
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Keesokan paginya, Khay bangun lebih pagi meskipun hari ini
adalah hari libur. Ia juga tidak ada janji apapun dengan Rakha. Biasanya
pasangan kekasih selalu pergi berjalan-jalan bukan di hari libur? Mungkin Khay
tidak mengerti akan hal itu. Berulang kali Rakha ternyata menghubunginya, namun
tidak pernah ia angkat.
Khay berdiri di depan pintu kamar Ray dan sedikit menggedor
pintunya. Perlu beberapa kali menggedor karena Ray tak juga membukakan pintu
untuknya. Hingga akhirnya, Ray membuka pintu dengan wajah mengantuknya.
“Astaga, Khay! Kau ini selalu mengganggu tidurku saja. Ini
hari libur, Khay. Bisakah aku tidur lebih lama dari biasanya?” gerutu Ray
dengan mengacak rambutnya.
“Kita ini detektif, Ray. Tidak ada hari libur bagi para pengabdi masyarakat
seperti kita. Cepatlah mandi! Aku akan membeli sarapan dulu. Jika nanti saat
aku kembali kau belum juga selesai mandi… kau akan terima akibatnya!”
Khay berlalu dari kamar Ray dengan santainya.
“Ya ampun, kau ini lebih mirip ibu tiri daripada partner
kerjaku, Khay… Hoooaaam! Aku masih sangat mengantuk. Memangnya ada apa sih?
Kenapa dia memintaku bangun sepagi ini?”
Sepuluh menit kemudian, Khay sudah duduk santai di sofa
kamar Ray. Ray terlihat baru saja selesai mandi.
“Cih, kau ini mandi lama sekali! Memangnya apa yang kau
bersihkan sampai mandi selama itu?” sungut Khay.
Ray memutar bola matanya malas. “Kau ini memang gadis bar-bar. Tidak ada cantik-cantiknya
sekalipun.” Lirih Ray namun masih bisa didengar oleh Khay.
“Bicara apa kau tadi?” Tanya Khay dengan menatap tajam Ray.
“Tidak ada. Ayo sarapan!” Ray mengalihkan pembicaraan dan
langsung duduk bersama Khay.
__ADS_1
Selesai sarapan, Khay mengajak Ray keluar dari apartemen.
Ray mengambil mobilnya di tempat parkir apartemen sedangkan Khay menunggu di
lobi sambil melihat keadaan sekitarnya.
“Hmm, aman-aman saja. Mereka tidak datang lagi. Ada apa ya?”
gumam Khay.
Tiiiinnn Tiiiiinnnn! Suara klakson mobil Ray.
Khay segera masuk kedalam mobil, kemudian Ray melajukan
mobil dengan kecepatan sedang.
“Mobil baru ya? Aku tidak pernah lihat mobilmu yang ini?”
Tanya Khay sambil melihat interior dalam mobil.
“Begitulah, ayahku yang mengirimnya beberapa hari lalu. Kau
sangat sibuk sampai kau tidak memperhatikan sekitar.”
“Maaf. Aku sibuk bekerja, Ray.”
“Hmm, aku tahu. Lalu, kita mau kemana?”
Khay memberikan secarik kertas pada Ray. Ray mengernyitkan
dahi.
jalan pemuda.” Ucap Ray dengan lantang.
“Oke! Menuju ke jalan
pemuda. Jalan lurus ke depan lalu belok kanan setelah 500 meter.” Sebuah
suara keluar dari pengeras suara mobil.
Khay cukup tercengang. “Wow! Apa sekarang semua mobil punya
alat canggih seperti ini?”
Ray hanya mengedikkan bahunya. Dan tetap fokus menyetir
sesuai arahan Alena.
///
///
///
Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di sebuah tempat yang
bertuliskan ‘Scarlet Tattoo’. Khay turun dari mobil dan melihat sekeliling
tempat itu.
__ADS_1
Tempat itu terlihat sepi dan bagian dalam ruangannya pun
gelap. Khay dan Ray masuk dengan hati-hati.
Ray sempat menahan tangan Khay sebelum mereka masuk.
“Sebenarnya mau apa kita kemari, Khay?”
“Diamlah! Nanti kau juga tahu.”
Khay tetap melangkah masuk dan disambut oleh seorang pria
yang memiliki tato di hampir seluruh bagian tubuhnya.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” Tanya orang ber rambut
gondrong itu.
Meski penampilannya sedikit menakutkan, tapi ternyata orang
itu bersikap ramah.
“Umm, saya ingin bertemu dengan pemilik tempat ini. Apakah
bisa?” Tanya Khay.
“Ada keperluan apa menemui bos saya? Jika nona ingin di
tato, maka saya yang akan mengerjakannya.” Jawab pria itu lagi.
“Bukan, saya tidak ingin di tato. Saya hanya ingin
menanyakan sesuatu.” Khay menunjukkan foto di dalam ponselnya.
Pria itu sedikit mengernyit heran. “Hmm, baiklah. Saya akan
sampaikan lebih dulu pada bos saya. Kalian silahkan tunggu disini.”
Khay mengangguk paham dan duduk di sofa yang telah
disediakan disana. Ray hanya terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Seakan
ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Beberapa menit kemudian, pria itu kembali menemui Ray dan
Khay. Khay langsung berdiri begitu pria itu menghampirinya. Khay menunggu
jawaban dari pria itu.
“Bagaimana?” Tanya Khay tidak sabar.
“Silahkan masuk, nona. Bos mempersilahkan anda untuk masuk.”
Mata Khay berbinar dan segera mengikuti kemana langkah pria
itu mengarahkannya. Sedangkan Ray, masih mematung di tempatnya duduk tadi.
#Bersambung…
__ADS_1