RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 021


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave


Like and Comments. Thank You.


*Happy Reading*


“Pertama kali aku


bertemu dengannya adalah usai mengajar kelas anak-anak usia dini. Aku mengira


dia adalah salah satu wali murid yang akan menjemput anaknya. Namun ternyata


aku salah. Dia bilang dia ingin bertemu denganku dan berkenalan denganku.


Saat itu aku merasa,


aku tidak pantas berkenalan dengannya. Dia sangat tampan dan berkarisma. Aku tidak


memandang dari penampilannya saja. Tapi hatinya memang sangat baik dan ramah. Beberapa


bulan mengenalnya, aku mulai merasakan sesuatu yang lain di hatiku. Dia juga


berani mengungkapkan perasaannya padaku.


Apakah aku bermimpi? Aku


mendapatkan seorang pangeran berkuda putihku dalam dirinya. Seorang pria yang


mampu menyentuh hatiku. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Aku berharap


kami bisa bersama selamanya…


Rakhania, nama kami


disatukan dan membentuk sebuah kata yang indah. Aku tahu jika kau adalah


takdirku. Takdir membawaku ke kota ini agar bertemu denganmu. Aku yakin itu.”


Khay segera mendorong tubuh Rakha. Ia memegangi bibirnya


yang kini sudah tak suci lagi. Semua memori Khania tentang Rakha terlintas


dibenaknya. Memori yang tak pernah Khay tahu tapi saat membaca buku harian itu,


ia tahu jika kakaknya sangat mencintai Rakha.


“Sayang, kau kenapa?” Tanya Rakha karena melihat Khay


mematung.


Khay kembali ke alam sadarnya. “Maaf… Saya permisi, Pak!”


Khay segera membuka pintu ruang rahasia itu dan keluar dari ruangan Rakha. Ia menuju

__ADS_1


ke toilet wanita dan membasuh wajahnya.


“Ya Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah


mengkhianati Kak Khania… Maafkan aku, Kak… Maaf…” gumam Khay dalam hati.


Khay memandangi wajahnya di cermin. “Aku harus segera


menemukan semua teka teki ini. Aku tidak bisa melakukan ini lebih jauh lagi. Tidak!”


Khay keluar dari toilet dan berpapasan dengan Dika.


“Lho? Khania? Kau ada disini?”


“Iya, pak. Ada apa?”


“Apa Rakha ada di ruangannya?”


“Sepertinya ada, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.”


Khay tidak mau Dika bertanya macam-macam tentangnya dan


Rakha. Lebih baik ia selesaikan pekerjaannya lalu pulang ke apartemen.


.


.


.


.


.


saksi kunci semua masalah ini. Nomor kartu ponsel Khania. Khay baru saja pergi ke galeri


provider kartu milik Khania. Petugasnya bilang jika kartu itu sudah tidak


digunakan sejak setahun lalu. Khay ingin menggunakan kartu dengan nomor yang


sama lagi. Karena ia memegangi identitas Khania, tentu saja pihak provider sama


sekali tidak curiga pada Khay.


Benar, kakak tidak


bisa dihubungi setelah menghilang di hari perayaan yayasan anak bangsa. Mungkin


orang yang membunuhnya sudah mengambil ponsel milik kakak dan membuang


kartunya. Saat penggeledahan setelah kematian kakak pun, aku tidak menemukan


ponsel kakak dikamarnya. Aku memang tidak yakin, tapi ada kemungkinan jika orang-orang itu akan menghubungi nomor ponsel kakak lagi setelah tahu aku menyamar sebagai kakakku.

__ADS_1


Setelah pergi ke galeri provider, Khay kembali ke apartemen.


Khay mengamati keadaan sekeliling tempat tinggalnya.


Aneh! Apartemen kakak


tidak memiliki kamera pengawas di depan lobi atau dimanapun. Kenapa kakak


memilih tempat tinggal yang tidak aman seperti ini? Akan sangat sulit


mengetahui apa yang terjadi karena tak ada kamera pengawas disini.


Khay menuju sebuah toko kelontong dekat apartemen.


Ada satu kamera yang


menyorot kearah depan apartemen. Aku yakin akan menemukan sesuatu disini.


Khay bertanya kepada pemilik toko.


“Permisi Pak, apa sudah lama tempat ini memiliki kamera


pengawas?” Tanya Khay sopan.


“Iya, nona. Karena banyaknya kejahatan yang sering terjadi


di sekitar kita, saya jadi waspada dan berjaga-jaga. Jadi saya memasang CCTV di


took saya ini.” Jelas si pemilik toko.


Khay mengangguk paham.


Khay lalu menghubungi seseorang yang bisa membantunya


memecahkan misteri ini. “Halo, bisa kau retas kamera pengawas milik toko XXX


yang ada didekat apartemen Grafika di kota M.”


“Tentu saja bisa. Kau jangan meremehkan kemampuanku, Khay.”


“Baguslah.”


“Memang ada hal apa Khay?”


“Tidak. Aku hanya ingin tahu ada peristiwa apa setahun lalu


di depan apartemen Grafika.”


“Eh?!”


“Detailnya akan kukirimkan lewat pesan. Aku minta hasil


rekamannya secepatnya.”

__ADS_1


“Baik, Khay.”


#bersambung…


__ADS_2