
Perhatian: Ada sedikit adegan yang tidak pantas untuk di tiru ya genks. Harap pembaca bijak menyikapi. Terima kasih.
.
.
Khay masih terdiam kala mengingat tentang Disha yang masih belum di temukan. Ken memberi Khay secangkir kopi untuk Khay.
"Maaf ya, aku hanya punya kopi untukmu." ucap Ken.
"Tidak apa. Terima kasih, Ken." Khay menyesap kopinya perlahan.
"Ken, aku masih belum bisa percaya dengan semua ini. Jika Niya memang bukan putri kandung keluarga Wicaksana, kenapa tidak ada yang menyadarinya? Bahkan Ibu Liana juga tidak menyadarinya. Bukankah itu aneh? Apa mungkin kedua bayi itu ditukar saat masih bayi?"
"Kau benar. Sepertinya kedua bayi itu memang ditukar saat di rumah sakit." balas Ken.
"Apa kau bisa mencari buktinya jika memang bayi itu ditukar?"
"Hmm, terlalu sulit, Khay. Karena sudah 25 tahun yang lalu. Tapi, aku akan tetap mencari bukti. Kau jangan khawatir."
"Terima kasih, Ken. Kurasa sebaiknya aku pulang. Aku takut orang-orang di rumah itu curiga jika aku tidak segera kembali."
"Hmm, baiklah. Apa perlu kuantar?"
"Ah, tidak perlu."
Khay keluar dari kamar Ken usai berpamitan. Khay menutup pintu kamar Ken.
Khay akan kembali melangkah namun tiba-tiba terhenti.
"Ray?"
Khay terdiam melihay Ray ada di depannya.
"Kau disini? Bukankah Paman Rein bilang jika kau kembali ke Kota D?"
"Aku sudah kembali kemari." jawab Ray dingin.
Ken keluar dari kamarnya karena mendengar suara Khay masih ada di depan kamarnya.
"Khay?" panggil Ken.
Khay menoleh sebentar kemudian kembali beralih pada Ray. Khay bisa melihat raut kekecewaan di wajah Ray.
"Jadi sekarang kau bekerja sama dengannya?" tanya Ray dingin menunjuk Ken dengan dagunya.
"Bukan begitu, Ray..."
"Selesaikan masalah kalian. Jangan seperti anak kecil, Ray. Kau hanya akan menyakiti Khayla jika kau bersikap begini." ujar Ken kemudian kembali masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Ray meraih tangan Khay dan membawanya ke rooftop apartemen. Tempat favorit Ray saat dirinya ingin menyendiri.
"Ray..." panggil Khay.
"Selamat atas pernikahanmu, Khayla..."
"Hah?!" Khay membulatkan mata mendengar ucapan selamat dari sahabatnya itu.
"Ray, aku..."
"Aku tahu. Kau mencintainya. Makanya kau bersedia menerima pernikahan ini. Sudahlah, Khay. Jangan membohongi dirimu sendiri. Aku ikut bahagia untukmu..." Ray tersenyum aneh.
"Ray!" Khay memeluk tubuh besar Ray. Tangannya terulur mengusap pelan punggung Ray.
Ray makin mendekap erat tubuh Khay. Kerinduan akan seorang gadis yang ia cintai kini terobati. Namun rindu itu akan berakhir setelah hari ini. Setelah ini, Ray akan merelakan Khay untuk bersama dengan Rakha.
.
.
Malam itu, anggota keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga ketika tiba-tiba ada tamu yang tak pernah diduga.
"Selamat malam, benar ini rumah saudara Richie Wicaksana?"
"Iya, Pak. Ada apa?" jawab Rakha yang menemui petugas polisi yang bertamu ke rumahnya.
"Saudara Richie di temukan sudah tidak bernyawa di sebuah studio miliknya."
"HAH?!"
"Pasti bapak salah orang, Pak. Adik saya tidak mungkin meninggal." balas Rakha.
"Baiklah, jika bapak tidak percaya, silahkan mari ikut dengan saya untuk memastikan apakah benar mayat yang gantung diri itu adik bapak atau bukan?"
