
Rayshard menatap tajam kearah gadis dihadapannya yang sednag menyilangkan tangannya di depan dada. Ray bahkan tak habis pikir bagaimana bisa Khania melakukan hal yang menurutnya diluar nalar.
"Ada apa, Paman? Apa Paman tidak suka dengan kehadiranku disini? Aku tidak menyangka ternyata selama ini Paman tinggal di tempat mewah ini?"
Ray menggeleng pelan. "Aku harus menghubungi Disha. Dia pasti sangat mengkhawatirkanmu." Ray meraih ponselnya dan mencari kontak Disha.
"Ini bukan salahku! Ini adalah salah Paman!" Suara pekikan Khania membuat Ray kembali menatap gadis itu.
"Salahku? Bagaimana bisa ini adalah salahku?" tanya Ray tak percaya dengan ucapan Khania.
"Paman bilang akan menemaniku selama seminggu. Tapi nyatanya ... Paman bohong!"
Ray menghela napasnya. "Baiklah. Paman minta maaf."
"Tidak bisa! Masalah ini tidak akan selesai hanya dengan meminta maaf. Izinkan aku tinggal disini selama satu minggu!" tegas Khania.
"Apa katamu? Satu minggu?" Ray memijat pelipisnya.
"Benar! Sebagai ganti kebohongan Paman." Khania menatap Ray tajam.
"Baiklah. Hanya satu minggu! Tidak lebih!" jawab Ray mengalah.
"Oke!"
Tak lama sebuah panggilan masuk ke ponsel Ray. Seperti yang sudah bisa ia prediksi, Disha pasti menghubunginya.
"Bibimu menelepon," ucap Ray sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Angkat saja!" balas Khania santai.
Ray menggeser tombol hijau dan bicara dengan Disha. Selama percakapan berlangsung, Ray terus menatap Khania. Gadis itu hanya mengedikkan bahunya.
"Kau jangan cemas. Dia ada disini," ucap Ray dengan masih menatap Khania.
"Tenang saja! Aku akan mengirimnya kembali setelah satu minggu. Oke, baiklah. Sampai jumpa."
Ray mengakhiri panggilan bersama Disha. Ray terus menatap tajam Khania.
"Kau lihat sendiri kan? Semua orang mencemaskanmu dan kau malah bersikap santai."
"Jika saja Paman tidak mengingkari janji Paman, maka semua ini tidak akan terjadi."
Khania berlalu dari hadapan Ray dan masuk kedalam kamar.
#
#
#
Hari ini Khania ikut dengan Ray menuju kantornya. Apa boleh buat, Khania terus merengek dan membuat Ray jengah. Ray tidak ingin Khania berbuat nekat jika pria itu melarangnya.
"Apa kau tahu seperti bahaya yang ada di kota ini?" tanya Ray saat mereka berjalan menuju ruangan Ray.
"Aku tahu! Penjualan senjata api ilegal, obat-obatan terlarang dan kartel nark0ba. Aku sering melihatnya di film-film," jawab Khania enteng.
"Tapi ini bukan di film, Khania."
"Oke! Aku akan menuruti semua keinginan Paman."
Ray mengangguk dan tak ingin berdebat lagi dengan Khania. Ray memasuki ruangan kerjanya dan sudah ada ketiga anak buah Ray disana.
"Halo semua. Kenalkan, ini Khania!" ucap Ray memperkenalkan.
"Halo semua!" Khania memberi salam dengan manis.
Isabel melirik Ray lalu Khania menyiratkan sebuah makna. Isabel ingin membicarakan soal pekerjaan. Dan tentunya Khania tidak bisa sembarangan mendengarnya.
"Khania, tolong kau bermain di luar dulu. Ada yang harus Paman kerjakan disini," pinta Ray dengan suara lembutnya.
