RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 105


__ADS_3

Ray kembali melangkah dan keluar dari rumah sakit lalu menuju ke mobilnya. Ray masuk ke dalam mobil. Ia terdiam dan belum ingin pergi dari sana.


Ray menerawang jauh. Niatnya datang menemui Randy adalah untuk memberitahu jika ayahnya bukanlah tersangka kasus korrupsi yang sebenarnya. Ayah Randy hanya dijebak oleh pelaku sebenarnya yang kini telah tertangkap. Namun kini semua sia-sia saja. Ayah Randy telah meninggal sebelum dibuktikan tidak bersalah.


Ray tak kuasa memberitahu yang sebenarnya kepada Randy karena terlalu takut jika Randy akan makin marah kepada dunia. Satu-satunya cara yang ia tahu adalah memberi bocah lelaki itu semangat agar terus menjalani hidupnya dengan baik bersama adiknya. Apalagi jika Randy tahu kematian ayahnya bukan karena bunuh diri melainkan dibunuh.


Ray baru mengetahui fakta itu setelah pelaku sebenarnya tertangkap. Rekaman kamera pengawas menunjukkan jika ada orang asing mencurigakan yang datang ke tempat ayah Randy di tahan.


Ray memukuli kemudi berkali-kali. Dadanya sesak. Hatinya bergejolak. Ia sudah mengira jika kematian ayah Randy ada hubungannya dengan kematian Khay.


Ray mengumpat lalu menangis pilu. Sungguh ia tak tahan harus menerima kenyataan pahit ini. Siapa musuhnya yang sebenarnya? Apa tujuannya melakukan semua ini? Apakah untuk membalas dendam? Atau ada motif lain? Hal itulah yang sekarang sedang Ray temukan titik terangnya.


Sementara di dalam kamar, Randy terus memandangi medali penghargaan milik Ray yang diberikan kepadanya. Ia merasa bangga bisa mendapat sebuah hadiah yang cukup berharga.


"Ternyata menjadi agen ISS sangatlah membanggakan. Suatu hari nanti, aku ingin menjadi seperti paman itu," gumam Randy dengan tersenyum.


Tak lama seorang perawat mengetuk pintu.


"Selamat siang Randy, saatnya berganti shift ya! Setelah ini Suster Andara yang akan menggantikan saya," ucap Suster Ana.


Randy tersenyum dan mengangguk. Namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.


"Tunggu, Suster!" cegat Randy ketika Ana dan Andara akan keluar kamar.


"Ada yang bisa dibantu, Randy?" tanya Ana.


"Suster, apa kau tahu siapa gadis yang bersamaku semalam?"


Ana mengerutkan dahinya.


"Bukankah semalam Suster menemukanku di atap rumah sakit? Ada seorang gadis beserta neneknya. Apa Suster tahu siapa nama gadis itu?" tanya Randy dengan bersemangat.


Ana tersenyum. "Sebentar ya! Pasien anak-anak cukup banyak, Randy. Akan sulit untuk mencarinya jika aku bukan yang merawatnya." Ana membuka buku catatan pasien yang di pegangnya.


"Kira-kira dia seusiaku, 10 tahun," lanjut Randy.


"Pasien yang seusia denganmu?" Ana masih mencari.


"Ah, ada. Namanya Khania."


"Dia dirawat dikamar berapa, Suster?" tanya Randy berbinar.


"Hmm, sayangnya dia sudah pulang pagi ini."


Raut wajah Randy berubah muram. "Ya sudah. Terima kasih, Suster."


Ana mengangguk kemudian meninggalkan Randy yang masih mematung.


"Khania! Aku pastikan aku akan menemukanmu! Berkat dirimu, aku bisa mendapatkan kepercayaan diriku kembali. Aku sadar jika terus bersedih dan mengutuk takdir tidak akan ada artinya. Aku harus bangkit dan berjuang demi adikku!" ucap Randy dengan memandang Reksa yang masih tertidur.


......***......


Beberapa hari kemudian, Disha menghubungi Ray dan meminta bertemu. Ada hal mengenai Khania yang harus ia bicarakan.


