
Khania merasa senang mendengar kabar kebebasan Ray. Meski Khania tidak bisa menemui Ray selama 10 tahun terakhir ini, tapi ia tetap menaruh harap untuk bisa bertemu suatu saat nanti.
Hingga berbulan-bulan berlalu, Khania benar-benar tak mendengar kabar dari Ray lagi. Pria yang kini berusia setengah abad lebih itu seakan menghilang bak ditelan bumi.
Khania sadar sejak dulu Ray memang misterius. Banyak hal yang ia sembunyikan dari dunia luar, termasuk perasaannya sendiri.
Pagi itu, Khania baru saja mengantar Agnes berangkat ke sekolah. Meski pekerjaannya sangat menyita waktu, tapi sebisa mungkin Khania tetap menjadi ibu yang baik untuk Agnes.
Jay juga adalah ayah dan suami yang baik. Meski hanya pemilik sebuah bengkel kecil, tapi Jay tetap berperan sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab.
Hari itu, Jay menerima sebuah surat kaleng yang memintanya datang ke suatu tempat. Jay awalnya tidak menggubris surat itu. Namun lama kelamaan, surat itu mengganggu dirinya.
Hingga akhirnya Jay datang ke tempat yang dimaksud tanpa sepengetahuan Khania. Jay terkejut ternyata tempat yang ia tuju adalah sebuah rumah sakit jiwa.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang petugas pada Jay.
"Aku ingin bertemu dengan ini!" Jay menyerahkan surat kaleng yang selama ini diterimanya.
"Oh, silakan masuk!"
Jay diantar ke sebuah ruangan yang semua warna ruangannya adalah putih. Jay melihat seorang wanita paruh baya duduk membelakanginya.
"Akhirnya kau datang juga, Nak!" Wanita itu berbalik badan dan menatap Jay.
"Si-siapa kau? Kenapa mengirim surat kaleng ini padaku?" tanya Jay.
Wanita itu tertawa cukup keras.
"Aku yang harusnya bertanya padamu! Kau ini bukan Jay, kau ini Josh! Kau adalah putraku! Ayahmu adalah Jonas Wilder yang terkenal kejam itu. Kau tidak pantas menjadi pria berhati lembut seperti Jay!"
"Kau tidak waras! Omong kosong apa ini?" Jay berbalik badan dan bersiap pergi.
"Ingatlah, Josh! Namamu adalah Josh Wilder! Dan kau begitu bodoh karena menikahi wanita yang adalah musuhmu sendiri! Kau harusnya membunuh Khania, bukan malah menikahinya dan memiliki anak darinya. Kau bodoh, Josh!"
Kepala Jay mendadak berdengung dan terasa sakit. Jay berteriak kesakitan tapi wanita yang adalah Zelia itu hanya diam dan memperhatikan. Tentunya ia sangat ingin jika Josh bisa mengingat masa lalunya.
Zelia kesal pada Zidane, adiknya yang sudah mengubah Josh menjadi Jay. Zelia merasa beruntung karena Zidane kini telah tiada. Zelia bisa melanjutkan aksi balas dendamnya terhadap keluarga Khayla yang sudah menghancurkan kehidupannya.
"Teruslah berteriak, Josh! Kau adalah Josh dan akan selamanya begitu! Kau harus menghancurkan Khania dan juga temukan Ray! Dia harus bertanggung jawab dengan semua yang terjadi!"
Jay akhirnya pingsan tak sadarkan diri. Zelia segera meminta petugas rumah sakit membawa Jay ke sebuah ruang perawatan.
#
#
#
Khania merasa khawatir karena Jay belum juga pulang sejak kemarin. Tak ada kabar apapun yang Khania terima.
Khania bahkan memeriksa beberapa rekaman kamera pengawas di sekitar bengkel milik Jay. Hanya terlihat Jay pergi menggunakan mobilnya namun tak pernah kembali.
"Sebenarnya kau pergi kemana, Jay?"
Di saat Khania khawatir dengan kondisi Jay, Ray malah mendapatkan informasi yang mengejutkan dari Dorian.
"Apa?! Jadi, Khania menikahi Josh? Anak Jonas yang sudah membunuh ketiga muridku dan membuatku mendekam di penjara?"
"Benar, Ray. Sebaiknya kau cepat bertindak." Pria berkepala plontos itu memberikan beberapa ide pada Ray untuk menyelamatkan Khania dan Agnes.
Dorian sudah bisa menebak jika Jay atau Josh akan melakukan sesuatu terhadap Khania. Ditambah kehadiran Zelia yang masih tetap menggila seperti dulu.
