
Perhatian: Akan ada adegan dewasa di part ini. Harap pembaca bijak menyikapi ya! Yang tidak suka skip saja dan klik jempolnya saja, hehehe. mumpung hari senin yg mau kasi vote juga bole banget.
Terima kasih
.
.
"Akhirnya kau memutuskan untuk melenyapkan putrimu sendiri?" ucap pria berkacamata hitam itu.
"Aku tidak akan segegabah itu membunuhnya, Prince. Aku harus memanfaatkan dia untuk membalaskan dendamku..." sahut Alan dengan tangan terkepal.
Pria tampan berkacamata hitam yang tak lain adalah Prince alias Jonas, segera memposisikan diri untuk di sofa empuk di ruang kerja Alan. Ya, orang-orang yang sedang rapat tadi bersama Alan adalah Prince, Doc dan Irish. Tapi kedua anak buah Prince segera pergi karena tahu bosnya akan menemui Alan.
Alan tak ikut duduk namun tetap pada posisi berdirinya. Ia memijat pelipisnya pelan.
"Sepertinya kita harus mulai bergerak. Bukan begitu Paman Alan?" ucap Prince.
Alan masih diam.
"Apa yang akan kau lakukan dengan putrimu itu? Aku bersedia membantumu karena kau adalah sahabat ayahku. Kau banyak membantuku setelah polisi berhasil menangkap ayahku dan menjatuhi hukuman mati untuknya. Tapi, aku tidak suka dengan gerakan lambatmu yang bahkan sudah tiga tahun ini tidak berkembang sama sekali." Prince melepas kacamatanya dan menatap Alan.
Alan menatap balik pada Prince.
"Bagaimana dengan gadis itu?" tanya Alan.
"Maksudmu kembaran Jasmine?"
Alan tidak menjawab tapi Prince tahu jawabannya.
"Dia tidak bisa dianggap remeh. Tapi aku juga pasti akan mendapatkannya."
"Apa polisi terlibat lagi?"
"Iya. Bahkan lebih dari itu. Sepertinya ISS juga ikut andil dalam hal ini. Makanya, semakin cepat eksekusinya maka semakin baik. Toh gadis itu bukanlah putri kandungmu. Lenyapkan saja dia. Itu akan jadi balas dendam terindah dalam hidupmu daripada kau harus melenyapkan Rakha."
"Apa kau sudah gila? Jika semuanya terbongkar, dan kau ditangkap, maka aku pun akan hancur, Prince. Aku tidak bisa melakukan itu dengan gegabah." Ucap Alan mulai cemas.
Prince menghela nafasnya. "Terserah paman saja. Sebaiknya paman juga berhati-hati. ISS hampir mengendus bisnis kita."
__ADS_1
Alan kembali tidak menjawab.
"Huuuaaah, menjadi mafia tidaklah semudah yang kubayangkan. Aku akan cari cara agar bisnis kita tidak terendus lagi oleh polisi."
Prince beranjak dari duduknya dan menepuk bahu Alan pelan kemudian keluar dari ruangan itu.
.
.
Sesampainya di apartemen, Khay langsung duduk di sofa kamarnya. Memandangi kamar yang beberapa hari ini tidak dilihatnya. Ada sedikit kerinduan karena ia mulai kerasan tinggal disana.
"Bukankah kamu harus ke kantor?" tanya Khay pada Rakha.
Rakha mengangguk. Rakha menghampiri Khay dan duduk disampingnya. Rakha menggenggam tangan Khay.
"Sayang, ibu sudah cerita semua padaku. Ada baiknya jika kau tinggal bersama denganku."
"Eh? A-apa?"
"Aku akan lebih tenang jika kau berada dekat di sisiku..." Rakha menangkup wajah Khay.
Khay tahu ada kekhawatiran di wajah tampan itu. "Tapi, Rakha..."
