RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 058


__ADS_3

Ray berusaha tetap fokus dengan pekerjaannya. Ia menatap layar datar di meja kerjanya dan memeriksa beberapa data yang diminta oleh ayahnya. Memorinya pagi tadi bersama Khay sedang berusaha ia tepiskan. Ia tak bisa mengatur kehidupan sahabatnya itu. Hubungan mereka tak lebih dari seorang teman. Dan Ray harus tahu diri soal itu.


Ray memutuskan untuk menghirup udara segar lebih dulu sebelum melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia menuju rooftop yang kini jadi tempat favoritnya ketika ingin menyendiri.


Namun ternyata ia tidak sendiri disana. Ada seseorang yang telah lebih dulu berada disana dan sedang bersantai sambil menghisap puntung rokoknya.


"Kau!!!" pekik Ray yang membuat orang itu menoleh ke arah Ray.


"Hai, bung! Kau kemari juga. Apa kau juga sedang suntuk?" sapa seorang pria yang tak lain adalah Ken.


"Apa yang kau lakukan disini?" Ray merasa moodnya makin buruk setelah melihat Ken.


"Aku tinggal disini sekarang. Aku menyewa kamar di sebelah kamarmu." jawab Ken santai. Pembawaan Ken memang selalu santai meski pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang santai.


"Apa?! Kau pasti kemari untuk mempengaruhi Khay. Benar 'kan?" cecar Ray pada Ken.


"Heh, bung! Kau jangan terlalu berlebihan. Aku pindah kemari karena aku memang tak punya tempat tinggal. Aku tidak bisa tinggal di tempat Paman James terus menerus."


Ray mendekati Ken dan menarik kerah baju Ken.


"Kau! Pasti kau yang sudah membujuk Khay agar mengikuti saran Bibi Liana. Benar 'kan? Kalian semua bersekongkol untuk memanfaatkan Khay." Teriak Ray di depan wajah Ken.


Ken masih santai dan tidak menepis tangan Ray yang menarik kerah bajunya. Ken hanya menatap tajam pada mata Ray.


"Sudah selesai?!" tanya Ken. "Apa kau sudah selesai dengan kekesalanmu?"


Ray tak punya pilihan lain selain melepaskan Ken. Ia mengusap wajahnya kasar.


Ken merapikan bajunya yang kusut akibat ulah Ray. Ia kembali menyalakan rokoknya dan menghisapnya santai.


"Hubungan persahabatan yang di bumbui dengan cinta, tidak selamanya akan berjalan dengan baik. Kau harus bisa menerima itu." ucap Ken.


Ray hanya terdiam.


"Kenapa tidak kau katakan saja perasaanmu padanya?" usul Ken.


"Kau sudah tidak waras?!"


Ken tertawa lalu menggeleng pelan. "Jika kau tidak bisa mengatakannya maka terima saja nasibmu." tutup Ken sambil menepuk pelan bahu Ray dan pergi dari rooftop.


.


.


Liana dan Rein sedang membahas pekerjaan bersama-sama. Perbincangan mereka terjeda karena ponsel Liana bergetar. Sebuah pesan dari Rakha.

__ADS_1


Liana tersenyum gembira usai membaca pesan dari Rakha.


"Ada apa, Liana? Apa ada kabar yang bahagia?" tanya Rein.


"Iya, Rakha bilang jika Khay setuju untuk pindah ke rumah kami."


"Eh? Benarkah?"


Liana mengangguk. "Tapi, aku khawatir dengan putramu. Bagaimana perasaannya jika tahu Khay akan pindah ke rumah kami?"


"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengajaknya kembali ke Kota D. Ada pekerjaan yang harus kami kerjakan disana. Akan lebih tenang jika aku meninggalkan Khay bersama denganmu." terang Rein.


"Hmm, begitu." Meski begitu Liana tetap merasa tak enak hati dengan Rein dan Ray.


Ponsel Liana kembali bergetar. Sebuah pesan lain datang dari Dika. Liana mengernyitkan dahinya.


"Dika?" gumam Liana.