"Baiklah, kirimkan pesan pada Khania. Aku harus menemuinya secepat mungkin!" tegas Ray.
Di sisi Khania, ia amat bahagia karena mendapat pesan dari Ray, orang yang selama ini ia tunggu kabarnya. Orang yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri.
Ray meminta Khania untuk menemuinya di sebuah taman bersama dengan Agnes. Gadis kecil itu bisa bermain bersama Dorian dan pengasuhnya.
"Paman! Aku sangat merindukan Paman!" Khania memeluk erat Ray.
"Paman juga merindukanmu, Khania. Ayo duduk!"
Ray menceritakan berkas-berkas yang ia temukan termasuk soal kecelakaan yang dialami oleh orang tuanya. Khania tak percaya jika pria yang adalah suaminya merupakan orang yang selama ini dicari oleh Ray.
"Butuh waktu untuk memahami ini semua, Nak. Maka dari itu, tinggalah di tempatku. Dan kau akan mendapatkan semua jawabannya," usul Ray.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Agnes?" tanya Khania sambil menatap putrinya yang sedang bermain.
Ray tersenyum. "Dia adalah putrimu. Kau yang berhak menentukan apa yang terbaik untuknya."
Khania tahu setelah ini dirinya akan menghadapi hal yang lebih besar dan berbahaya. Ditambah, Khania mendapat info dari Ray jika Jay alias Josh sudah mendapatkan kembali ingatannya. Tentu saja Khania harus waspada, apalagi tentang Agnes.
#
#
#
Khania akhirnya tinggal bersama Ray, dan Agnes ia titipkan pada Randy. Khania percaya jika Randy bisa menjaga Agnes dengan baik. Apalagi Randy sebentar lagi akan menikah dengan Brenda, kekasihnya.
Randy dan Brenda akan menjadi orang tua untuk Agnes jika terjadi sesuatu dengan Khania.
"Jangan bicara sembarangan, Khania. Kau pasti akan baik-baik saja." Randy menepuk bahu Khania.
"Terima kasih, Randy. Malam ini aku harus melakukan tugas yang cukup berat. Yaitu membalaskan dendam kedua orang tuaku."
Khania berpamitan pada Randy dan menuju ke rumah sakit jiwa dimana Zelia dirawat. Dengan menyamar sebagai perawat, Khania berhasil masuk dan menuju ke kamar milik Jay.
Khania melihat pria itu terlihat lemah tak berdaya. Ternyata Zelia meminumkan banyak obat pada Jay hingga orang itu seperti orang linglung dan bisa dikendalikan.
"Sayang... Maafkan aku..." Khania menangis di sisi Jay saat sebuah suntikan masuk melalui jarum infus yang terpasang di tangan Jay.
"Sebelum kau menghabisiku, maka aku yang akan menghabisimu lebih dulu. Kau sudah membunuh kedua orang tuaku, dan kau juga ingin membunuhku? Jangan mimpi, Josh! Kau harus kembali ke mimpi lamamu..."
Tubuh Josh mengejang. Tak lama setelahnya, Josh menggelepar. Seorang perawat asli memergoki aksi Khania.
Dengan cepat, Khania langsung bergegas pergi dari rumah sakit itu.
"Sialan! Kenapa tiba-tiba ada orang yang datang?" Khania mengatur napasnya. Setidaknya kini dirinya aman. Ia harus bersembunyi setelah ini.
#
#
#
Anggota ISS melakukan tindak kejahatan terhadap warga sipil. Begitulah tajuk berita yang muncul akhir-akhir ini.
Kematian Josh menjadi pukulan tersendiri bagi Zelia. Perempuan paruh baya itu bertekad ingin menghabisi Khania dengan tangannya sendiri.
Keberadaan Khania sendiri kini tidak diketahui. Khania bersembunyi dengan apik di apartemen milik Ray yang tak terpakai. Apartemen yang dulu ditempatinya bersama Khayla.
Karena bosan, Khania menjelajah tempat kecil milik Ray itu. Gak sengaja Khania melihat sebuah lembaran foto yang isinya adalah gambar dirinya dan sang ibu.
"Ini kan... Foto ini diambil saat usiaku sekitar lima tahunan. Kenapa aku tidak ingat kalau pernah berfoto dengan Ibu?"
Ketika Ray kembali ke apartemen, Khania memberanikan diri untuk bertanya pada pria itu.
