang sudah tersedia di depannya.


"Disha, aku... Aku tidak bisa melanjutkan pertunangan kita. Aku..."


"Aku tahu. Aku tahu kau akan mengatakan ini. Rakha, aku juga tahu jika kau tidak mencintaiku. Kau mencintai wanita lain bernama Khania, benar kan?"


"Hah?!"


"Dan asal kau tahu, aku juga tidak mencintaimu. Aku menerima pertunangan ini hanya karena ayahku dan juga ibumu."


"Disha..."

__ADS_1


"Tapi bagaimanapun juga, kita tidak bisa membatalkan pertunangan ini. Perusahaan ayahku dan juga perusahaanmu akan menjadi sorotan jika sampai pernikahan kita gagal."


"Disha..."


"Dengar Rakha, apapun yang terjadi, aku tidak akan membatalkan pertunangan kita. Kau boleh saja masih berhubungan dengan Khania. Tapi, jangan pernah berpikir untuk membatalkan pertunangan kita. Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku permisi."


Disha meninggalkan Rakha yang masih mematung tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Rakha menegak habis air putih di gelasnya. Ia mengusap wajahnya kasar.


"Ternyata meyakinkan Disha tak semudah yang kubayangkan." gumam Rakha lalu beralih mengambil gelas wine dan meneguknya habis.


Sementara itu, Disha kembali ke mobilnya dan menangis di atas kemudi mobil. Entah kenapa ia merasa hatinya sangat sesak saat mendengar Rakha ingin membatalkan pertunangan mereka.


Tok tok


Seseorang mengetuk kaca mobil Disha.


"Dika?" Disha mengernyitkan dahi.


"Keluarlah, aku akan menyetir untukmu..."


Disha segera keluar dan berbalik duduk di kursi penumpang.


"Dika, apa yang kau lakukan disini?" tanya Disha sambil menyeka air matanya.


"Aku sudah tahu apa yang terjadi denganmu dan Rakha."


Disha menundukkan kepalanya.


"Kau ingin pergi kemana? Aku akan mengantarmu..."


"Dika... Terima kasih."


"Jangan memaksakan diri untuk tersenyum jika sebenarnya hatimu sakit."


"Baiklah, nona muda. Aku akan menghiburmu. Kita akan pergi kesuatu tempat."


Disha mengangguk.


.


.


.


.


Hari ini Khay kembali menjadi dirinya sendiri dan kembali memakai kaus dan celana jeans andalannya. Ray nampak tak suka melihat penampilan Khay yang kembali cuek seperti semula.


"Aku lebih suka Khay yang baru. Apa kau tidak bisa tetap menjadi Khania?"


"Hei, tuan. Aku bukan Khania. Jadi, jangan memintaku untuk terus menjadi dia." sungut Khay.


"Iya, baiklah. Terserah kau saja. Oh ya, Lusi, apa mengenai kasus pembunuhan beberapa waktu lalu, polisi sudah menemukan pelakunya?" tanya Ray.


"Yang kudengar sih belum. Sebentar, akan kutelepon seseorang di kepolisian."


Belum sempat Lusi menelepon, ponsel Ray lebih dulu berdering. Sebuah panggilan dari ayahnya.


Ray memberitahu jika pelaku pembunuhan sudah diketahui, dan polisi sedang mengejarnya. Ray dan Khay diminta untuk ikut membantu mengejar pelaku yang sedang melarikan diri.


Khay sangat bersemangat untuk melumpuhkan penjahat itu. Mereka segera melaju menuju tempat yang diduga sebagai tempat persembunyian pelaku.

__ADS_1


Khay berlari sekuat tenaga saat pelaku itu juga berlari menghindari mereka.


"Hei!!! Berhenti!!!" teriak Khay mengejar pria itu.


Khay tahu jika pelaku itu membawa senjata tajam, maka dari itu ia harus sangat berhati-hati. Namun bukan pemegang sabuk hitam namanya jika tak melakukan hal nekat.


Khay nekat berkelahi dengan orang itu dan membuatnya sedikit terkena sabetan senjata tajam yang pria itu bawa. Beruntung Ray segera melumpuhkan orang itu dan menyerahkannya pada pihak berwajib.


Ray segera membawa Khay ke rumah sakit terdekat. Luka sayatan hanya mengenai tangan Khay, dan untungnya tidak terlalu dalam.


Namun Khay tetap harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.


"Aku baik-baik saja, tidak perlu harus menginap di rumah sakit segala!" Ujar Khay dengan tetap tenang.


"Dengar, nona, kau bisa saja mengalami luka yang lebih dari ini. Sudahlah, ikuti saja apa kata dokter." Balas Ray tak mau kalah dari Khay.


"Dokter itu terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja."


"Sebaiknya kalian jangan menangani kasus dulu." suara berat pria paruh baya menginterupsi perdebatan Ray dan Khay. Itu adalah ayah Ray, Reinaldi.


"Paman Rein?" sapa Khay.


"Paman minta kau fokus saja pada kasusmu, Khay."


"Eh?"


"Bukankah kau harus menangkap pembunuh kakakmu. Jadi, fokus saja untuk menyelidiki itu. Apa masih belum menemukan titik terang?"


Khay menggeleng.


"Ya sudah, setelah ini, fokus pada tujuanmu. Dan soal kasus dikantor, serahkan pada Ray dan Andre."


"Andre? Sejak kapan dia jadi detektif, paman?" tanya Khay bingung.


"Andre adalah detektif berbakat yang pandai menyamar. Selama ini kalian tidak mengetahui itu."


Tiba-tiba ponsel Khay berbunyi. Itu adalah nomor Rakha. Khay mengangkat panggilan setelah saling pandang dengan Ray dan Rein.


"Halo..."


"Halo, sayang... Apa kabarmu?"


"A-aku baik."


"Maaf ya aku baru menghubungimu. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini."


"Tidak apa."


"Aku menghubungimu karena aku ingin memberitahukan sesuatu padamu."


"Soal apa?"


"Sayang, aku sudah dapatkan posisi yang bagus untukmu di perusahaan."


"Oh ya? Posisi apa?"


"Kau akan menjadi sekretarisku."


"Hah?! Apa?!"


"Persiapkan dirimu! Kau akan segera pindah kemari."

__ADS_1


"Apa?!"


#bersambung....


__ADS_2