RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 027


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave


Like and Comments. Thank You.


*Happy Reading*


Keesokan paginya, Khay bangun lebih pagi meskipun hari ini


adalah hari libur. Ia juga tidak ada janji apapun dengan Rakha. Biasanya


pasangan kekasih selalu pergi berjalan-jalan bukan di hari libur? Mungkin Khay


tidak mengerti akan hal itu. Berulang kali Rakha ternyata menghubunginya, namun


tidak pernah ia angkat.


Khay berdiri di depan pintu kamar Ray dan sedikit menggedor


pintunya. Perlu beberapa kali menggedor karena Ray tak juga membukakan pintu


untuknya. Hingga akhirnya, Ray membuka pintu dengan wajah mengantuknya.


“Astaga, Khay! Kau ini selalu mengganggu tidurku saja. Ini


hari libur, Khay. Bisakah aku tidur lebih lama dari biasanya?” gerutu Ray


dengan mengacak rambutnya.


“Kita ini detektif, Ray. Tidak ada  hari libur bagi para pengabdi masyarakat


seperti kita. Cepatlah mandi! Aku akan membeli sarapan dulu. Jika nanti saat


aku kembali kau belum juga selesai mandi… kau akan terima akibatnya!”


Khay berlalu dari kamar Ray dengan santainya.


“Ya ampun, kau ini lebih mirip ibu tiri daripada partner


kerjaku, Khay… Hoooaaam! Aku masih sangat mengantuk. Memangnya ada apa sih?


Kenapa dia memintaku bangun sepagi ini?”


Sepuluh menit kemudian, Khay sudah duduk santai di sofa


kamar Ray. Ray terlihat baru saja selesai mandi.


“Cih, kau ini mandi lama sekali! Memangnya apa yang kau


bersihkan sampai mandi selama itu?” sungut Khay.


Ray memutar bola matanya malas. “Kau ini memang  gadis bar-bar. Tidak ada cantik-cantiknya


sekalipun.” Lirih Ray namun masih bisa didengar oleh Khay.


“Bicara apa kau tadi?” Tanya Khay dengan menatap tajam Ray.


“Tidak ada. Ayo sarapan!” Ray mengalihkan pembicaraan dan


langsung duduk bersama Khay.

__ADS_1


Selesai sarapan, Khay mengajak Ray keluar dari apartemen.


Ray mengambil mobilnya di tempat parkir apartemen sedangkan Khay menunggu di


lobi sambil melihat keadaan sekitarnya.


“Hmm, aman-aman saja. Mereka tidak datang lagi. Ada apa ya?”


gumam Khay.


Tiiiinnn Tiiiiinnnn! Suara klakson mobil Ray.


Khay segera masuk kedalam mobil, kemudian Ray melajukan


mobil dengan kecepatan sedang.


“Mobil baru ya? Aku tidak pernah lihat mobilmu yang ini?”


Tanya Khay sambil melihat interior dalam mobil.


“Begitulah, ayahku yang mengirimnya beberapa hari lalu. Kau


sangat sibuk sampai kau tidak memperhatikan sekitar.”


“Maaf. Aku sibuk bekerja, Ray.”


“Hmm, aku tahu. Lalu, kita mau kemana?”


Khay memberikan secarik kertas pada Ray. Ray mengernyitkan


dahi.


jalan pemuda.” Ucap Ray dengan lantang.


“Oke! Menuju ke jalan


pemuda. Jalan lurus ke depan lalu belok kanan setelah 500 meter.” Sebuah


suara keluar dari pengeras suara mobil.


Khay cukup tercengang. “Wow! Apa sekarang semua mobil punya


alat canggih seperti ini?”


Ray hanya mengedikkan bahunya. Dan tetap fokus menyetir


sesuai arahan Alena.


///


///


///


Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di sebuah tempat yang


bertuliskan ‘Scarlet Tattoo’. Khay turun dari mobil dan melihat sekeliling


tempat itu.

__ADS_1


Tempat itu terlihat sepi dan bagian dalam ruangannya pun


gelap. Khay dan Ray masuk dengan hati-hati.


Ray sempat menahan tangan Khay sebelum mereka masuk.


“Sebenarnya mau apa kita kemari, Khay?”


“Diamlah! Nanti kau juga tahu.”


Khay tetap melangkah masuk dan disambut oleh seorang pria


yang memiliki tato di hampir seluruh bagian tubuhnya.


“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” Tanya orang ber rambut


gondrong itu.


Meski penampilannya sedikit menakutkan, tapi ternyata orang


itu bersikap ramah.


“Umm, saya ingin bertemu dengan pemilik tempat ini. Apakah


bisa?” Tanya Khay.


“Ada keperluan apa menemui bos saya? Jika nona ingin di


tato, maka saya yang akan mengerjakannya.” Jawab pria itu lagi.


“Bukan, saya tidak ingin di tato. Saya hanya ingin


menanyakan sesuatu.” Khay menunjukkan foto di dalam ponselnya.


Pria itu sedikit mengernyit heran. “Hmm, baiklah. Saya akan


sampaikan lebih dulu pada bos saya. Kalian silahkan tunggu disini.”


Khay mengangguk paham dan duduk di sofa yang telah


disediakan disana. Ray hanya terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Seakan


ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


Beberapa menit kemudian, pria itu kembali menemui Ray dan


Khay. Khay langsung berdiri begitu pria itu menghampirinya. Khay menunggu


jawaban dari pria itu.


“Bagaimana?” Tanya Khay tidak sabar.


“Silahkan masuk, nona. Bos mempersilahkan anda untuk masuk.”


Mata Khay berbinar dan segera mengikuti kemana langkah pria


itu mengarahkannya. Sedangkan Ray, masih mematung di tempatnya duduk tadi.


#Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2