"Kau sangat lucu, Khania. Dan ibumu juga sangat cantik di foto ini. Masih ada beberapa foto lagi yang kusimpan. Kau mau lihat?"
Khania mengangguk setuju. Ray menunjukkan banyak foto Khania dan Khayla di masa lalu.
"Paman, kenapa paman banyak menyimpan foto ibu dan aku? Foto ini bahkan aku tidak pernah melihatnya di rumah Ayahku."
Ray tersenyum. "Itulah Khayla. Dia selalu penuh dengan kejutan."
"Maksud Paman?"
"Sudahlah jangan dipikirkan! Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur."
Khania mengamati foto itu satu persatu. Aneh, pikirnya. Foto-foto itu hanya merekam dirinya dan sang ibu saja. Dimana sosok ayahnya atau...
"Paman, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kebiasaanku dan ibu adalah foto bersama Ayah. Tapi di foto-foto ini... Tidak ada sosok pria. Lalu, dimana sosok pria itu? Atau mungkin... Itu adalah Paman? Siapa yang memotret kami? Apakah Paman?"
Ray tersenyum. "Kau akan tahu suatu saat nanti."
#
__ADS_1
#
#
Malam itu, Ray berencana memberitahu Khania tentang fakta yang selama ini ia simpan. Mereka bertemu di sebuah resto.
Khania duduk berhadapan dengan Ray. Khania yang kini menjadi buronan merasa was-was, takut jika ada warga yang mengenalinya dan melapor pada polisi.
"Tenanglah, disini kau aman!" ucap Ray yang tahu kekhawatiran Khania.
"Agnes juga baik-baik saja bersama Randy. Kau jangan cemas!"
Khania mengangguk. "Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan fatal."
"Tidak, Nak. Kau hanya menjalankan peranmu sebagai seorang anak."
Ray menyodorkan sebuah amplop kearah Khania.
"Apa ini, Paman?"
"Bukalah saat aku sudah tiada, Khania."
"Eh? Maksud Paman?"
"Semua pertanyaan yang kau tanyakan, jawabannya ada disana. Tapi, kau harus menunggu hingga aku mati lebih dulu."
Khania menggeleng.
"Pergilah! Zelia akan datang sebentar lagi! Cepat!"
"Eh?"
Khania bingung. Namun Ray sudah bisa membaca situasi. Ada satu orang di resto itu adalah orang suruhan Zelia yang siap mengeksekusi Khania.
"Cepat pergi!" Ray menarik paksa Khania agar pergi keluar resto.
Ray menghubungi Dorian agar menjemput mereka di resto. Ternyata perkiraan Ray meleset. Zelia memang sangatlah licik, sejak dulu hingga sekarang.
Tiba di luar resto, Ray celingukan mencari keberadaan Dorian.
"Paman, katakan ada apa sebenarnya?"
Khania ikut celingukan mencari tahu apa yang terjadi. Hingga satu orang keluar dari resto dan mengarahkan senjata api ke arah Khania.
"Argh!" Khania mengaduh kesakitan karena peluru menembus dada sebelah kirinya.
Melihat Khania terkena tembakan, Ray segera menembak pria itu hingga ambruk.
"Khania!" pekik Ray ketika melihat tubuh Khania yang hampir terjatuh.
"Pa...man..." lirih Khania.
"Tidak, kau harus bertahan. Aku akan panggil ambulans!"
Khania menggeleng. "Tidak perlu, Paman."
Mata Khania mulai mengabur. Pandangannya tak lagi jelas.
"Khania bertahanlah! Khania!" Ray menangis meraung-raung memeluk tubuh Khania.
Dorian yang datang segera menarik tubuh Ray agar menjauhi tubuh Khania.
"Ayo, Ray! Kita harus segera pergi dari sini!"
"Tidak! Khania! Aku belum sempat memberitahunya yang sebenarnya!"
"ISS akan segera datang! Kau akan terkena masalah jika mereka melihatmu ada disini!"
Dorian menarik terus tubuh Ray meski pria itu berontak.
"Maafkan aku, Khania. Maaf aku belum sempat memberitahumu jika aku adalah ayahmu..."
Tak lama setelah kepergian Ray dan Dorian, pihak ISS yang diwakili oleh Randy tiba di lokasi. Randy syok melihat tubuh Khania yang terbujur kaku.
"Khania..." Randy memeluk jasad wanita yang selalu dikaguminya itu. Dalam tangisan Randy hanya bisa memeluk tubuh Khania ketika nyawanya tak lagi pada raga.
__ADS_1
...T A M A T...