"Hmm, baiklah." Khania menjawab pasrah lalu keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Ketiga anak buah Ray tampak memperhatikan Khania. Namun hanya Isabel saja yang berani berkomentar.
"Ada apa ini, Sir? Kenapa dia bisa ada disini?" tanya Isabel.
"Apa kita akan membahas soal ini?" Ray bertanya balik dengan suara datarnya.
"Sorry, Sir. Begini, aku mendapat kabar jika Departemen Investigasi di ISS sudah membentuk tim khusus untuk mengidentifikasi pelaku kejahatan berdasarkan profil mereka. Aku tidak tahu pasti siapa saja anggota tim yang ada di dalamnya. Yang pasti mereka akan ditugaskan bersama kita."
Ray tampak terdiam. Lexi dan Bastian juga hanya saling pandang.
"Apa kau yakin mereka ingin membantu kita? Atau sebenarnya ada maksud terselubung di balik hal ini?" tanya Ray.
"Itu ... aku tidak tahu pasti. Kasus ini sudah berlangsung selama 8 tahun dan kita tidak menemukan apapun tentang profil si pelaku."
"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Ray menatap ketiga orang itu. "Aku sudah melakukan semua yang aku bisa. Bahkan aku pindah kemari karena yakin orang itu ada di kota ini."
"Berdasarkan informasi yang kudapat, tim khusus profil biasanya mengunjungi para tahanan yang memiliki kasus yang sama dengan yang ditangani penyidik. Mungkin kita bisa memakai cara mereka." sahut Bastian.
"Kita bisa mencari tahu siapa saja tahanan dengan kasus yang sama seperti yang sedang kita tangani. Perilaku profil yang bertindak seperti Robinhood," timpal Lexi.
"Menurut kalian cara ini bisa berhasil?" tanya Ray.
"Tim Khusus Profil menyarankan seperti itu, Sir. Dua tahun lagi kasus ini akan ditangguhkan dan kita akan ditarik dari misi ini jika kita masih belum berhasil menangkap pelakunya," ucap Isabel.
"Pekerjaan kita dipertaruhkan disini, Sir," lanjutnya.
Ray memejamkan matanya sejenak. Sudah delapan tahun Ray mengejar pelaku pembunuhan para tersangka kasus korupsi dan kasus publik lainnya, yang rata-rata adalah orang dengan jabatan bukan main-main.
Di luar ruangan, diam-diam ternyata Khania mendengarkan semua pembicaraan Ray dan ketiga muridnya. Khania mulai merasa sedih karena ternyata pekerjaan Ray begitu berat bahkan karirnya kini di ujung tanduk.
#
#
#
Malam harinya, Khania mengetuk pintu ruang kerja Ray. Gadis itu membuka pintu perlahan usai mengetuk.
"Tidak, masuklah!" Ray merapikan berkas yang ada di mejanya.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Ray kemudian sambil menatap Khania.
"Belum mengantuk saja. Paman sendiri kenapa masih bekerja? Bukankah seharian tadi Paman juga sudah bekerja?"
"Pekerjaan Paman bukanlah pekerjaan yang akan selesai dalam sekali waktu."
"Aku tahu. Mungkin Paman bisa meminta pendapatku jika bersedia."
Ray tertawa kecil.
"Paman jangan menertawakanku. Apa Paman lupa jika aku adalah mahasiswi hukum? Jika ada yang ingin Paman diskusikan, aku bersedia membantu."
"Mahasiswa baru semester pertama? Apa yang baru kau pelajari, Nak?" Ray menggeleng pelan.
Khania terlihat tidak suka dengan sikap Rayshard.
"Apa Paman akan terus menganggapku sebagai anak kecil? Apa menjadi dewasa itu membanggakan untuk kalian? Bahkan meski kalian orang-orang dewasa, tidak bisakah kalian mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh anak kecil ini? Bukankah sebuah pendapat tidak hanya di berikan oleh orang dewasa saja? Kenapa harus meremehkan anak kecil? Terkadang orang dewasa juga perlu mendengar apa yang ingin disampaikan oleh anak kecil."
