
"Kakak...!!!" pekiknya dengan air mata yang berderai. Kakinya terasa lemas.
Khay jatuh terduduk dengan menangis terisak. Setelah beberapa saat menangis, Khay mulai mengatur nafasnya.
"Maaf karena aku harus melakukan ini, Khay. Tapi, hanya kau yang bisa membuat Khania kembali bangun." ucap Ken.
Khay mulai berdiri dan mendekati tubuh Khania. Khay mengguncang tubuh Khania.
"Kakak, bangun Kak!! Kau tidak bisa begini..." ucap Khay dengan terisak.
"Kau harus menyelesaikan semuanya! Kau tidak boleh terbaring disini!"
Khay kembali terduduk lunglai di lantai. Ken merasa tidak tega melihat Khay yang begitu sedih.
"Jadi, kau menyelamatkan nyawanya?" tanya Khay dengan mata memerah.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa membiarkannya mati di tangan organisasi."
Khay mengusap air matanya dengan kasar.
"Benar! Wanita ini harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya!" ucap Khay keras dengan menunjuk Khania dengan telunjuknya.
"Khay... Tenanglah!"
Khay mengatur nafasnya yang tersengal. Hatinya kembali sesak karena mendapati kenyataan ini.
Ken menyodorkan sebotol air mineral kepada Khay.
"Minumlah dulu! Dan tenangkan dirimu. Aku akan menceritakan semuanya padamu..." ujar Ken.
Khay meneguk air mineral itu setengah botol. Kemudian berjalan keluar dan duduk di kursi panjang.
Ken menghampiri Khay dan duduk disamping Khay. Ken mulai bercerita tentang semuanya. Ken tidak mau Khay terus membenci kakaknya sendiri hanya karena kesalahan yang pernah Khania buat di masa lalu.
Khay hanya terdiam. Ia tak menyahuti semua cerita Ken.
"Kita harus bersiap melawan organisasi, Khay. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah menyembunyikan Khania selama satu tahun ini."
"Tidak perlu meminta maaf lagi. Baguslah kau menyembunyikannya. Lebih baik dia dianggap mati dari pada hidup." Ucap Khay datar sebelum akhirnya ia berpamitan pergi pada Ken.
Ken tertegun dengan kalimat Khay. Memang terdengar seperti nada kebencian. Tapi bagi Ken, kalimat Khay itu adalah tanda jika Khay senang karena kakaknya masih hidup.
.
.
.
Khay membereskan barang-barangnya yang ada di kamar Rakha. Ia sudah memutuskan akan kembali ke apartemen lamanya dan akan meninggalkan Rakha. Malam ini ia akan berkata jujur pada Rakha. Sudah cukup semua kebohongan yang ia lakukan terhadap Rakha.
Kini ia akan fokus pada mengejar organisasi hitam dan akan mengesampingkan masalah pribadinya. Ada tekad yang kuat tersorot dari mata Khay.
__ADS_1
"Sayang..."
Suara Rakha membuat Khay menghentikan aktifitasnya.
"Kau sudah pulang? Apa kau sudah makan malam?"
"Hmm, sudah. Apa ini? Kenapa merapikan barang-barangmu?"
Khay menatap Rakha dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maafkan aku..." lirih Khay.
DEG
Sepertinya Rakha tahu kemana arah pembicaraan mereka tertuju.
"Aku tidak bisa membohongimu lagi. Aku akan berkata jujur padamu."
Rakha hanya menghela nafasnya kemudian memejamkan matanya.
"Aku tahu." ucap Rakha.
"Eh?"
"Aku tahu apa yang akan kau bicarakan, Khayla..."
"Hah?!"
"Awalnya aku merasa jika semua ini sangatlah aneh. Pertama bertemu denganmu, aku memang merasa jika kau bukanlah Khania. Tapi aku menepisnya, dan selalu meyakinkan diriku jika kau memang Khania. Khania-ku yang sudah lama menghilang. Tapi, setelah menjalani hari-hari bersamamu..."
Rakha melangkah mendekati Khay.
"Aku tahu kau menyukaiku. Dan aku... juga menyukaimu..."
"Eh?"
"Kau tidak akan berbuat hingga sejauh ini jika kau tidak memiliki rasa untukku. Maka, aku mencari waktu untuk bicara denganmu. Tapi ternyata, kau lebih dulu bicara padaku. Jadi..."
"Cukup! Aku bukanlah Khania. Dan kita tidak akan bisa bersama."
"Kenapa?"
"Karena kau hanya mencintai Khania. Dan aku bukanlah dia."
Rakha memejamkan matanya sekejap.
"Baiklah. Lalu dimana Khania?"
"Dia koma di rumah sakit."
"Heh?!" Rakha tertegun.
__ADS_1
"Jadi, karena itu kau menyamar sebagai dia?"
"Tidak. Banyak hal yang tidak bisa aku katakan padamu. Maafkan aku, Rakha. Aku tidak bermaksud menipumu. Aku hanya ingin mencari tahu siapa yang mencelakai kakakku. Aku pikir itu adalah dirimu atau keluargamu. Dan ternyata memang benar, bukan? Niya yang sudah melakukannya. Karena aku sudah menemukan jawabannya, maka... Maka aku harus segera pergi dari sini." ucap Khay dengan suara bergetar.
.
.
.
Tap
Tap
Tap
"Ken!!!" suara seseorang dengan sedikit berteriak.
"Ada apa, Ron?"
"Ini gawat!" ucap Ron terengah-engah.
"Katakan saja perlahan!" ucap Ken.
"Ada apa ini?" Rein, dan Liana juga James datang menghampiri mereka.
Ron memberi hormat pada Liana.
"Ron, ada apa? Kau terlihat panik." ucap Liana.
"Aku mendengar dari para perawat disini, jika ada seseorang yang mencari pasien dengan nama Khania Anjani." tutur Ron.
"HAH?!"
Semua orang tertegun mendengar penuturan Ron.
"Jangan bilang jika..." Rein tidak melanjutkan kalimatnya.
"Benar, Paman. Sesuai dugaanku. Para anggota organisasi sedang mencari keberadaan Khania." sahut Ken dengan menyeringai.
"APA?!"
Sementara semua orang sedang berdiskusi dengan serius, didalam kamar perawatan, Khania mulai menggerakkan jari-jarinya. Pergerakan yang tidak banyak itu membuktikan jika alam sadarnya sudah mulai kembali. Bahkan perlahan-lahan kedua bola matanya mulai membuka dengan sempurna dan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalamnya.
Aku hidup kembali...
Batinnya.
...***...
#bersambung...
__ADS_1