Ray melajukan mobilnya ke sebuah tempat yang diberitahukan oleh Disha. Ray mengernyit ketika dirinya tiba di sebuah klinik psikiater.


Ray turun dari mobil dan mengedarkan pandangan.


"Kenapa Disha memintaku untuk datang kemari?" gumam Ray.

__ADS_1


"Kak Ray!" Sebuah suara membuat Ray menoleh.


"Disha? Apa yang terjadi? Kenapa kau ingin bertemu disini?" tanya Ray.


"Maafkan aku, Kak. Aku dan Bibi Amara tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kami membawa Khania kemari," ucap Disha dengan wajah sendu.


"Apa?!" Ray terkejut.


"Khania selalu murung dan tidak merespon apa pun sepulang dari rumah sakit. Maka dari itu, aku membawanya ke klinik ini. Khania akan diobati disini," jelas Disha.


Ray menghela napas. Sungguh ia merasa iba mendengar kondisi Khania yang kian memburuk.


"Ayo kita masuk, Kak! Kita temui dokter yang merawat Khania. Aku tahu kakak menyayangi Khania, makanya aku perlu berkonsultasi juga dengan kakak."


Ray mengangguk. Kemudian ia masuk bersama Disha dan juga Dika yang sedari tadi hanya diam.


Mereka bertiga menemui dokter Diana. Dokter itu menjelaskan bagaimana kondisi Khania.


"Belum waktunya Khania menjalani sesi hipnoterapi. Jika dia sudah siap, saya akan melakukannya. Semua harus dilakukan secara perlahan dan tidak dipaksakan. Khania masih anak-anak. Saya minta dukungan dari kalian sebagai keluarganya," terang Diana.


"Apa saya bisa bertemu dengan Khania?" tanya Ray.


"Bisa. Mari saya antar!" balas Diana.


......***......


Ray melihat dari kejauhan seorang gadis kecil yang sedang duduk sendiri di taman. Pandangannya menerawang jauh menatap langit sore ini.


Ray menghampiri Khania. "Langitnya bagus ya!"


Khania menoleh mendengar suara dari arah kirinya. "Paman Ray?"


Khania sempat menatap Ray namun sejurus kemudian ia kembali menatap langit.


"Tidak! Justru kami sangat menyayangimu," balas Ray.


"Dengan menempatkanku disini?"


"Apa kau tidak senang berada disini?" tanya Ray.


"Tidak! Aku senang. Karena semua yang ada disini memiliki masalah yang sama denganku. Paling tidak, aku memiliki teman disini," jawab Khania datar.


Ray yang tidak tega melihat kesedihan Khania segera membawa tubuh gadis kecil itu kedalam dekapannya.


"Jangan bicara begitu! Paman sangat menyayangimu. Bibi Disha dan Nenek Amara juga sangat menyayangimu. Alan lalu paman Dika. Mereka semua menyayangimu," ucap Ray dengan mengusap puncak kepala Khania.


"Berjanjilah Paman tidak akan meninggalkan aku..." pinta Khania.


"Paman janji! Paman janji tidak akan pernah meninggalkanmu!" balas Ray dengan menahan tangisnya.


......***......


Tahun pun berganti. Hari-hari Khania kini lebih berwarna. Kesedihan yang beberapa tahun lalu dialaminya, kini telah hilang. Sesi hipnoterapi yang ia lakukan beberapa tahun silam mengubahnya menjadi gadis yang ceria.


Setiap tahun di hari ulang tahun Khania, Ray selalu datang menyempatkan waktunya yang begitu sibuk. Pekerjaannya sebagai agen ISS senior, membuatnya harus berpindah-pindah tempat tinggal.


Ray mengambil cuti selama dua minggu untuk menghabiskan waktunya bersama Khania. Gadis itu kini berusia 15 tahun. Sikapnya yang manja dan bar-bar mengingatkannya pada sosok mendiang ibunya. Sungguh Ray melihat sosok Khay ada pada diri Khania.