"Ada apa?" tanya Rein.


"Dika ingin bertemu denganmu."


"Siapa dia?"


Rein tampak berpikir. "Baiklah. Mungkin saja ada sesuatu yang penting."


"Aku sudah menganggapnya seperti putraku juga. Jika dia memiliki masalah, kurasa aku harus membantunya."


"Sepertinya semua pria muda yang kau temui, kau anggap mereka sebagai putramu." canda Rein yang membuat tawa Liana pecah.


.


.


Pukul enam sore, Khay bersiap untuk pulang. Ia menunggu ojol yang sudah di pesannya di lobi. Saat sedang menunggu, sayup-sayup beberapa karyawati membicarakan tentangnya.


Ya, Khay bisa mengerti. Ia sekretaris baru di kantor itu, dan kemarin ia cuti selama beberapa hari, lalu kini ia berangkat ke kantor dengan santai seakan perusahaan itu adalah miliknya.


"Lihatlah dia! Dengan santainya kembali berangkat setelah cuti beberapa hari." ucap karyawati satu.


"Dia 'kan sekretaris bos. Pasti bos sangat menyayanginya hingga bisa ambil cuti sesuka hati." sahut karyawati dua.


"Huh! Dasar perempuan murahan! Dia pasti menjual tubuhnya untuk bisa dapat cuti lebih dari bos." timpal karyawati tiga.


Khay merasa tak bisa lagi menahan amarahnya. Gedung kantor sudah sepi karena sudah lewat dari jam pulang kantor. Khay menghampiri ketiga karyawati itu.

__ADS_1


"Apa yang tadi kalian katakan?! Coba ulangi?!" tanya Khay dengan tangan terkepal.


"Oh, jadi dia mendengarnya juga. Apa kau ingin mendengarnya lagi? Perempuan murahan!!!"


PLAAAKKK!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus karyawati itu.


"Kau!!!" Wanita itu meradang dan berniat membalas Khay.


Namun secepat kilat Khay menangkis tangan wanita itu dan memelintirnya ke belakang punggungnya.


"Lepaskan!!" wanita itu meronta.


"Apa ini yang disebut sebagai wanita kota yang katanya berpendidikan tinggi? Tapi sayang sekali tingkah kalian sangatlah rendahan seperti ini!" teriak Khay sambil menekan tubuh wanita itu ke dinding.


"Aww!! Sakit! Lepaskan!!"


"Aku akan melepaskanmu tapi kau harus menjaga mulutmu!"


"Iya, iya, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong lepaskan! Kumohon!" pinta wanita itu.


Khay melepaskan tangan wanita itu. Dan menepuk kedua tangan Khay seraya membersihkan tangannya. Khay berlalu begitu saja tanpa mempedulikan ketiga karyawati itu.


Tanpa di sadari, Dika yang kembali ke kantor karena perintah Rakha, melihat semua kejadian yang baru saja terjadi antara Khay dan ketiga karyawati.


"Apa itu tadi? Kenapa Khania bisa bersikap sekasar itu pada karyawati disini? Rasanya tidak seperti Khania yang kukenal..." gumam Dika tercengang.


.


.


#Bersambung...


Mamak ingin sedikit berbagi cerita,


Q: Thor, kenapa judulnya Rakhania? Tapi Isinya kok banyakan Khayla daripada Khania.


A: Hmm, karena Khayla menyamar jadi Khania 😬 dan juga seperti apa yg dikatakan Ray jika lebih cocok dengan penyatuan nama Rakha dan Khania. (gaje banget ya😅)


Q: Kenapa Rakha gak curiga sama Khay? Padahal kan Khania dan Khayla meski sama tapi pasti ada bedanya.


A: Akan ada saatnya Rakha curiga dengan Khay. Tunggu saja ya! Dan Khay kan selama ini belajar menjadi Khania, jadi lambat laun beberapa sifat Khania ada juga yg kebawa pada Khay. Jadi tidak begitu kentara saat Khay menyamar jadi Khania.


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣 👍👍👍kesayangan mamak...

__ADS_1


__ADS_2