RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 060


__ADS_3

"Disha menghilang, Bi." ucap Dika dengan bibir bergetar.


"Apa?!" Liana memekik tidak percaya.


"Nak, ceritakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rein dengan mengusap bahu Dika agar lebih tenang.


"Sebenarnya... Di hari Khania menghilang, Disha juga menghilang dan tidak bisa dihubungi. Kupikir Disha yang sudah menculik Khania karena dia sakit hati pada Rakha atas batalnya pertunangan mereka." jelas Dika.


Dika menjeda sejenak.


"Namun dimalam saat Khania ditemukan, aku mendapatkan sebuah pesan dari nomor tak dikenal ke ponselku. Isinya mengatakan jika aku harus menjemput Disha di sebuah kamar apartemen, yaitu kamar ini." lanjut Dika.


Liana dan Rein saling pandang.


"Saat aku kemari, Disha sedang tertidur. Dan keadaannya baik-baik saja. Tapi aku tidak menemukan Khania. Saat aku bertanya pada Disha, ia hanya menjawab tidak tahu. Aku membawanya ke apartemenku karena dia tidak mau kembali ke rumah ayahnya. Lalu... Esok harinya saat aku pulang bekerja, aku tidak menemukan Disha di apartemenku dan segera mencarinya kemari. Tapi hasilnya nihil. Pihak apartemen juga tidak mau memberitahuku siapa yang menyewa kamar ini hari itu."


Liana menghela nafas. "Maafkan Bibi karena tidak memikirkan tentang Disha." sesal Liana.


"Paman, tolong cari tahu dimana Disha. Ini nomor telepon yang mengirimiku pesan. Apa Paman bisa melacaknya?" ucap Dika menunjukkan ponselnya.


"Tentu saja, nak. Kau tenang saja, kami pasti akan menemukan Disha." balas Rein pasti.


"Apa dia tidak kembali ke rumah Alan?" tanya Liana.


"Tidak, Bibi. Aku sudah mengkonfirmasi dengan asisten di rumahnya. Disha tidak pulang kesana." jawab Dika.


.


.


Khay duduk di depan meja kerjanya sambil memandangi dua buku harian milik Khania. Sebelah kiri adalah yang pertama ia temukan, yang kanan adalah yang ditemukan dalam brankas rahasia. Yang kanan banyak menyimpan cerita tentang organisasi, sedang yang kiri adalah kisah Khania dengan Rakha yang menurut Khay adalah kisah palsu.


Khay tersenyum getir memandangi dua buku harian itu. Ia mulai mengambil buku yang kanan lalu mulai membukanya. Belum sempat membacanya, ingatan Khay kembali pada saat dirinya makan malam tadi bersama Ken.

__ADS_1


.


.


*Flashback*


Ken menawari Khay untuk makan malam terlebih dahulu sebelum kembali ke apartemen. Ken membelokkan mobilnya ke sebuah resto. Khay makan dengan lahap dan tidak mempedulikan Ken yang terus memperhatikannya.


"Pelan-pelan saja makannya, aku tidak akan mengambilnya." ucap Ken.


"Aku masih kesal dengan tingkah karyawati Rakha."


"Sudahlah. Jangan pedulikan mereka. Ada hal yang lebih penting."


"Apa itu?"


"Habiskan dulu makanmu! Aku akan jelaskan semuanya."


Sepuluh menit kemudian, meja telah dibersihkan oleh pelayan atas perintah dari Ken. Ken mengeluarkan satu berkas dan menyodorkannya pada Khay.


Khay membaca dengan seksama isi dalam berkas itu.


"Apa ini?" tanya Khay dengan menautkan alis.


"Aku tahu teoriku mungkin berlebihan. Tapi, aku sangat yakin dengan firasatku." papar Ken.


"Tapi ini terlalu gila, Ken. Mana mungkin jika Niya... Bukanlah putri kandung keluarga Wicaksana." Khay menggeleng pelan.


"Maka dari itu, kita harus membuktikannya."


"Apa?!?"


"Tidak, bukan aku, tapi kau. Kau yang harus membuktikannya. Dengan kau masuk kedalam keluarga itu, maka kau bisa mencari kebenarannya."

__ADS_1


Khay menatap tak percaya pada Ken.


"Coba bacalah buku harian kakakmu. Aku yakin ada suatu petunjuk disana."


Itulah percakapan terakhir Khay dengan Ken sebelum akhirnya mereka kembali ke apartemen dan masuk ke kamar masing-masing.


.


.


Khay mengusap wajahnya. Ia memberanikan diri membuka buku harian Khania. Dengan sedikit keraguan, Khay membaca isinya.


"Hari itu, hari dimana pertama kalinya aku mengenal tentang organisasi. Aku bersama anggota baru lainnya sedang menjalani masa transisi untuk menjadi anggota tetap. Mungkin terdengar aneh karena aku yang lemah ini akhirnya masuk ke organisasi mafia terkenal.


Aku bertemu dengan banyak orang. Salah satunya adalah... dia. Dia yang mengaku bernama Dai, Daisuke. Dia pria yang ramah dan kaku. Tapi dibalik wajah datarnya, aku tahu dia orang yang baik.


Maka aku berteman dengannya. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Hingga akhirnya, benih-benih cinta pun muncul. Aku tidak tahu apa yang ia lihat dari diriku. Bahkan dia tahu jika aku sudah menyerahkan tubuhku pada Jonas. Kenapa Dai masih saja mencintaiku? Aku merasa begitu berharga saat bersamanya..."


Khay berhenti membaca. "Jadi... Dai adalah Ken?" gumam Khay.


Kemudian ia melanjutkan mencari tulisan yang cocok dengan apa yang ia cari. Sebuah kebenaran tentang Ghaniya.


"Eh?! Apa?!" Khay memekik tidak percaya.


"Jadi kakak juga curiga pada Niya? Tapi ia bersikap seolah-olah tidak mengetahui apapun di keluarga itu."


"Kakak... Kenapa kau menyimpan semua ini sendirian?"


Khay memejamkan matanya. Ia tidak mengerti dengan keputusan Khania yang menutupi semua kenyataan.


"Baiklah, kak. Kita akan lihat, sejauh mana Niya terlibat dengan organisasi hitam." gumam Khay dengan tangan terkepal.


.

__ADS_1


.


#bersambung lagi dulu ya


__ADS_2