Ada sorot ketulusan didalam mata itu. Khay bisa melihatnya. Tapi apakah itu memang untuknya? Atau untuk Khania?
"Menikahlah denganku, Khania..."
Kalimat itu berhasil membuat hati Khay sedikit melayang dan berbunga-bunga. Meski hanya sedikit. Karena Rakha menyebut nama Khania.
Khay menunduk dan tidak bisa menjawabnya. Bagaimana bisa dia menikah sementara dia bukanlah Khania. Sampai kapan semua ini akan berlanjut? Hanya itu yang ada dipikiran Khay saat ini. Jika Rakha sudah mengetahui semuanya, pasti dirinya akan membenci Khay. Itulah yang amat Khay takutkan. Karena kini hatinya bimbang. Ia mulai mencintai Rakha. Ia benar-benar terjebak dengan perasaan itu.
"Tidak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkanlah dulu." Rakha membelai wajah Khay dan merangkumnya.
Khay mengantarkan Rakha hingga ke depan pintu. Namun sebelum pintu dibuka, Rakha berbalik badan dan menatap Khay.
Rakha memberikan kecupan manis di bibir Khay. Khay hanya diam. Tak membalas dan tidak juga menolak.
Rakha makin menjelajah masuk kedalam sana menuntut agar Khay membalasnya. Dan benar saja, Khay mulai membalasnya. Menyapu kembali bibir Rakha yang kini makin dalam menjelajah.
__ADS_1
Khay melingkarkan tangannya ke leher Rakha. Ciuman itu makin menuntut dan bergairah. Getar ponsel Rakha membuat Khay ingin mengakhiri semuanya.
Namun Rakha makin mendekapnya erat. Khay tidak bisa menolak. Rakha merapatkan tubuh Khay ke dinding. Rakha tahu jika Khay tidak bisa membiarkan Rakha pergi. Mereka sama-sama menginginkan lebih.
Khay membuka kancing jas Rakha. Tangan Rakha dengan cekatan melepas kaus yang dipakai Khay. Terpampang jelas dua benda kenyal yang tertutup bra hitam.
Kabut gairah terpancar jelas di mata keduanya. Rakha membawa Khay naik ke atas ranjang dan kembali menyapu bibir Khay. Ini pertama kalinya mereka berbuat sejauh ini.
Entah kenapa Khay tidak bisa melepas Rakha begitu saja. Ia menerima semua perlakuan Rakha padanya. Rakha mulai melepas benda-benda terakhir yang ada pada tubuhnya. Ia mengungkung tubuh Khay yang masih berbalut bra dan segitiga hitamnya.
Rakha baru tahu jika Khanianya menyukai warna hitam. Bahkan ********** pun berwarna hitam. Dan itu menambah kesan seksi pada dirinya.
Rakha membenamkan wajahnya di leher Khay dan memberi tanda disana. Turun kebawah hingga membuat Khay menjerit lirih dengan remasan tangan Rakha di benda kenyal miliknya. Tangan Rakha bermain cantik melepas pertahanan Khay di bawah.
Kini mereka bisa melihat keindahan tubuh masing-masing. Ketika semua gairah benar-benar membuat mereka melayang....
"Tidak! Ini tidak benar!" ucap Khay dengan tersengal karena nafasnya tak beraturan.
Rakha menatap dalam mata Khay.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, sayang..." ucap Rakha meyakinkan Khay.
.
.
#bersambung...
*lanjut gak nih? π¬π¬π¬ apa akan berhenti?
jangan lupa jempolnya di goyang ππ
yg mau kasih vote juga bole banget mumpung hari senin π¬π¬
.
Genks, mampir juga di karya mamak yg lain, dibawah ini
__ADS_1
genre romance-spiritual, menguras esmosi readers ππ bagi yg tak suka dengan kisah yg menguras emosi dan bikin baper sebaiknya tidak baca, tapi kalo penasaran bole laah...
terima kasih ππ