CTAAARRRRR (bagaikan tersambar kilat, mereka bertiga mematung tak percaya)
"Apa, Pak? Gantung diri?" Khay dan Rakha makin tak percaya dengan cerita pak polisi itu.
"Benar. Mari silahkan salah satu anggota keluarga ikut dengan kami." ucap petugas polisi itu lagi.
"Sayang, kau tunggu di rumah ya bersama Ibu. Aku akan ikut dengan mereka." ucap Rakha.
"Tidak! Aku juga ingin ikut, Rakha." ucap Khay yang sudah cemas.
"Ibu juga ingin ikut!" sahut Liana.
Rakha berpikir sejenak, kemudian...
"Baiklah, kami bertiga akan ikut dengan bapak." jawab Rakha.
__ADS_1
Liana menitip pesan pada salah satu asistennya jika nanti Niya kembali ke rumah.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Khay, Rakha dan Liana mendatangi tempat kejadian perkara dimana tubuh Rich di temukan.
Mereka bertiga melihat tubuh Rich sudah terbujur kaku. Liana sudah berderai air mata sejak tadi.
Khay masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Tubuh yang kemarin mengajaknya ke tempat ini dan menunjukkan hasil karyanya dengan tawa bahagia dibibirnya, kini sudah tak bernyawa.
Tidak! Tidak mungkin Rich bunuh diri. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi disini!
Jenazah Rich di bawa kerumah sakit untuk di otopsi. Pihak keluarga menyetujui adanya proses otopsi agar mengetahui penyebab kematian Rich yang sebenarnya.
Khay, Rakha dan Liana menunggu dengan cemas di ruang tunggu rumah sakit. Khay memeluk Liana yang sedari tadi meneteskan air mata.
Rakha berusaha tegar namun ia juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Raut penyesalan amat dalam ia rasakan.
Apa mungkin Rich bunuh diri karena aku tak mengijinkannya untuk melakukan apa yang dia inginkan. Tapi kenapa, Rich? Kenapa kau harus bunuh diri? Kau bisa bicara dengan kakak...
Batin Rakha benar-benar terasa pedih menghadapi kenyataan ini.
Setelah beberapa lama menunggu, dokter forensik menemui petugas polisi untuk menyatakan tentang kematian korban. Dan salah seorang petugas polisi bernama Danial menghampiri keluarga korban.
"Selamat malam. Atas nama keluarga korban Richie Wicaksana?"
"Iya, Pak. Bagaimana hasilnya, Pak?" tanya Rakha dengan raut wajah cemas.
"Saudara Richie meninggal karena luka yang ada di leher korban, yaitu jeratan tali yang membuatnya tergantung. Kami belum bisa menyimpulkan sepenuhnya apakah korban murni bunuh diri atau ada yang membuatnya seolah-olah menjadi bunuh diri."
"Adik saya tidak mungkin bunuh diri, Pak." tegas Rakha.
"Dari hasil pemeriksaan darah korban, ditemukan kandungan beberapa obat bius dan obat terlarang. Itu berarti sebelum meninggal, korban sempat mengkonsumsi obat-obatan sebelum memutuskan untuk bunuh diri." jelas Danial.
"HAH?!"
Rakha kembali tercengang. Liana tak hentinya menangis. Hati seorang ibu tidak akan bisa menerima kematian anaknya yang sangat tiba-tiba dan juga tidak wajar.
Sementara Khania, ia mengepalkan tangannya mendengar penjelasan Danial. Hatinya menolak untuk menerima ini sebagai bunuh diri.
Sudah bisa ditebak! Ini adalah perbuatan komplotan hitam! Obat-obatan terlarang! Pasti ulah mereka! Niya! Kaukah dibalik semua ini? Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja dari ini!
Kilat mata Khay tersorot tajam dengan penuh kebencian dan dendam.
Akankah Khay bisa memecahkan kasus kematian Richie yang pastinya terhubung dengan kematian kakaknya?
.
.
#bersambung,,,
__ADS_1
*Korban akan mulai berjatuhan genks, siapakah selanjutnya?
We'll see