Tak lupa Ray menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Khay dan Rakha.

__ADS_1


"Sudah lima tahun, Khay. Sampai sekarang aku tidak tahu siapa penjahat dibalik ini semua. Bantu aku, Khay. Bantu aku dari atas sana," ucap Ray menahan tangisnya.


Pria 42 tahun itu masih tetap dalam kesendiriannya dan tak memikirkan soal pendamping hidup. Meski wajah tampannya menarik beberapa wanita untuk mendekat, namun Ray tidak tertarik. Saat ini ia hanya memikirkan soal pekerjaan.


Ponsel Ray bergetar. Sebuah panggilan dari markas ISS. Ray segera beranjak dari makam Khay dan menuju ke markas ISS.


Tiba disana, ia berhadapan dengan pimpinan ISS beserta perwakilan dari pemerintah. Ray merasa ada hal penting yang akan mereka bicarakan.


"Kau masih ingat kasus pembunuhan berantai lima tahun silam?" tanya Pimpinan ISS, Richard Gale pada Ray.


"Iya, Pak. Ada apa?"


"Ini memang cukup memalukan untuk kita karena kita tidak bisa menangkap pelakunya." Richard mengusap dagunya.


"Namun kini sepertinya kita mulai menemukan titik terang," lanjutnya.


"Kami menemukan kasus yang sama terjadi di luar negeri. Menurut penyelidikan sementara, pelakunya adalah orang yang sama."


Ray membulatkan mata. Kesempatan untuk bisa menemukan pembunuh Khay makin terbuka lebar.


"Untuk itu kami memutuskan untuk membentuk satuan khusus untuk operasi ini. Yang diberi nama Black Diamond. Kenapa diberi nama demikian? Karena kami berasumsi jika pelaku ini bagaikan berlian yang sangat berharga. Jika kita bisa menangkapnya, maka ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa untuk ISS."


Ray menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Untuk itu kami memutuskan untuk menjadikanmu sebagai ketua dari operasi Black Diamond ini."


"Eh?" Ray terkejut.


"Kau tenang saja! Kau tidak akan bekerja sendirian. Ada tiga orang yang akan bekerja denganmu. Kau bisa menemui mereka di markas latihan," ucap Richard.


Ray dibawa ke sebuah ruangan khusus tempat para agen ISS melatih keahlian mereka masing-masing. Ray melihat ada dua orang yang sedang berkelahi.


Ray berdecak kagum dengan keahlian bela diri dari seorang pria muda itu.


"Dia adalah Lexi. Dia yang akan menjadi anak buahmu," ucap Richard.



Ray tersenyum senang. Lalu mereka menuju ke sebuah ruangan yang sunyi senyap. Hanya ada suara keyboard yang beradu dengan jari-jari lentik milik para agen.


"Pria disana adalah Bastian. Dia adalah hacker terbaik saat ini. Dia juga yang akan membantumu dalam operasi ini," terang Richard.



Ray kembali tersenyum. Ia merasa ia akan memiliki tim yang hebat. Ray mengira jika hanya ada dua orang saja yang akan menjadi anak buahnya, namun ia salah.


Richard kembali membawa Ray menuju ke sebuah ruangan. Ada beberapa meja terpampang disana. Beberapa orang sedang berlomba untuk merakit senjata.


"Yes, I win!" seru seorang wanita di ruangan itu dengan lantang.


Mata Ray dan Richard mengarah padanya.


"Dia adalah Isabella. Dia anggota terakhir yang akan melengkapi timmu. Sejauh ini dia wanita pertama yang berhasil memecahkan rekor Khayla dalam merakit senjata. Bagaimana Ray? Apa kau butuh anggota lain? Atau hanya mereka saja?" ucap Richard.



"Tidak, Pak. Kurasa sudah cukup." Ray menatap Richard dengan kilatan tekad yang membara.


"Bagus! Mulai besok kau akan pindah ke Brazil bersama mereka."

__ADS_1


"Eh? Brazil?" Ray membulatkan mata.


#bersambung


__ADS_2