
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, atau berada diluar service area. Silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut.
Berkali-kali Khay menghubungi ponsel Ken namun tak pernah mendapat respon. Dan panggilan yang terakhir diangkat oleh suara seorang wanita operator.
"Kau pergi kemana, Ken? Kau membuatku cemas. Bagaimana ini?"
Khay mondar mandir di dalam kamarnya sambil memegangi ponselnya. Ia sungguh merasa jika Ken menyembunyikan sesuatu darinya.
Terlebih lagi kini Niya seakan menabuh genderang perang dengannya. Membuat hati dan pikiran Khay harus terbagi dengan adil.
"Apa yang sebenarnya di rencanakan oleh gadis itu?" gumam Khay dengan berpikir keras.
"Sudah sangat jelas jika semalam dia sudah mendengar semua aktifitasku dengan Rakha."
Tiba-tiba wajah Khay merona mengingat tentang momen penyatuannya bersama Rakha semalam. Hatinya berdegup kencang karena sangat bahagia. Kini ia telah seutuhnya menjadi milik Rakha. Meski semua sandiwara ini bagaikan sebuah bom waktu yang bisa meledak kapanpun juga.
Saat terfokus pada lamunannya, ponsel Khay berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Liana.
"Ibu?" Khay mengernyitkan keningnya.
Tanpa berlama-lama, Khay menerima panggilan dari Liana. Wajahnya makin bahagia mendengar apa yang dikatakan Liana dari seberang telepon.
"Baik, Bu. Aku akan segera kesana."
Khay bergegas mengambil tasnya dan keluar dari kamar.
Karena tak ingin di curigai, Khay lebih memilih memanggil taksi online daripada minta diantar supir.
Tiga puluh menit kemudian, Khay tiba di apartemen Dika. Khay disambut oleh Liana.
"Ibu, dimana Disha?"
Raut kebahagiaan jelas tergambar di wajah Khay. Ia amat mencemaskan gadis itu sejak menghilang beberapa waktu lalu.
"Dia sedang beristirahat di kamar."
Tanpa di duga ternyata Disha telah bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar.
"Khania!"
Disha begitu bahagia bertemu dengan Khay. Mereka pun berpelukan.
"Disha, kau baik-baik saja? Maafkan aku karena..."
"Hei, kenapa menyalahkan dirimu. Ini semua adalah ulah ayahku."
"Eh?"
Khay tertegun karena Disha menceritakan semua hal buruk tentang ayahnya.
"Tapi syukurlah kau baik-baik saja." Khay kembali memeluk Disha.
"Selamat ya atas pernikahanmu..."
"Heh?!"
"Khania, harusnya aku yang minta maaf padamu. Saat itu aku benar-benar di butakan oleh rasa cemburu, aku hanya ingin menakutimu dengan menculikmu. Tapi ternyata aku sendiri malah di sekap."
"Sudahlah, jangan membicarakan hal yang telah lalu. Mulai sekarang kau harus hidup dengan baik."
__ADS_1
"Hmm, terima kasih, Khania."
Liana menatap haru kedua gadis yang sedang melepas rindu di depannya. Entah sejak kapan kedekatan mereka mulai terjadi. Tapi rasanya perasaan bahagia menyelimutinya ketika melihat dua gadis yang amat disayanginya bersama.
.
.
.
"Paman Rein..."
"Halo, Ken." sapa Rein dengan menepuk pelan bahu Ken.
"Paman kapan datang?"
"Pagi ini. Dika menghubungiku dan mengabarkan tentang Disha."
Ken mengangguk paham. Mereka kini berada di sebuah klinik laboratorium untuk mengetahui keterikatan antara Disha dan keluarga Wicaksana sesuai dengan firasat Ken.
Seorang dokter muda mendatangi mereka berdua.
"Bagaimana Ark?" tanya Ken pada Arka, teman lamanya.
"Hei, Bung. Pencocokan DNA tidak bisa dilakukan secara instan. Apa kau akan menunggu disini seharian?"
"Dasar kau! Baiklah, kalau begitu kau segera menghubungiku jika hasilnya telah keluar."
Ken dan Rein memutuskan untuk pergi dari klinik. Kena mengajak Rein ke suatu tempat terlebih dahulu.
Rein mengernyitkan dahi karena Ken mengajaknya ke rumah sakit.
"Paman akan segera mengetahuinya."
Ken mengajak Rein berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit.
Rein makin terkejut karena melihat James ada disana juga.
"James Arthur?" Rein makin tidak mengerti maksud Ken. Tapi ia tetap mengikuti langkah Ken.
Ken dan Rein menyapa James lebih dulu.
"James..." sapa Rein.
"Hai, Rein. Mari silahkan."
James menuntun mereka menuju sebuah kamar perawatan pasien. Ken hanya memperhatikan dari jauh.
James meminta Rein untuk melihat dari luar kaca jendela pasien yang ada di kamar itu. Rein melihat seorang gadis duduk bersandar dan termenung.
Rein memperhatikan dengan seksama gadis yang ada didalam kamar itu.
HAH?!
Rein membulatkan matanya.
"Khania...?" gumam Rein.
Rein menatap James penuh tanya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" tanya Rein.
"Kau tanyakan saja pada Ken. Dia yang berhak memberitahumu." jawab James.
Rein melangkah mendekati Ken yang sedang menyesap rokoknya.
"Nak, apa maksud semua ini?" tanya Rein.
"Seperti yang Paman lihat. Khania masih hidup."
"Bagaimana bisa?"
"Aku menyelamatkannya di saat-saat terakhir." Ken membuang asap rokoknya ke atas.
"Kenapa kau memberitahuku?"
"Karena aku percaya pada Paman. Dan karena kita memiliki tujuan yang sama untuk menghancurkan organisasi hitam."
Rein menatap Ken dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lalu, apa Khay tahu jika kakaknya belum meninggal?"
"Aku belum memberitahunya. Kuharap Paman juga bisa menjaga rahasia ini hingga waktunya tepat."
"Baiklah, Nak."
Usai berbincang, Rein pamit undur diri bersama James. Ken meminta Rein untuk mengantarkan James kembali ke rumahnya.
"Tolong antar Paman James kembali. Aku yang akan menjaga Khania." pinta Ken.
Ken mengantarkan Rein dan James hingga menuju lobi rumah sakit. Usai mengantar Rein dan James, Ken kembali ke kamar rawat Khania.
Dari jauh Ken melihat beberapa perawat berlarian menuju kamar Khania.
"Ada apa ini?"
Ken mempercepat langkahnya dan bahkan sedikit berlari. Ken merasa jika terjadi sesuatu dengan Khania.
Ken menerobos masuk ke kamar Khania.
BRAAAKKK!!!
"Khania!!!" teriak Ken dengan mata terbelalak.
.
.
#bersambung...
*Ada apa dengan Khania? Yuk tebak2 menurut kalian π
Hai kesayangan mamak πππmampir juga ke karya mamak yg baru
Genre nya hampir mirip2 dengan kisah ini yg banyak dipenuhi misteri, hehehe. Kisah segitiga antara model cantik, agen FBI dan dokter forensik.
Yuk intips ceritanya. Jangan lupa beri dukungan ya genks. Karena kalian adalah semangatkuuuuhh πππ
__ADS_1
Terima kasih π