Khania meninggalkan ruang kerja Ray usai mengatakan semua kalimat yang menohok untuk pria itu.
Ray mengusap wajahnya. "Maafkan aku, Khania. Aku tidak bermaksud begitu."
Ray memejamkan matanya. "Setiap hal tentangmu mengingatkanku kepada Khayla. Bagaimana bisa aku menjalani hidupku dengan baik jika kau selalu membayangiku, Khay. Apa yang harus aku lakukan?" lirih Ray dalam hatinya.
#
#
#
Pagi harinya, Ray sudah bersiap di meja makan untuk sarapan. Terlihat Khania juga berjalan menuju meja makan yang sudah ada Ray disana.
__ADS_1
"Selamat pagi, Khania."
"Selamat pagi, Paman."
"Apa tidurmu nyenyak?"
"Lumayan."
"Hari ini kau ingin melakukan apa?"
"Entahlah."
Ray menghela napasnya. Sepertinya Khania masih marah karena insiden semalam.
"Jika kau ingin berkeliling kota, maka aku akan mengizinkanmu."
Mata Khania mendadak melebar. Ia tak menyangka jika Ray akan mengatakan hal seperti itu.
"Apa aku akan pergi dengan Paman?" tanya Khania.
"Tidak. Aku akan minta Isabel untuk menemanimu."
Khania nampak kembali kesal. "Kalau begitu tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri."
Khania beranjak dari kursinya dan meninggalkan Ray.
"Khania! Kau mau kemana?" seru Ray.
Lagi-lagi Ray harus kalah dari Khania. Gadis itu memang punya berjuta cara untuk meluluhkan Ray.
Kini Khania sudah berada di kantor Ray setelah drama pagi ini.
"Isabel akan menemanimu berkeliling," tegas Ray.
"Apa?" Isabel nampak terkejut.
"Sir, apa maksudnya ini?" tanya Isabel.
"Ajak Khania berkeliling kota. Aku akan tenang jika kau bersama dengannya."
Isabel masih tidak mengerti dengan pemikiran Ray. "Sir, aku bukan baby sitter!" tegasnya.
"Dan asal kau tahu aku juga bukan anak kecil!" seru Khania tak mau kalah.
"Khania, tolonglah! Aku punya tanggung jawab untuk menjagamu. Dan aku harus menepati janjiku pada Disha. Kumohon jangan membantah!" Ray berucap dengan lembut agar Khania mau menurut.
Dan terbukti, Khania akhirnya pasrah. Lalu Isabel juga harus melakukan tugasnya yaitu menjaga Khania.
"Dasar merepotkan!" gerutu Isabel dalam hati.
#
#
#
Khania berkeliling kota dengan Isabel. Mereka berjalan kaki menikmati suasana kota.
"Tidak ada yang istimewa," gumam Khania yang masih bisa di dengar oleh Isabel.
"Kalau begitu kenapa kau tidak kembali saja? Kau hanya akan merepotkan tuan Ray saja," balas Isabel.
Khania memutar bola matanya malas. "Bukan urusanmu aku mau disini atau tidak."
"Kau hanya akan menjadi beban untuk tuan Ray."
Khania mendelik. "Apa katamu? Beban? Bahkan aku bisa membantu kalian kalau saja kalian bisa sedikit saja percaya padaku. Tapi nyatanya kalian selalu menganggapku sebagai anak kecil!" Khania marah. Ia mempercepat langkahnya dan meninggalkan Isabel.
"Hei, kau mau kemana?" Isabel ikut berjalan cepat. Namun ternyata Isabel kehilangan jejak Khania yang menghilang diantara kerumunan orang.
"Sial! Gadis itu merepotkan saja!" Isabel segera meraih ponselnya dan menghubungi Ray.
__ADS_1