RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 074


__ADS_3

"Khania..." suara Ken seakan tercekat.


Meski lirih, nyatanya suara Ken mampu membuat si pemilik nama menoleh kearahnya.


Sejenak dua pasang mata itu saling menatap dalam diam. Mata Ken terasa panas melihat Khania kembali membuka mata. Genangan air berkumpul di pelupuk mata Ken.


"Khania..." Ken semakin mendekat ke brankar yang ditempati Khania.


"Dai..." Lirih Khania.


Sedetik kemudian Khania memalingkan wajahnya.


"Terima kasih karena kau kembali..." ucap Ken yang akhirnya menitikkan air matanya.


"Jadi kau yang sudah menyelamatkanku?" tanya Khania tanpa memandang kearah Ken.


Ken menghapus air matanya dengan tangan. Ia tak mau terlihat lemah di depan Khania.


"Kenapa tidak kau biarkan saja aku mati? Akan lebih baik jika aku tidak ada di dunia ini..." ucap Khania masih tanpa menatap Ken.


"Khania, kenapa kau bicara begitu?"


"Pergilah!" usir Khania dengan suara lirih.


"Khania..."


"Pergi!" Kini suara itu mulai meninggi.


Dan membuat seorang perawat mendekati Ken dan memintanya untuk keluar.


"Sebaiknya anda keluar. Pasien masih butuh istirahat." ucap si perawat.


Ken pun menurut. Ia keluar dari kamar Khania dengan kecewa. Diluar kamar, James sudah menunggunya. Ken melangkahkan kakinya ke sebuah taman di rumah sakit itu. Ia duduk di bangku panjang di taman itu.


James menggerakkan kursi rodanya mengikuti Ken.


"Kau harus bersabar, Nak. Dia sudah koma selama setahun ini. Pasti sangat sulit untuknya menerima semua ini." James menepuk bahu Ken.


Ken mengusap wajahnya. "Dia ingin mati, Paman. Dia bilang dia lebih baik mati."


"Bersabarlah, Nak." James terus menenangkan Ken.


Ken mengangguk. Sedari tadi ia mengabaikan panggilan di ponselnya.


James menyadari jika ponsel Ken terus bergetar.


"Angkatlah, Nak. Siapa tahu itu adalah panggilan penting."


Ken mengambil ponselnya dari saku celana dan melihat siapa yang sudah menghubunginya.

__ADS_1


Dahi Ken berkerut. "Khayla?" gumam Ken lirih.


"Ada apa, nak? Siapa yang menghubungimu?"


"Khayla, Paman."


James nampak menghela nafasnya. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau akan memberitahunya jika kakaknya masih hidup?"


Ken menggeleng. "Belum saatnya Khayla tahu soal Khania."


Tak lama ponsel Ken kembali bergetar. Sebuah panggilan dari Liana. Ken segera mengangkatnya.


"Halo, Bibi..."


"............"


"Baik, Bi. Aku akan segera kesana."


Panggilan berakhir.


"Apa Liana yang menghubungimu?"


"Iya, Paman. Bibi Liana memintaku menemuinya di apartemen Dika."


"Siapa dia?"


"Asisten Rakha. Bibi bilang jika Disha sudah di temukan."


"Iya, Paman. Entah bagaimana caranya Disha bisa selamat. Sebelumnya aku sudah tidak yakin soal gadis itu karena firasatku mengatakan jika Jonas ada dibalik semua ini. Tapi sepertinya firasatku meleset. Paman, kalau begitu aku pergi dulu. Tolong jaga Khania. Aku tidak mau dia berbuat nekat."


"Kau tenang saja, Nak. Anak buahku sudah kukerahkan untuk menjaga rumah sakit ini. Kau pergilah."


"Terima kasih, Paman."


.


.


Ken tiba di apartemen Dika. Liana memintanya bertemu di rooftop apartemen. Usai menyantap makanan yang Liana bawa, dan meminum obat, Disha kembali tertidur.


"Bibi..." panggil Ken ketika tiba di rooftop.


"Kau sudah datang, nak."


"Jadi, Disha sudah ditemukan?" Ken memang bukan orang yang suka berbasa-basi.


"Iya, dia menghubungi Dika dan memintanya untuk menjemputnya di daerah vila milik ayahnya."


"Eh? Apa?"

__ADS_1


Ken nampak terkejut namun sedetik kemudian ia tersenyum seringai.


"Ada apa? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Liana.


"Aku sudah mengirimkan semuanya ke ponsel Bibi. Bukalah!" ucap Ken.


Liana segera membuka ponselnya dan membuka beberapa file yang dikirimkan Ken.


"Apa ini?" Liana menutup mulutnya.


"Iya, Bi. Selama ini Bibi sudah merawat putri dari musuh keluarga Wicaksana."


"Hah?! Tidak mungkin!" Liana menggeleng pelan.


"Tapi itulah kenyataannya."


Liana nampak berpikir. Ia mengingat ucapan Rein ketika tadi berada di dapur apartemen Dika.


"Jadi, inilah yang dimaksud Rein. Kau bahkan menceritakan semuanya pada Rein. Tapi kau tidak menceritakannya padaku. Apa ini Ken? Sejak kapan kita bekerja dengan cara seperti ini?" Ada nada kekecewaan dalam suara Liana.


"Bibi, untuk saat ini tidak penting kita bekerja dengan cara apa. Yang terpenting kita harus memecahkan kasus ini dan menangkap Jonas."


"Tapi ini berbahaya, Ken. Jika ada yang tahu tentang pekerjaan kita, maka... "


"Sudahlah, Bi. Bibi percaya padaku 'kan?"


Liana tak memiliki pilihan selain mengikuti rencana Ken.


"Lalu, pergi kemana kau sejak pagi tadi?"


"Eh?"


"Jangan membohongiku, Ken. Kau tidak bisa bertindak gegabah dengan melakukan semuanya menggunakan egomu."


"Bibi tenang saja. Yang terpenting sekarang, kita harus menyingkirkan putri palsumu itu. Menurut dugaanku dia ada hubungannya dengan komplotan hitam."


"Jadi, siapa putri kandung Ardi?"


"Kita akan mengetahuinya setelah ini. Apakah firasatku kali ini benar atau tidak. Mari kita temui dia, Bi."


Liana hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Segala kerumitan ini agaknya makin meruncing.


.


.


#bersambung dulu ya shay...


๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃ


thank you...


__ADS_2